Inversi Kebun Raya Bali kembali menegaskan perannya sebagai kawasan konservasi terpadu melalui kegiatan eksplorasi biodiversitas flora dan fauna yang berfokus pada pengamatan kunang-kunang.
Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan komunitas konservasi Nusantara Wilderness sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman publik terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alami. Selain pengamatan kunang-kunang, eksplorasi ini juga mencakup kegiatan herping (pengamatan amfibi dan reptil), pengamatan burung, serta inventarisasi flora yang terdapat di kawasan Kebun Raya Bali.
Eksplorasi biodiversitas tersebut bertujuan untuk memperkenalkan kunang-kunang sebagai indikator bioekologis yang mencerminkan kualitas lingkungan. Keberadaan dan aktivitas kunang-kunang diketahui sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat, seperti kualitas udara yang baik, tingkat pencemaran cahaya yang rendah, serta ketersediaan vegetasi alami yang memadai.
Oleh karena itu, pengamatan terhadap spesies ini menjadi salah satu cara ilmiah untuk menilai kesehatan suatu ekosistem. Kegiatan ini didampingi langsung oleh Hadhiyyah N. Cahyono selaku East Deputy of Horticulture Kebun Raya Wilayah Timur.
Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa fungsi kebun raya tidak hanya terbatas pada konservasi tumbuhan, tetapi juga sebagai habitat penting bagi berbagai jenis satwa liar. Menurutnya, keberlangsungan hidup fauna sangat bergantung pada kelestarian vegetasi dan kualitas lingkungan di sekitarnya.
“Kebun Raya Bali merupakan ruang konservasi hidup. Ketika lingkungannya terjaga dengan baik, maka satwa seperti kunang-kunang, amfibi, dan reptil akan tetap memiliki habitat yang aman untuk berlindung dan berkembang biak,” ujar Hadhiyyah.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan Nusantara Wilderness, Bella Evanglista, menyampaikan bahwa kegiatan eksplorasi ini dirancang untuk mengajak peserta memahami ekosistem secara menyeluruh, bukan sekadar mengamati keberadaan satwa. Menurutnya, pemahaman ekosistem harus mencakup keterkaitan antara flora, fauna, dan kondisi lingkungan yang saling mendukung satu sama lain.
“Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pengamatan satwa, tetapi juga memberikan pemahaman tentang bagaimana lingkungan bekerja menjaga keseimbangan alam. Kebun Raya Bali memiliki peran strategis dalam perlindungan habitat dan pelestarian keanekaragaman hayati,” jelas Bella.
Eksplorasi biodiversitas ini diikuti oleh lebih dari 40 peserta yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Kegiatan dilaksanakan pada pukul 16.00 hingga 21.00 WITA, bertepatan dengan zona krepuskular, yaitu waktu peralihan dari siang menuju malam. Periode ini dikenal sebagai waktu paling aktif bagi kunang-kunang untuk beraktivitas, sehingga ideal untuk kegiatan pengamatan.
Selama eksplorasi, peserta menyusuri beberapa kawasan utama di Kebun Raya Bali, di antaranya Lake View, Giant Tree, kawasan Hutan Tropis, hingga Taman Tematik Panca Yadnya. Sepanjang jalur tersebut, peserta mengamati beragam kelompok fauna malam, termasuk kunang-kunang dari genus Lamprigera spp. dan Abscondita spp., berbagai jenis amfibi, reptil, arachnida, serta aves.
Selain fauna, peserta juga melakukan pengamatan terhadap vegetasi penting seperti Ficusspp., Bischofia javanica, Cyathea spp., dan Liquidambar excelsa yang berperan dalam menjaga struktur dan kestabilan ekosistem.
Direktur Pengelola Kebun Raya Bali, Marga Anggrianto, menyampaikan harapannya agar kegiatan eksplorasi biodiversitas semacam ini dapat terus dikembangkan di masa mendatang. Menurutnya, kolaborasi antara pengelola kawasan konservasi, komunitas, dan masyarakat umum sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif terhadap isu pelestarian lingkungan.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang melibatkan lebih banyak kolaborator, komunitas, dan masyarakat. Upaya konservasi tidak hanya berhenti pada perlindungan kawasan, tetapi juga harus menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem,” ungkapnya.
Di kawasan Taman Tematik Panca Yadnya dan Lake View, peserta menemukan aktivitas kunang-kunang dalam jumlah yang cukup melimpah, yang didominasi oleh genus Lamprigera spp. dan Abscondita spp.
Kondisi mikroklimat di kawasan tersebut dinilai sangat mendukung kehidupan kunang-kunang, ditandai dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi, suhu yang relatif sejuk, sirkulasi udara yang baik, serta rendahnya intensitas cahaya buatan pada malam hari.
Kondisi lingkungan tersebut menciptakan habitat optimal bagi kunang-kunang untuk beraktivitas dan berkembang biak. Keberadaan dan intensitas cahaya alami yang dihasilkan kunang-kunang menjadi indikator bahwa kualitas udara, vegetasi, dan lingkungan di Kebun Raya Bali masih terjaga dengan baik. Dengan demikian, kunang-kunang dapat berfungsi sebagai penanda bioekologis dari ekosistem yang relatif sehat dan stabil.
Melalui kegiatan eksplorasi ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. Keberadaan kunang-kunang yang masih melimpah tidak hanya menjadi daya tarik wisata edukatif, tetapi juga pengingat bahwa kelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara berkelanjutan.