JAKARTA – Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah, banyak negara mulai menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun Indonesia justru mengambil langkah berbeda, harga BBM tetap stabil per 1 April 2026.
Kebijakan ini tidak terjadi begitu saja. Stabilitas harga tersebut dinilai sebagai hasil dari strategi manajemen energi yang dikawal langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melalui penguatan stok nasional, pengelolaan rantai pasok, serta mitigasi risiko dari gejolak pasar global.
Konflik di Timur Tengah membuat harga minyak mentah dunia melonjak hingga di atas US$100 per barel. Kondisi ini mendorong banyak negara melakukan penyesuaian harga energi untuk menutup lonjakan biaya impor minyak.
Namun Indonesia memilih menahan harga BBM. Pemerintah memastikan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM pada 1 April, baik untuk jenis subsidi maupun non-subsidi utama. Kebijakan ini disebut sebagai langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam tekanan inflasi di dalam negeri.
Langkah tersebut mencerminkan ketepatan manajemen energi nasional yang dilakukan pemerintah di bawah koordinasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Di saat beberapa negara mulai menaikkan harga BBM untuk menyesuaikan dengan pasar internasional, Indonesia justru mempertahankan harga agar tetap terjangkau.
“Stabilitas harga BBM bukanlah keputusan spontan. Pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipatif jauh sebelumnya, termasuk menjaga kecukupan pasokan nasional dan memastikan rantai distribusi energi tetap efisien. Dengan pendekatan ini, Indonesia mampu menyerap tekanan harga minyak global tanpa langsung membebankannya kepada masyarakat,” ujarnya di sela-sela kunjungan kerja dengan Presiden Prabowo Subianto di Jepang, Selasa (31/3)
Efektivitas kebijakan tersebut terlihat dari perbandingan harga BBM di kawasan Asia Tenggara. Data Global Petrol Prices yang dirangkum oleh Databoks menunjukkan bahwa harga bensin di Indonesia berada di kisaran sekitar Rp12.390 per liter, jauh di bawah rata-rata harga global yang mencapai sekitar Rp 23.823 per liter.
Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, selisihnya bahkan semakin terlihat. Singapura kini mematok harga sekitar Rp 43.000 per liter, Laos Rp30.000 per liter, Thailand Rp 27.000 per liter, Filipina Rp 26.000 per liter, Vietnam Rp 15.900 per liter, dan Indonesia sekitar Rp 12.390 per liter. Data tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan harga BBM paling murah di kawasan ASEAN.
Keberhasilan menjaga harga BBM tetap stabil menjadi indikator penting dari efektivitas kepemimpinan energi nasional.
Melalui kebijakan yang terukur—mulai dari pengelolaan stok, penguatan distribusi, hingga pengendalian risiko global—Bahlil dinilai berhasil menjaga ketahanan energi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian pasar energi dunia.
Ketika banyak negara harus menyesuaikan harga BBM akibat tekanan global, Indonesia justru mampu menunjukkan stabilitas. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebijakan energi yang tepat tidak hanya menjaga pasokan, tetapi juga memastikan harga tetap terjangkau bagi rakyat.