INVERSI.ID – Kehidupan digital kini jadi bagian dari napas anak muda. Bangun tidur yang pertama dicari bukan kopi, tapi notifikasi TikTok, Instagram, atau X. Tapi di balik keseruan dunia maya yang penuh warna itu, ada ancaman yang diam-diam merusak dari dalam: fenomena “brain rot” atau pembusukan otak digital. Istilah ini bukan sekadar tren di medsos, tapi fakta yang mulai diamati para ahli, termasuk Pratiwi Kristin, PhD student Applied Cognitive Neuroscience dari Tokyo.
“Itu sebenarnya literally tidak benar-benar busuk otak, tapi penurunan kognisi kita gara-gara kebiasaan kita selalu mengonsumsi konten-konten instan,” jelas Pratiwi dalam program Indonesia Leaders Talk (ILT), Jumat (24/10/2025).
Kata Pratiwi, otak manusia kini dipaksa bekerja terlalu cepat, tapi tanpa proses berpikir mendalam.
“Pernah tidak lihat TikTok? Lihat swipe-swipe-swipe, itu otak jadi overload, bikin lemah,” ungkapnya.
Ia menyebut kebiasaan ini membuat otak kehilangan fungsi utamanya: memahami dan mengolah informasi.
“Sekarang attention span kita berkurang, kemampuan kita memahami sesuatu juga semakin berkurang. Memahami satu kalimat aja sudah sulit sekarang. Memahami guru berbicara juga jadi sulit,” tambahnya.
Ketika Otak Belum Siap Menanggung Beban Dunia Digital
Dari perspektif neuroscience, Pratiwi menjelaskan bahwa otak manusia berkembang perlahan sejak kecil hingga dewasa. Umumnya, puncak perkembangan otak terjadi di usia 25 tahun, namun riset terbaru bahkan menyebutkan bisa mundur hingga usia 30 tahun.
“Anak remaja ini otaknya masih belum sempurna. Ingat tidak waktu zaman remaja betapa susahnya dikasih tahu? Karena bagian otak depan yang namanya prefrontal cortex bagian otak yang berfokus kepada berpikir kritis, berpikir rasional itu sedang berkembang,” paparnya.
Masalahnya, di usia remaja yang seharusnya fokus pada pembentukan nalar dan karakter, mereka justru digempur banjir informasi dari media sosial.
“Otak ketika digempur berbagai macam informasi, otak kita bisa kelelahan. Akhirnya bisa memunculkan rasa stres, kita jadi kelelahan, jadi burnout juga,” kata Pratiwi.
Kelelahan otak ini bukan cuma soal fisik. Secara biologis, otak memproses tekanan digital seperti stres nyata. Akibatnya, anak muda bisa kehilangan motivasi, sulit fokus, bahkan merasakan gejala mirip depresi tanpa menyadarinya.
Lebih jauh, Pratiwi juga menjelaskan bagaimana media sosial memicu rasa iri dan rendah diri melalui mekanisme otak.
“Dalam neuroscience terkait masalah membandingkan ini, kenapa kita jadi sebegitunya terpicu? Karena ada yang namanya social comparison process. Kalau di area otak itu ada yang namanya insula, ada yang namanya anterior cingulate cortex. Ini aktif saat kita melihat orang lain itu tampak lebih baik, tampak lebih ganteng,” jelasnya.
Menurutnya, sinyal yang diterima otak ketika melihat kesuksesan orang lain di media sosial mirip dengan ancaman sosial.
“Ini bikin sakit secara emosional, mirip-mirip rasa sakit fisik. Jadi ketika orang bilang, ‘Ih, aku sakit nih aku lihat orang kayak gitu,’ itu bukan perumpamaan. Itu sebenarnya respon biologis kita,” tegasnya.
Jika dulu perbandingan sosial terbatas pada lingkaran kecil teman sekolah, tetangga, atau keluarga kini ruangnya meluas tanpa batas.
“Sebelum era media sosial, perbandingan itu kan terbatas pada lingkar kecil kita. Sekarang ruang perbandingan melebar luar biasa. Otak kita lelah untuk melihat itu semua. Kita yang tinggal di kota kecil bisa melihat kehidupan di Tokyo,” ungkapnya.
Dopamin, Neuroplastisitas, dan Pentingnya Melatih Otak
Dari sisi neurologis, Pratiwi menjelaskan kenapa banyak orang sulit lepas dari media sosial. Setiap kali mendapat notifikasi, komentar, atau like, otak melepaskan dopamin hormon yang memicu rasa senang.
“Ada rasa puas ketika kita melihat atau mendapat pengakuan di media sosial. Ini juga punya dasar biologisnya. Ada yang namanya nucleus accumbens yang melepaskan dopamin hormon kepuasan. Ketika kita dapat like atau perhatian, itu memberi sensasi senang. Tapi sayangnya sifatnya sementara,” ujarnya.
Masalahnya, otak akhirnya belajar bahwa sumber kebahagiaan datang dari luar, bukan dari diri sendiri.
“Semakin kita sering mencari, semakin otak itu menganggap itu kebutuhan utama. Ini bahayanya kalau anak-anak muda kita sekarang terlalu cepat untuk memanfaatkan media sosial ini dia mendapatkan kesenangan luar biasa untuk itu, dia jadi melupakan dirinya, melupakan kesadaran dirinya,” jelas Pratiwi.
Fenomena ini bisa mengganggu kemampuan berpikir kritis. Menurut Pratiwi, berpikir kritis bukan bakat, tapi hasil latihan.
“Orang yang bisa berpikir kritis itu bukan bakat, tapi dia melatih dirinya untuk terus bisa berpikir kritis. Maka otak pun juga mengenali pola tersebut,” ujarnya.
Ia mencontohkan sosok Rocky Gerung yang terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
“Kalau seperti senior kita ini, Pak Rocky, dengan begitu cadasnya, bernasnya dalam melihat berbagai macam persoalan, melihat dari helicopter view, itu semua kan karena selalu dilatih dari zaman dulu sampai sekarang untuk melihat segala sesuatunya menjadi lebih kritis,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan konsep neuroplastisitas kemampuan otak beradaptasi terhadap pengalaman baru.
“Otak kita ini punya yang namanya sifat neuroplastisitas. Jadi setiap kita melakukan interaksi, kita melakukan sesuatu, otak kita ini akan terus beradaptasi. Otak kita ini punya yang namanya jalur-jalur saraf. Ketika jalur saraf ini dibentuk, kita belajar hal yang baru,” jelasnya.
Kalau seseorang hanya punya niat tanpa aksi, jalur saraf itu tidak terbentuk dengan kuat.
“Kalau seseorang hanya punya niat olahraga tanpa melakukannya, jalur sarafnya masih tipis. Maka kita harus menebalkan jalur saraf kita agar polanya itu kemudian dikenali oleh otak,” tambahnya.
Dengan kata lain, otak kita adalah hasil dari kebiasaan kita sendiri. Jika tiap hari disuapi konten instan tanpa refleksi, maka otak pun terbiasa berpikir dangkal. Sebaliknya, kalau dilatih membaca, menulis, berdiskusi, atau belajar hal baru, jalur saraf yang terbentuk akan memperkuat kemampuan berpikir kritis dan konsentrasi.
Pendidikan dan Tantangan Neurogenerasi
Pratiwi juga menyoroti sistem pendidikan Indonesia yang belum memanfaatkan temuan neuroscience secara optimal.
“Problemnya guru-guru kita ini mungkin belum banyak yang memang punya kemampuan untuk melatih kognisi. Jadi banyak sekadar transfer ilmu saja, mengajar begitu,” kritiknya.
Ia menegaskan pentingnya metode mengajar yang sesuai dengan cara kerja otak.
“Ketika kita berkomunikasi, kita ingin melakukan persuasi misalnya ke anak didik, itu ada tekniknya. Bagaimana kita membangun kurikulum berdasarkan cara kerja otak misalnya, itu juga menjadi salah satu yang perlu kita pertimbangkan sekarang,” ujarnya.
Pratiwi juga mempertanyakan beberapa kebijakan pendidikan yang tidak berbasis riset otak.
“Sekarang ini, idol kita bikin kurikulum baru harus belajar coding di usia muda. Apakah cocok belajar coding di usia-usia yang masih kecil misalnya begitu? Itu harus ada kajian-kajiannya juga. Harus bangun pagi jam 5.00 ke sekolah. Apakah cocok berdasarkan dengan cara kerja otak yang saya harapkan?” katanya.
Menurutnya, kebijakan seperti itu bisa kontraproduktif jika tidak mempertimbangkan perkembangan biologis anak. Otak yang masih berkembang tidak bisa dipaksa bekerja seperti orang dewasa. Tekanan berlebihan justru bisa memunculkan stres dan menghambat perkembangan mental.
Pratiwi juga sepakat dengan Rocky Gerung bahwa komunikasi publik yang tidak jelas bisa memicu “brain drain” atau hilangnya potensi karena frustrasi dan ketidakpastian.
“Karena komunikasi publik dari pemerintah ini tidak bisa memberikan kepastian secara psikologis. Itu saya sepakat untuk itu,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa otak manusia punya dua reaksi utama terhadap ancaman fight atau flight.
“Otak manusia kan ada respons flight, ada fight. Beberapa dari kita punya respons tersendiri itu ketika kita menemukan ancaman ketidakpastian: ada yang pengin fight, ada yang pengin lari aja—akhirnya banyak brain drain,” jelasnya.
Melatih Otak dan Menjaga Diri di Era Digital
Dalam pesannya untuk anak muda, Pratiwi menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap diri sendiri.
“Kita harus bisa melatih otak kita agar kita bisa keluar dari masa-masa ansietik. Jangan kita menyalahkan hanya dengan keadaan kita aja. Jangan hanya menyalahkan hanya kepada pemerintah, tapi kita juga harus punya daya juang kita juga,” ujarnya.
Ia menutup dengan kalimat yang reflektif sekaligus penuh optimisme.
“Otak itu bukan dibuat untuk berlomba, tapi untuk belajar. Dan ketika kita belajar memilih apa yang kita lihat, kita juga belajar menjaga diri kita. Karena otak akan beradaptasi untuk itu.”
Menurut Pratiwi, manusia telah dibekali kemampuan luar biasa oleh Tuhan.
“Manusia itu sudah dibekali Tuhan kemampuan yang luar biasa. Tinggal gimana kita bisa mengoptimalkan dan mensyukurinya menjadi diri kita yang terbaik,” pungkasnya.
Pesan sederhana tapi kuat: otak manusia adalah cermin dari kebiasaannya. Di era serba instan ini, mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak dari scroll tanpa arah, lalu mulai melatih otak untuk berpikir lebih dalam, lebih kritis, dan lebih sadar akan diri sendiri.