Halo Inversi! Dunia teknologi nggak lagi jadi urusan orang kota besar aja. Buktinya, dua pelajar keren dari MIN 2 Kota Sawahlunto, Muhammad Arya Pratama dan Zhafira Zefanza, siap bikin bangga daerah dengan melangkah ke Grand Final Kompetisi Robotik Madrasah Tingkat Nasional (KRMTN) 2025.
Keduanya bakal berangkat ke Bogor untuk berlaga di kelas Mobile Robot Labirin pada 31 Oktober sampai 1 November 2025 nanti. Mereka membawa semangat dan nama besar Kota Sawahlunto sekaligus mewakili Provinsi Sumatera Barat di ajang bergengsi yang mempertemukan para inovator muda dari seluruh Indonesia.
Sebelum keberangkatan, Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, menerima langsung audiensi Arya dan Zhafira di Balaikota. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh semangat muda. Wali Kota nggak cuma memberi dukungan moral, tapi juga menyampaikan apresiasi besar atas semangat dan prestasi dua pelajar madrasah ini.
“Prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak Sawahlunto mampu bersaing di tingkat nasional. Pemerintah Kota akan terus mendorong pengembangan minat dan bakat generasi muda, terutama di bidang teknologi dan inovasi digital,” ujar Wali Kota Riyanda dengan bangga.
Ucapan itu bukan sekadar formalitas. Pemerintah Kota Sawahlunto memang lagi serius mendukung pendidikan berbasis teknologi. Lewat berbagai program pembinaan dan kolaborasi dengan sekolah-sekolah, Pemkot berupaya mencetak generasi yang adaptif dan kreatif menghadapi era digital.
Bagi Arya dan Zhafira, kesempatan ini jadi bukti nyata bahwa belajar teknologi dari madrasah bukan hal mustahil. Mereka berhasil menembus babak nasional setelah melewati tahap seleksi ketat di tingkat provinsi. Robot buatan mereka dirancang dengan konsep “smart navigation”, sistem yang memungkinkan robot mengenali jalur labirin secara otomatis hasil riset kecil yang mereka kembangkan di sekolah.
Zhafira mengaku awalnya sempat gugup bersaing dengan tim-tim dari sekolah besar, tapi semangatnya tumbuh karena dukungan guru dan teman-teman di MIN 2 Sawahlunto.
“Kami cuma ingin nunjukin kalau anak madrasah juga bisa jago teknologi. Yang penting niat belajar dan berani mencoba,” katanya dengan senyum percaya diri.
Sementara itu, Arya bercerita kalau mereka sering menghabiskan waktu sepulang sekolah buat ngulik robot dan memperbaiki sistem sensornya. “Kadang error terus, tapi itu justru seru. Kami belajar sabar dan kerja sama tim,” ujarnya.
Kisah dua pelajar ini jadi inspirasi bahwa semangat dan rasa ingin tahu bisa membuka peluang besar, bahkan dari kota kecil seperti Sawahlunto.
Ajang nasional ini bukan cuma soal kompetisi, tapi juga wadah buat berbagi ide, belajar teknologi baru, dan membangun jejaring dengan pelajar lain dari seluruh Indonesia.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kota dan semangat pantang menyerah, Arya dan Zhafira siap menunjukkan bahwa masa depan inovasi Indonesia juga lahir dari ruang-ruang madrasah.
Karena di era digital ini, yang paling penting bukan di mana kamu belajar tapi seberapa jauh kamu berani bermimpi dan berkreasi.