INVERSI.ID – Cita-cita menjadikan silat Minang sebagai kebanggaan dunia kini bukan sekadar mimpi. Di bawah kepemimpinan Vasko Ruseimy sebagai Ketua Umum IPSI Sumatera Barat, semangat untuk mengangkat silat tradisi dari tanah Minang kembali hidup dan mulai menorehkan hasil nyata.
Vasko percaya bahwa silat Minang bukan hanya warisan budaya yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga simbol karakter dan potensi besar untuk melahirkan atlet berprestasi di kancah dunia. Sejak awal ia dipercaya memimpin IPSI Sumatera Barat, visinya sudah jelas: membangkitkan kembali gairah silat tradisional Minang di tanah kelahirannya, serta membawa para pesilat muda Sumatera Barat untuk menorehkan prestasi di level internasional.
Keyakinan itu tak hanya berhenti di arena olahraga. Sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko turut membawa semangat yang sama ke dalam kebijakan publik. Ia mendorong lahirnya kebijakan “Silat Tradisi Minang sebagai Ekstrakurikuler Wajib” untuk seluruh SMA, SMK, dan sekolah sederajat di Sumatera Barat.
“Kita ingin anak-anak Sumbar kembali mengenal akar budayanya. Silat bukan hanya tentang bela diri, tapi tentang karakter, etika, dan kebanggaan sebagai orang Minang,” ujarnya.
Kebijakan ini bukan sekadar program tambahan sekolah, tetapi langkah strategis untuk mengembalikan silat ke posisi semestinya — sebagai bagian dari jati diri masyarakat Minangkabau.
Dari Gelanggang Lokal ke Ajang Dunia: Kisah Furgon Habil Winata
Semangat membangkitkan silat Minang kini menjelma nyata dalam sosok muda bernama Furgon Habil Winata. Siswa SMA Negeri 1 Lubuk Basung ini berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang Asian Youth Games Bahrain 2025, setelah meraih medali emas yang menggetarkan kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.
Perjalanan Habil tidak terjadi dalam semalam. Dari gelanggang kecil di Lubuk Basung, langkahnya kini menembus panggung internasional. Dalam tiga bulan terakhir saja, Habil sukses mengoleksi empat medali emas beruntun: dari Kejurda Sumbar, Kejurnas Remaja, Asian Silat Competition di India, hingga kemenangan besarnya di Bahrain.
Setiap medali yang ia raih bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga cerminan keberhasilan sistem pembinaan atlet muda di Sumatera Barat yang mulai berjalan efektif.
“Habil membuktikan, kalau dibina dengan serius, anak-anak kita bisa bersaing di level dunia. Ini awal dari kebangkitan Silat Sumatera Barat,” tegas Vasko Ruseimy.
Pencapaian Habil menunjukkan bahwa regenerasi pesilat Minang bukan sekadar nostalgia masa lalu, tetapi bukti bahwa tradisi bisa hidup berdampingan dengan prestasi modern. Habil menjadi simbol dari semangat baru yang lahir dari keringat, dedikasi, dan cinta terhadap budaya sendiri.
Lebih dari itu, kisah Habil juga menegaskan bahwa silat bukan hanya tentang adu teknik di gelanggang. Ia adalah perjalanan tentang disiplin, kesabaran, dan kepercayaan diri. Dua tahun lalu, Habil hanyalah remaja biasa yang berlatih di sanggar kecil. Kini, namanya disebut bersamaan dengan bendera Merah Putih yang berkibar di ajang olahraga dunia.
Silat Sebagai Diplomasi Budaya dan Cermin Karakter Anak Bangsa
Bagi Vasko, pencak silat lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah alat diplomasi budaya yang bisa memperkenalkan Indonesia ke dunia lewat kekuatan tradisi dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
“Silat harus menembus batas tradisi dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Kita ingin silek Minang menjadi soft power Ranah Minang yang diperhitungkan di kancah internasional,” ujarnya.
Silat Minang, atau yang dikenal sebagai silek, memang memiliki filosofi yang dalam. Setiap gerakannya adalah simbol harmoni antara pikiran, tubuh, dan jiwa. Dalam budaya Minangkabau, silek bukan hanya seni bela diri untuk bertarung, tetapi juga sarana untuk membentuk pribadi yang santun, rendah hati, dan bijak dalam menghadapi tantangan hidup.
Vasko percaya, Sumatera Barat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan mengembangkan warisan besar ini.
“Sumatera Barat adalah tanah kelahiran pencak silat. Mari gaungkan kembali nama silat Ranah Minang di Indonesia bahkan dunia,” katanya dengan penuh keyakinan.
Dengan menjadikan silat sebagai ekstrakurikuler wajib di sekolah, generasi muda tidak hanya diajak untuk melatih fisik, tetapi juga mental. Mereka belajar disiplin, menghormati lawan, dan memahami filosofi hidup yang diajarkan dalam setiap jurus. Ini adalah nilai-nilai yang dibutuhkan di tengah tantangan global saat ini.
Lebih jauh, gerakan ini membuka jalan bagi silat untuk menjadi bagian dari diplomasi olahraga Indonesia. Ketika silat Minang tampil di ajang internasional, dunia tidak hanya melihat bela diri, tetapi juga mengenal budaya, sejarah, dan karakter bangsa.
Mimpi yang Kini Menjadi Kenyataan
Cita-cita menjadikan silat Sumatera Barat mendunia kini bukan lagi angan. Ia telah menjadi kenyataan yang lahir dari kerja keras, kolaborasi, dan kecintaan pada warisan budaya sendiri.
Komitmen Vasko Ruseimy memperlihatkan bahwa pengembangan pencak silat di Sumatera Barat bukan hanya berfokus pada perolehan medali, tetapi juga pada pembentukan karakter, pelestarian nilai budaya, dan pembangunan diplomasi olahraga di tingkat global.
Dengan langkah-langkah nyata seperti pembinaan atlet muda, penerapan kebijakan pendidikan berbasis budaya, serta promosi internasional yang konsisten, Sumatera Barat kini sedang menulis babak baru dalam sejarah silat Indonesia.
Dan di setiap langkah para pesilat muda yang berlatih di gelanggang tanah Minang, tersimpan keyakinan yang sama: bahwa silek bukan sekadar jurus bertahan atau menyerang, melainkan cara untuk menjaga martabat, menyalakan semangat, dan memperkenalkan jati diri bangsa ke mata dunia.