INVERSI.ID – Institut Kesenian Jakarta (IKJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan dunia seni Indonesia. Tahun ini, kampus seni ternama itu memberikan beasiswa penuh kepada juara umum Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2025 yang berasal dari Jawa Timur. Bukan cuma itu, IKJ juga memberi jalur spesial bagi para juara lain mulai dari juara 1 hingga juara harapan 3 yang bisa masuk tanpa harus mengikuti tes penerimaan.
Langkah ini bukan cuma bentuk apresiasi, tapi juga dorongan besar bagi regenerasi pelaku seni di Indonesia, terutama di kalangan pelajar SMA dan sederajat.
Dalam suasana acara penutupan FLS3N 2025 di Jakarta Barat, Sabtu, aura bangga dan haru terasa kuat. Para finalis yang datang dari berbagai provinsi menunjukkan bahwa dunia seni Indonesia punya masa depan cerah, dan IKJ memilih untuk jadi bagian penting dari perjalanan itu.
Panggung Baru untuk Generasi Muda Seni Indonesia
Saat menyampaikan sambutannya, Syamsul perwakilan dari IKJ mengaku terkesan dengan kualitas peserta FLS3N 2025.
“Para peserta lomba FLS3N ini sungguh luar biasa. Saat saya menyaksikan langsung, bahkan saya sampai lupa kalau mereka masih tingkat SMA dan sederajat,” ujarnya.
FLS3N memang dikenal sebagai ajang yang melahirkan talenta-talenta kreatif dari berbagai daerah. Tidak hanya soal teknik, tapi juga soal keberanian berekspresi, interpretasi, serta kemampuan menghidupkan karya. Syamsul menegaskan bahwa generasi muda yang tampil di FLS3N punya potensi untuk melangkah jauh.
“Kami percaya kalian bisa menjadi pelopor seni yang membanggakan di masa depan,” lanjutnya.
Bagi IKJ, menjadi tuan rumah FLS3N tahun ini adalah kehormatan besar. Kampus yang dikenal melahirkan banyak maestro seni itu berharap penyelenggaraan FLS3N 2025 menjadi fondasi agar event ini bisa kembali digelar di IKJ pada tahun-tahun berikutnya.
“Banyak dewan juri menyampaikan pelaksanaan FLS3N di IKJ adalah the best,” ungkap Syamsul.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kemendikdasmen RI melalui Puspresnas yang telah mempercayakan IKJ sebagai venue utama tahun ini.
“Semoga ke depan bisa terus diadakan di IKJ, tentu kami akan melaksanakan dengan lebih baik lagi,” ucapnya.
Perjalanan Panjang 89 Ribu Peserta Menuju Babak Akhir
FLS3N 2025 bukan event kecil. Menurut Kepala Puspresnas Kemendikdasmen RI, Maria Veronica Irene Herdjiono, total peserta yang ikut dalam proses awal mencapai 89.241 siswa dari 38 provinsi serta sekolah-sekolah Indonesia di luar negeri.
“Setelah dilakukan pentahapan lomba di kabupaten/kota dan provinsi, hanya 855 peserta yang dinyatakan lolos mengikuti FLS3N di fase akhir atau final nasional. Perbandingannya sampai satu peserta harus mengalahkan 104 lawan untuk sampai tahap itu,” jelasnya.
Data itu menunjukkan betapa ketatnya persaingan. Ajang ini bukan sekadar festival, tetapi medan tempur kreativitas yang menguji konsistensi, bakat, dan mental para pesertanya.
Maria Veronica juga menilai kerja sama FLS3N dengan IKJ tahun ini berhasil meningkatkan standar kompetisi secara signifikan.
“Pelaksanaan FLS3N di IKJ sangat bagus, menjadi kesan mendalam bagi para juri dan peserta. Kalau ada testimoni singkat saja dari para Gen Z yang jadi peserta itu, Menyala Abangku,” katanya sambil tertawa.
Kolaborasi dengan IKJ disebut membuka cakrawala baru bagi peserta, karena mereka bisa merasakan atmosfer kampus seni yang selama ini menjadi rumah bagi banyak seniman besar Indonesia.
Cerita dari Panggung FLS3N: Mimpi yang Semakin Dekat
Di balik gemerlap panggung FLS3N, ada ratusan cerita personal dari para pesertanya. Salah satunya datang dari Lovea Finishia Yisyia, pelajar kelas XI dari SMA Negeri 1 Purworejo, Jawa Tengah. Lovea berhasil meraih juara 3 kategori aransemen gitar solo.
“Saya berhasil jadi juara 3 untuk kategori aransemen gitar solo. Senang sekali ikut kegiatan ini karena bisa sekaligus menjadi ajang silaturahmi dengan pelajar dari daerah lain,” ujarnya.
Lovea merasa FLS3N memberi ruang besar bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka tanpa batasan. Dari latihan panjang, malam-malam penuh aransemen, hingga momen panggung yang menentukan semua menjadi pengalaman yang membentuk cara pandang baru terhadap dunia seni.
Ia juga memberikan apresiasi besar kepada IKJ yang memberi kesempatan tambahan berupa beasiswa dan jalur masuk tanpa tes.
“Pemenang juara 1 sampai juara harapan 3 ada hadiah uang pembinaan dan medali. Tapi, ini ada kejutan tambahan hadiah dari IKJ. Semoga bisa dicontoh kampus-kampus lain agar pelajar dari keluarga tidak mampu, tapi berprestasi juga bisa melanjutkan studi tanpa terkendala biaya,” tuturnya.
Kisah seperti Lovea adalah bukti bahwa ajang seperti FLS3N bukan sekadar kompetisi. Ini adalah perjalanan menuju mimpi, batu loncatan bagi masa depan, dan ruang bagi generasi muda untuk menemukan jati diri.
IKJ dan Komitmen Melahirkan Generasi Baru Seniman Indonesia
Melihat antusiasme yang muncul pada FLS3N 2025, IKJ seolah semakin menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan seni di Indonesia. Dengan memberikan beasiswa dan akses khusus bagi pemenang, kampus ini membuka jalan agar talenta-talenta hebat tidak terhambat oleh batasan finansial.
Ini juga menjadi pesan bagi sekolah dan institusi lain bahwa kolaborasi seperti ini bisa menciptakan dampak besar. Di tengah ekosistem seni yang semakin berkembang, dukungan institusional sangat dibutuhkan agar talenta muda mendapat tempat untuk tumbuh.
Langkah IKJ bukan hanya investasi untuk kampus, tetapi juga untuk masa depan seni nasional.