INVERSI.ID – Siapa bilang penelitian tugas akhir cuma jadi tumpukan laporan di rak kampus? Bagi Ibnu Hafiz Satria, alumnus Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2021, skripsinya justru jadi tiket menuju panggung internasional. Hafiz baru saja mencatat prestasi gemilang dengan menyabet Juara 1 dalam ajang SPE Asia Pacific Student Paper Contest 2025, bagian dari perhelatan bergengsi Asia Pacific Oil and Gas Conference and Exhibition (APOGCE) yang digelar di Jakarta pada 14–16 Oktober 2025.
Ajang ini bukan kompetisi sembarangan. Diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai universitas di kawasan Asia Pasifik, peserta ditantang mempresentasikan hasil riset inovatif yang bisa membawa solusi nyata bagi industri energi. Di tengah ketatnya persaingan, Hafiz berhasil memikat perhatian dewan juri lewat penelitian yang ia presentasikan berjudul “Integrated Approach for Rapid Reservoir Characterization Using Advanced Pickett Plot: A Case Study in P Formation, West Java”.
Dari Skripsi Jadi Solusi Industri
Riset yang Hafiz bawa bukan sekadar kajian akademik, tapi berangkat dari masalah nyata di dunia industri perminyakan. Salah satu tantangan klasik yang sering dihadapi adalah proses karakterisasi reservoir, yaitu tahap penting dalam memahami potensi dan performa cadangan minyak. Biasanya, proses ini dilakukan secara terpisah oleh tiga pihak berbeda: petrofisikawan, geolog, dan reservoir engineer.
“Saya mengusulkan pendekatan terintegrasi yang mampu memberikan gambaran cepat dan menyeluruh untuk mengevaluasi performa reservoir. Metode ini memanfaatkan well log data untuk memprediksi parameter petrofisika sebagai alternatif ketika core data tidak tersedia. Selain itu, analisisnya dikemas dalam bentuk dashboard interaktif berbasis Python, sehingga lebih mudah diinterpretasikan lintas disiplin serta dapat diperbarui dengan cepat untuk sumur lainnya,” jelas Hafiz.
Dengan kata lain, Hafiz mencoba menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi satu sistem analisis terpadu. Hasilnya, karakterisasi reservoir bisa dilakukan lebih efisien, cepat, dan tetap akurat — hal yang sangat dibutuhkan di industri energi yang dinamis.
Menariknya, ide besar itu lahir bukan dari proyek riset besar, tapi dari tugas akhirnya di kampus. Hafiz mengaku sempat bingung menentukan topik penelitian hingga akhirnya mendapat arahan dari dosen pembimbingnya, Dr. Dedy Irawan, S.T., M.T., yang saat itu menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknik Perminyakan ITB.
“Saya awalnya belum tahu akan menulis apa, sampai Dr. Dedy mengusulkan topik ‘Integrated Approach for Reservoir Characterization’. Prosesnya cukup challenging selama dua bulan penuh. Satu setengah bulan untuk mengolah data dan setengah bulan untuk menulis,” kenang Hafiz.
Di tengah padatnya waktu kuliah dan persiapan karier, Hafiz harus berpacu dengan tenggat waktu agar bisa lulus tepat waktu dan menjalani onboarding di Petronas pada Februari 2025.
“Saya akhirnya jadi orang pertama di batch 2021 yang sidang. Itu momen yang sangat luar biasa,” ujarnya sambil tersenyum mengenang perjuangannya.
Dari ITB ke Panggung Dunia
Siapa sangka, penelitian yang awalnya hanya untuk memenuhi syarat kelulusan justru membawanya ke panggung internasional. Hafiz mengikuti seleksi kompetisi tingkat regional yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE), sebuah organisasi global yang menaungi para profesional di industri perminyakan.
Kemenangannya diumumkan langsung di hadapan ratusan profesional dan akademisi dari berbagai negara. Penghargaan diserahkan oleh Prof. Jennifer Miskimins, SPE President 2026 dari Colorado School of Mines, yang juga hadir memberikan inspirasi kepada seluruh peserta.
“Rasanya luar biasa bisa memenangkan kompetisi pertama saya, dan langsung di level internasional. Saya juga ingin membuktikan bahwa selain aktif memimpin organisasi seperti SPE ITB SC, saya tetap punya kapasitas teknis yang kuat,” ungkap Hafiz dengan semangat.
Selama masa kuliah, Hafiz memang dikenal sebagai sosok yang aktif dan inspiratif. Ia pernah menjabat sebagai President SPE ITB Student Chapter periode 2024/2025. Di bawah kepemimpinannya, organisasi tersebut berhasil meraih dua penghargaan bergengsi: Presidential Award for Outstanding Student Chapter dan Regional Outstanding Student Chapter Award.
Bagi Hafiz, keaktifan di organisasi tidak pernah menghambat prestasi akademik. Justru, pengalaman memimpin dan berjejaring menjadi modal penting untuk berpikir strategis dan beradaptasi dengan dunia profesional.
“Society of Petroleum Engineers punya andil besar dalam perjalanan profesional saya. Ke depan, saya ingin terus berkontribusi di komunitas ini dan menjadi bagian dari solusi bagi tantangan energi masa depan,” ucapnya.
Langkah Selanjutnya: Dari Jakarta ke Houston
Prestasi Hafiz di APOGCE 2025 bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Dengan gelar juara ini, ia berhak mewakili kawasan Asia Pasifik dalam ajang bergengsi tingkat dunia, SPE Annual Technical Conference and Exhibition (ATCE) 2026, yang akan berlangsung di Houston, Texas, Amerika Serikat.
“Setelah ini, target saya bukan hanya membawa nama ITB atau Indonesia, tetapi juga mewakili Asia Pasifik di ajang dunia. Mohon doa dan dukungannya,” tutur Hafiz dengan optimistis.
Perjalanan Hafiz mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus besar dan rumit. Kadang, ide yang lahir dari tugas akhir kampus bisa punya dampak besar jika dikerjakan dengan niat, fokus, dan keberanian untuk menembus batas. Di tengah transisi energi global, pendekatan efisien dan berbasis data seperti yang dikembangkan Hafiz bisa jadi salah satu solusi penting untuk industri masa depan.
Kisah ini juga menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia punya potensi besar di kancah internasional. Dengan semangat eksplorasi, disiplin riset, dan dukungan dari lingkungan kampus yang kuat, mereka mampu bersaing dengan mahasiswa dari negara lain dan membawa nama Indonesia ke panggung dunia.
Dalam konteks yang lebih luas, prestasi seperti ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan industri. Banyak perusahaan energi kini mulai melirik hasil riset mahasiswa karena dinilai lebih segar, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja masa kini.
Bagi Hafiz sendiri, kemenangan ini hanyalah langkah awal dari perjalanan panjangnya di dunia energi. Dengan bekal pengalaman di Petronas dan jejaring internasional lewat SPE, ia berharap bisa terus berkarya dan membawa solusi yang relevan untuk menghadapi tantangan transisi energi global.