JAKARTA – Gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon menjadi duka mendalam bagi Indonesia sekaligus perhatian dunia internasional. Pengorbanan mereka menjadi simbol dedikasi Pasukan Garuda yang selama ini berada di garis depan menjaga stabilitas global.
Ketiga prajurit tersebut merupakan bagian dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), misi penjaga perdamaian PBB yang bertugas memantau gencatan senjata dan menjaga stabilitas di wilayah perbatasan Lebanon dan Israel.
Namun eskalasi konflik di kawasan tersebut membuat situasi keamanan semakin berbahaya. Dalam dua insiden berbeda dalam kurun waktu sekitar 24 jam, tiga prajurit TNI gugur dan lima lainnya mengalami luka-luka akibat serangan di wilayah Lebanon selatan.
Insiden yang menimpa pasukan perdamaian ini langsung mendapat perhatian dari PBB. Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Hingga saat ini, UNIFIL masih melakukan investigasi untuk memastikan kronologi lengkap serta pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan tersebut, TNI memberikan kenaikan pangkat luar biasa operasi militer selain perang anumerta kepada tiga prajurit yang gugur. Mereka terdiri dari Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ikhwan, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon.
Selain kenaikan pangkat, ketiganya juga dianugerahi Medal Dag Hammarskjöld, penghargaan dari PBB bagi personel penjaga perdamaian yang gugur saat menjalankan tugas.
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan bahwa negara memberikan penghargaan penuh atas pengorbanan para prajurit tersebut.
“Ketiga prajurit yang gugur mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa operasi militer selain perang anumerta, penghargaan Medal Dag Hammarskjöld,” ujar Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dalam keterangan pers resmi yang diterima redaksi inversi.id, Rabu (1/4). Pemerintah Indonesia bersama PBB juga memastikan perlindungan bagi keluarga para prajurit yang gugur.
Menurut Panglima TNI, keluarga masing-masing prajurit akan menerima santunan yang nilainya mendekati Rp2 miliar. Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar menerima sekitar Rp 1.894.688.236, lalu Sertu Muhammad Nur Ikhwan Rp 1.846.309.049, dan Praka Farizal Rhomadhon mendapat Rp 1.854.075.205.
Selain santunan tersebut, keluarga juga mendapatkan gaji terusan selama 12 bulan, yang terdiri dari gaji pokok, tunjangan jabatan, dan tunjangan lainnya, serta hak pensiun bagi istri prajurit.
“Keluarga juga menerima gaji terusan selama 12 bulan yang terdiri dari gaji pokok, ULP, dan tunjangan jabatan serta pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan,” jelas Agus.
Tidak hanya itu, anak-anak para prajurit juga akan mendapatkan beasiswa pendidikan, sebagai bentuk komitmen negara untuk memastikan masa depan keluarga yang ditinggalkan.
Sejak lama Indonesia dikenal sebagai salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB. Pasukan Garuda telah dikirim ke berbagai wilayah konflik dunia untuk menjalankan misi kemanusiaan dan menjaga stabilitas global.
Gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon menjadi pengingat bahwa tugas menjaga perdamaian dunia sering kali harus dibayar dengan pengorbanan besar.
Meski duka menyelimuti, dedikasi mereka kini menjadi bagian dari sejarah panjang kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian internasional—sebuah bukti bahwa Pasukan Garuda selalu siap berdiri di garis depan demi kemanusiaan dan perdamaian dunia.