JAKARTA – Indonesia menyimpan salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia, dengan potensi mencapai 23.742 megawatt (MW). Namun hingga saat ini, pemanfaatannya baru berada di kisaran sekitar 10 persen, menandakan ruang pertumbuhan yang sangat besar bagi pengembangan energi bersih nasional.
Di tengah tantangan transisi energi dan kebutuhan pasokan listrik yang stabil, kehadiran pemain global seperti Ormat Technologies, Inc. menjadi salah satu faktor kunci dalam mengakselerasi pemanfaatan energi panas bumi Indonesia.
Perusahaan asal Amerika Serikat ini kini memperkuat jejaknya di Tanah Air melalui PT Ormat Geothermal Indonesia, yang baru-baru ini memenangkan lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara.
Ormat Technologies, Inc. merupakan perusahaan energi terbarukan berbasis di Nevada, Amerika Serikat, dan terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE: ORA). Sejak berdiri di tahun 2004 dan berkembang sebagai pemain global panas bumi, Ormat membangun reputasi sebagai penyedia teknologi dan pengembang proyek geothermal lintas benua.
Secara global, Ormat mengoperasikan dan memiliki kepentingan di lebih dari 190 pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas terpasang lebih dari 3.200 MW di Amerika, Eropa, Karibia, Afrika, Asia, hingga kawasan Pasifik.
Pengalaman lintas geologi dan pasar ini menjadikan Ormat salah satu referensi global dalam pengembangan geothermal modern, terutama melalui teknologi binary cycle, yang memungkinkan pemanfaatan sumber panas dengan suhu menengah yang sebelumnya sulit dikembangkan secara komersial.
Jejak besar Ormat di Indonesia dimulai melalui keterlibatan dalam Proyek Panas Bumi Sarulla di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Ormat masuk sebagai bagian dari konsorsium pengembang proyek, sekaligus sebagai penyedia teknologi utama.
Peran Ormat tidak hanya sebagai investor, tetapi juga sebagai engineering, procurement, and technology provider, yang membawa teknologi binary cycle untuk mengoptimalkan sumber panas bumi Sarulla yang kompleks secara geologi.
PLTP Sarulla kini dikenal sebagai salah satu proyek panas bumi terbesar di dunia dengan sistem binary cycle, berkapasitas sekitar 330 MW, yang menyuplai listrik ke sistem Sumatera dan memperkuat ketahanan energi regional.
Terbaru, melalui PT Ormat Geothermal Indonesia, yang memenangkan lelang WKP Telaga Ranu di Halmahera Barat, Maluku Utara, sebagai kawasan yang diproyeksikan menjadi klaster hilirisasi industri dan pertambangan di Indonesia Timur, sehingga membutuhkan pasokan listrik bersih dan andal, maka hal ini sangat tepat. Pengembangan panas bumi di Halmahera diharapkan mendukung agenda pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis fosil sekaligus menurunkan emisi karbon industri.
Teknologi yang dibawa Ormat dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan panas bumi, sehingga nilai ekonomi sumber daya alam dapat dimaksimalkan. Sistem binary cycle memungkinkan pemanfaatan reservoir dengan suhu lebih rendah, memperluas portofolio sumber daya yang dapat dikembangkan secara komersial.
Kehadiran investor global seperti Ormat juga berkontribusi pada penerimaan negara melalui pajak, PNBP, serta penyerapan tenaga kerja lokal. Pemerintah mencatat sektor energi dan sumber daya mineral pada 2025 mencatat realisasi kinerja di atas target APBN, sebesar 108,56%, yang sebagian didorong oleh kinerja subsektor energi baru dan terbarukan.
Dengan potensi 23.742 MW, Indonesia membutuhkan investasi teknologi tinggi dan modal besar, yang tidak sepenuhnya dapat dipenuhi oleh pembiayaan domestik. Kolaborasi dengan pemain global seperti Ormat menjadi salah satu strategi untuk mempercepat realisasi target bauran energi nasional dan komitmen net zero emission.