INVERSI.ID – CEO Nvidia, Jensen Huang, mengejutkan publik dengan pandangannya soal pilihan jurusan kuliah di era kecerdasan buatan (AI) yang semakin maju. Ia justru menyarankan anak muda untuk mempertimbangkan jurusan fisika ketimbang teknologi informasi (IT), demi relevansi karier di masa depan. Menurutnya, perkembangan AI modern semakin bergeser ke arah yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang hukum-hukum fisika.
Dalam sebuah wawancara dengan CNBC yang dirilis pada Kamis (17/7), Jensen Huang mengatakan, bila dirinya saat ini masih berusia 22 tahun dan baru lulus SMA, ia akan memilih belajar fisika, bukan perangkat lunak.
“Untuk Jensen yang masih muda, dia mungkin akan lebih memilih ilmu fisika daripada ilmu perangkat lunak,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi bahan diskusi hangat, sebab datang dari sosok yang selama puluhan tahun membangun karier di bidang teknologi komputer dan software. Jensen Huang melihat masa depan AI bukan lagi hanya soal coding dan perangkat lunak, tetapi lebih ke integrasi AI dengan dunia nyata melalui robotika fisik.
Alasan Jensen Huang Menyarankan Jurusan Fisika
Menurut Huang, dunia teknologi sudah memasuki fase baru dalam evolusi kecerdasan buatan. Setelah era Perception AI (AI untuk persepsi, misalnya pengenalan gambar dan suara) dan Generative AI (AI yang mampu menghasilkan teks, gambar, hingga video), saat ini kita memasuki era Reasoning AI, yaitu AI yang bisa memahami konteks, memecahkan masalah, dan menemukan pola yang bahkan belum pernah diajarkan sebelumnya.
Namun ke depan, Huang memprediksi bahwa Physical AI akan menjadi kunci. Physical AI adalah kecerdasan buatan yang ditanamkan pada objek fisik untuk menciptakan perilaku mirip manusia, mulai dari memahami gesekan, kelembaman, hukum sebab-akibat, hingga kemampuan untuk berinteraksi dengan lingkungan nyata.
“Ketika Anda mengambil AI fisik dan memasukkannya ke dalam objek fisik yang disebut robot, maka Anda akan mendapatkan robotika,” jelas Huang.
Menurutnya, bidang ini hanya bisa dikuasai bila seseorang memiliki pemahaman yang kuat tentang fisika, mekanika, dan dinamika sistem.
Robotika: Solusi untuk Krisis Tenaga Kerja
Sebagai pemimpin Nvidia perusahaan produsen chip grafis dan AI dengan kapitalisasi pasar lebih dari US\$4 triliun Huang melihat robotika sebagai jawaban atas salah satu tantangan besar dunia saat ini: krisis tenaga kerja. Di banyak negara, pertumbuhan populasi produktif melambat, sementara kebutuhan industri tetap tinggi.
Dalam pandangan Huang, pabrik-pabrik di masa depan akan sangat bergantung pada robotika fisik untuk menjalankan operasional dengan efisiensi tinggi. Teknologi ini tidak hanya membantu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memungkinkan industri tetap berjalan bahkan ketika jumlah pekerja manusia terbatas.
“Sepuluh tahun ke depan, pabrik-pabrik baru akan lebih banyak dioperasikan oleh robot cerdas yang bisa bekerja layaknya manusia,” katanya.
Peluang Karier di Era Physical AI
Pandangan Huang memberi sinyal kepada generasi muda untuk mulai memikirkan arah karier yang lebih visioner. Pilihan jurusan kuliah seperti fisika, teknik mesin, teknik elektro, atau mekatronika akan menjadi sangat relevan seiring meningkatnya permintaan akan tenaga ahli di bidang Physical AI dan robotika.
Meskipun ilmu komputer tetap penting, namun menurut Huang, kemampuan memadukan ilmu komputer dengan pemahaman fisika akan menjadi kombinasi yang unggul. Generasi mendatang diharapkan tidak hanya mampu menulis algoritma, tetapi juga merancang sistem fisik yang berfungsi optimal di dunia nyata.
Fenomena Baru di Dunia Pendidikan
Pernyataan Huang ini juga mencerminkan tren baru dalam dunia pendidikan tinggi global. Banyak universitas kini membuka program interdisipliner yang menggabungkan ilmu komputer, kecerdasan buatan, dan fisika terapan. Hal ini menjawab tantangan perkembangan teknologi yang semakin multidimensi.
Sebagai generasi muda, memilih jurusan kuliah sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren sesaat, tetapi juga mempertimbangkan prospek jangka panjang. Pernyataan Huang bisa dijadikan bahan refleksi untuk lebih memahami kebutuhan dunia kerja masa depan yang semakin kompleks.
Perkembangan teknologi AI yang pesat memang membuka banyak peluang karier baru. Namun, seperti dikatakan Jensen Huang, masa depan AI tidak hanya soal software dan coding, tetapi juga soal bagaimana AI bisa bekerja secara nyata melalui robotika yang memahami hukum-hukum fisika. Karena itu, bagi anak muda yang ingin tetap relevan di era teknologi mendatang, mempertimbangkan jurusan fisika bisa jadi langkah cerdas.
Sebagai CEO Nvidia dengan kekayaan lebih dari US\$148,1 miliar, Huang bukan hanya sekadar berbicara, tetapi juga memberi contoh visi masa depan yang realistis. Dengan memahami arah perkembangan teknologi global, generasi muda bisa lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.