INVERSI.ID – Pemerintah memastikan stabilitas harga pangan selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah tetap terjaga. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi potensi lonjakan harga sejak jauh hari sebelum Ramadhan.
“Sesuai arahan Bapak Presiden sejak sebelum Ramadhan harga pangan tidak boleh naik berlebihan. Ini yang kami jaga,” kata Amran dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sembilan komoditas strategis yang sudah dalam kondisi swasembada, yakni beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, jagung, minyak goreng, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
“Kami sudah minta, semua harus mengeluarkan stoknya. Jangan sampai harga naik. Kalau ada yang menaikkan, aku cabut izinnya,” ujar Amran.
Selain menjaga ketersediaan stok, pemerintah juga menggencarkan berbagai program intervensi untuk menekan harga di pasaran. Program tersebut meliputi distribusi beras melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah, hingga penyaluran bantuan beras dan minyak goreng kepada 32,3 juta keluarga penerima manfaat.
Data Bapanas mencatat, hingga 19 Maret, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai 42,3 ribu ton. Sementara itu, target distribusi SPHP sepanjang 2026 ditetapkan sebesar 828 ribu ton, dengan alokasi anggaran sekitar Rp4,97 triliun setelah melalui berbagai evaluasi.
Di sisi lain, pelaksanaan GPM sepanjang Maret telah digelar sebanyak 789 kali di 24 provinsi dan 153 kabupaten/kota. Program ini juga diperluas dengan menghadirkan GPM khusus yang menyediakan daging ayam beku berkualitas premium dengan harga sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP).
Program GPM khusus tersebut tersedia di lebih dari 1.200 outlet yang tersebar di 17 provinsi dan akan berlangsung hingga sehari menjelang Idul Fitri. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Bapanas dengan sejumlah perusahaan pangan nasional.
Tak hanya itu, pemerintah juga menggandeng BUMN untuk menghadirkan GPM khusus daging sapi dan kerbau dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.
Sementara itu, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memastikan pemerintah telah bekerja maksimal untuk menjaga stabilitas harga pangan selama Ramadhan 2026.
Kepala Negara juga memberikan apresiasi terhadap upaya kolektif tersebut.
“Dengan (adanya) perang (Timur Tengah), (kemungkinan) harga pangan bisa naik. Tapi saya mau tanya, ini bulan Ramadhan harga pangan (di dalam negeri) terkendali atau tidak? I think we are doing a good job,” jawab Presiden saat menanggapi Najwa Shihab dalam tayangan video ‘Presiden Prabowo Menjawab !!!’.
Presiden menegaskan bahwa sektor pangan merupakan kebutuhan dasar yang harus dijaga ketersediaannya secara mandiri oleh bangsa Indonesia. Menurutnya, ketahanan pangan menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga kedaulatan negara.
“Pertama itu kan pangan, makan. It’s a basic need. Dan disitu saya lihat, common denominator, masalah yang asasi, selalu adalah pangan. Jadi itu yang mempengaruhi saya, sehingga saya lihat kalau kita ingin merdeka, kita harus jamin sumber pangan,” ujar RI-1.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyebut bahwa gagasan swasembada pangan yang ia dorong terinspirasi dari pemikiran Presiden pertama RI, Soekarno, yang sejak awal menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional.
“Itu juga yang disampaikan oleh Bung Karno kan. Bung Karno begitu dia mimpin Indonesia baru merdeka, yang dia urus sebetulnya ya pangan, (dan) pertanian. Dia yang bikin IPB (Institut Pertanian Bogor). Dia yang selalu ngomong, the hungry stomach cannot wait,” kata Presiden Prabowo.