INVERSI.ID – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia di sektor teknologi dengan menyiapkan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai talenta digital lokal. Langkah ini dilakukan agar setiap daerah memiliki tenaga terampil yang mampu membangun, memperbaiki, dan merawat jaringan telekomunikasi secara mandiri.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan jaringan fiber optik yang digelar bagi siswa SMK di Kota Medan, Sumatera Utara. Program ini tidak hanya bertujuan mendukung perluasan akses internet nasional, tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi generasi muda di berbagai wilayah Indonesia.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pemerintah ingin menciptakan tenaga kerja lokal yang dapat menangani kebutuhan infrastruktur digital di daerah masing-masing tanpa harus bergantung pada tenaga ahli dari luar daerah.
“Ke depan kita punya konsep bahwa jaringan-jaringan fiber optik di berbagai daerah tidak perlu lagi dikirim tenaga kerjanya dari Jawa atau dari daerah lain,” kata Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam acara Pelatihan Jaringan Fiber Optik bagi siswa di SMK Multi Karya, Medan, Sumatera Utara, Sabtu.
Menurut Meutya, hadirnya talenta digital lokal berpotensi menciptakan lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi digital di daerah. Kebutuhan tenaga profesional di sektor telekomunikasi diperkirakan akan terus meningkat seiring tingginya penggunaan internet di Indonesia.
Ia mengungkapkan rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sekitar delapan jam per hari untuk mengakses internet. Dari total sekitar 230 juta pengguna internet di Tanah Air, mayoritas berasal dari kalangan generasi muda.
“Anak-anak mudalah yang paling banyak memanfaatkan teknologi ini. Karena itu, kita berharap mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pihak yang merawat infrastruktur yang mendukung konektivitas tersebut,” tegasnya.
Meutya menegaskan pemerintah berkomitmen memperluas konektivitas digital hingga menjangkau daerah-daerah yang masih memiliki keterbatasan akses internet. Seiring bertambahnya jaringan yang dibangun, kebutuhan tenaga kerja yang mampu melakukan instalasi, perawatan, dan perbaikan infrastruktur telekomunikasi juga akan semakin besar.
“Jaringan-jaringan itu selalu memerlukan perhatian. Kalau sudah cukup lama digunakan, pasti memerlukan sentuhan tangan manusia, perbaikan, dan perawatan secara berkala,” tuturnya.
Program pelatihan fiber optik ini merupakan bagian dari strategi Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital (DJID) Kemkomdigi dalam mendukung percepatan pembangunan jaringan fixed broadband nasional.
Pemerintah menargetkan tingkat penetrasi layanan fixed broadband mencapai 50 persen dari total populasi Indonesia pada periode 2025 hingga 2029. Saat ini, angka penetrasi layanan tersebut masih berada di kisaran 25 persen.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemkomdigi, Wayan Toni Supriyanto, menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan infrastruktur digital tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan perangkat dan jaringan, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mendukungnya.
“Penggelaran infrastruktur digital tidak hanya soal perangkat dan kabel, tetapi juga sumber daya manusia. Karena itu kami melihat pelatihan seperti ini penting untuk menyiapkan tenaga-tenaga terampil yang nantinya dapat mendukung pembangunan dan pemeliharaan jaringan di daerah masing-masing,” jelasnya.
Wayan menambahkan perkembangan industri telekomunikasi saat ini semakin mengarah pada pemanfaatan teknologi fiber optik. Kondisi tersebut membuka peluang bisnis sekaligus lapangan kerja baru yang dapat dimanfaatkan generasi muda.
“Ini membuat peluang bisnis dan juga peluang usaha menjadi partner-partner bagi ribuan penyelenggara telekomunikasi yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Pelatihan yang diselenggarakan di Medan tersebut diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari 20 siswa SMK Multi Karya Medan dan 20 siswa SMK Negeri 4 Medan. Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai instalasi jaringan, teknik penyambungan atau splicing, pengujian kualitas jaringan, hingga proses pemeliharaan fiber optik sesuai standar industri telekomunikasi modern.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan vokasi, Kemkomdigi juga menyerahkan perangkat praktik instalasi fiber optik kepada SMK Multi Karya Medan dan SMK Negeri 4 Medan. Peralatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran siswa.
Selain mengikuti pelatihan secara langsung, para peserta juga memperoleh akses ke platform Learning Management System (LMS) yang disiapkan Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital. Fasilitas ini memungkinkan siswa untuk terus meningkatkan kompetensi dan memperdalam keterampilan mereka secara mandiri setelah pelatihan berakhir.
Program ini menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan teknis untuk mendukung pembangunan infrastruktur digital Indonesia di masa depan.