Halo sobat Inversi.id, baca dulu nih, brother and sister! Ada kisah super inspiring yang bakal bikin kamu auto merinding dan full semangat! Jangan pernah remehkan kekuatan mimpi, semangat belajar, dan support keluarga, apalagi kalau itu dateng dari hati yang tulus!
Hari ini, kita bakal spill detail tentang Ahmad Fatur Rohman (20), seorang mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), yang punya cerita hidup luar biasa. Dia berasal dari keluarga petani di Desa Karanganyar, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, tapi sukses nge-smash stigma dan keterbatasan!
Di tengah fenomena tingginya angka putus sekolah di Indonesia (lebih dari 4 juta anak!), kisah Fatur ini jadi oase yang menyegarkan. Ini bukti kalau keterbatasan ekonomi dan stigma budaya nggak bisa ngehalangin kalau ada kemauan dan perjuangan.
Vibe-nya itu lho, bikin kita semua jadi ikutan semangat! Penasaran gimana Fatur bisa sekeren ini dan apa goals dia ke depan? Yuk, kita bedah tuntas!
Membongkar Stigma: Pendidikan Harus Diperjuangkan!
a. Latar Belakang Keluarga: Simple Tapi Penuh Makna!
Brother and Sister, mari kita kenalan lebih dekat sama latar belakang Fatur. Ayahnya adalah seorang petani lulusan SD dengan lahan yang nggak luas. Hasil panen pun nggak dijual, melainkan disimpan buat persediaan pangan setahun ke depan.
Sementara itu, ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang cuma bisa sekolah sampai jenjang MTs (SMP). Ini adalah gambaran keluarga sederhana, yang di mata sebagian orang mungkin nggak terlalu “bergengsi”.
Tapi, justru dari sinilah nilai-nilai kehidupan yang kuat tumbuh. Keluarga Fatur ini ngasih contoh tentang kesederhanaan, kerja keras, dan keberanian buat bertahan. Ini reminder buat kita semua, kalau latar belakang itu bukan penentu akhir, yang penting adalah semangat dan mindset yang kita punya!
b. Stigma “Perempuan Cukup di Dapur” & “Petani Lagi”: Lawan dengan Bukti!
Yang bikin hati miris itu lho, di lingkungan tempat Fatur tumbuh, stigma pendidikan masih ngakar kuat. Ibunya Fatur, yang dikenal cerdas dan hobi banget membaca, harus ngubur potensinya karena stigma “perempuan cukup di dapur saja”.
Dan buat anak laki-laki kayak Fatur, ada juga suara-suara yang bilang, “Sekolah untuk formalitas saja. Jadi, nanti lulus sekolah yaudah nanti kerjanya jadi petani lagi gitu ya. Biar terpenuhi kewajibannya aja gitu,” jelas Fatur.
Denger itu Bro and Sister?! Stigma kayak gini yang sering ngejegal mimpi banyak anak muda. Tapi Fatur nggak goyah. Dia justru melihat ini sebagai tantangan buat membuktikan bahwa pendidikan itu penting dan bisa ngubah nasib! Ini baru namanya mental juara!
Ibu: Guru Pertama & Sumber Inspirasi Tak Terhingga!
a. Dari Rumah Langsung SD: Ibu Adalah Pustaka Berjalan!
Brother and Sister, di balik kecerdasan Fatur, ada sosok ibu yang luar biasa! Kondisi terbatas itu nggak bikin Fatur kehilangan semangat belajar. Justru, dia melihat bagaimana keterbatasan kedua orang tuanya dalam pendidikan, Fatur merasa bahwa dirinya yang kini dapet kesempatan, harus memanfaatkannya sebaik mungkin.
“Orangtua aku tetap kayak percaya bahwa walaupun lingkungan sekitar ngomong kayak gitu, tapi percaya bahwa emang pendidikan itu harus diperjuangkan,” ungkap Fatur.
Yang keren lagi, Fatur nggak nempuh pendidikan taman kanak-kanak kayak anak-anak lain. Dia langsung masuk SD karena udah lebih dulu diajarin membaca, menulis, dan berhitung sama sang ibu!
“Ibu aku tuh suka baca kan. Buku-buku apapun tuh sama ibu aku dibaca dan kayak kebawa gitu kan. Kalau aku lagi jalan terus ngeliat spanduk atau apa dibaca gitu,” kenang Fatur.
Ini bukti kalau ibu adalah guru pertama dan terbaik! Lingkungan rumah yang mendukung belajar, meskipun sederhana, bisa ngasih impact yang luar biasa.
b. Kecerdasan Warisan Ibu: Motivasi buat Belajar!
Fatur kerap disebut pintar sama orang-orang di sekitarnya, dan banyak yang nganggep kecerdasannya itu menurun dari sang ibu. Denger pujian kayak gini, Fatur justru makin terdorong dan yakin buat belajar. Ini adalah energi positif yang nggak ternilai harganya.
Dukungan dan pengakuan dari lingkungan sekitar itu bisa jadi bahan bakar buat kita buat terus maju. Kisah Fatur dan ibunya ini ngasih pesan: pendidikan itu nggak cuma soal sekolah formal, tapi juga soal lingkungan belajar di rumah dan support dari keluarga.
Ketika orang tua percaya sama potensi anaknya, dikasih motivasi, dan ngajarin dari hati, pasti hasilnya bakal luar biasa!
Perjalanan Pendidikan yang Gokil: Dari KIP, OSN, Hingga Tarnus!
a. KIP & Perjuangan Ayah: Setengah Jam ke Sekolah Demi Ilmu!
Brother and Sister, perjalanan Fatur buat ngakses pendidikan itu nggak mudah, tapi penuh perjuangan yang bikin kita auto salut! Awalnya, Fatur dapet bantuan pendidikan dari pemerintah berupa Kartu Indonesia Pintar (KIP) sejak duduk di bangku SD. Ini adalah langkah awal yang ngebantu Fatur buat terus sekolah.
Pas SMP, Fatur mutusin buat sekolah di sekolah negeri kota Probolinggo, meskipun jaraknya cukup jauh dari rumah. Bayangin, butuh waktu sekitar setengah jam buat pergi ke sekolah.
Dan yang paling bikin terharu, ayah Fatur senantiasa nganter dia setiap hari ke kota sambil nyari rumput buat pakan ternak di sela-sela waktunya.
Baca gaa itu bro and sis?! Pengorbanan ayah yang nggak ada batasnya! Ini bukti kalau cinta orang tua itu nggak ada matinya, mereka rela berkorban apa pun demi pendidikan anaknya.
b. OSN: Jalan Pembuka Menuju SMA Taruna Nusantara!
Fatur ini dari SD udah terbiasa ikut berbagai lomba akademik. “Pas SD itu aku sudah dibimbing gitu sama guru aku buat ikut lomba biasanya lomba IPA,” jelas mahasiswa ITB yang kini sudah semester 4 itu. Selama di SMP, Fatur aktif ngikutin Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang IPA dan berhasil meraih medali perak!
Prestasi dan kegiatannya tersebut jadi jalan pembuka bagi langkahnya menuju SMA Taruna Nusantara, sebuah sekolah swasta berasrama yang bergengsi!
“Ada alumni dari SMA Taman Nusantara yang sedang di Probolinggo dan mengajak gitu, menyebarkan kalau SMA Taman Nusantara lagi buka pendaftaran untuk beasiswa buat jalur OSN.”
“Sehingga, aku coba daftar dan Alhamdulillah keterima,” jelasnya. Gila, kan?! OSN bukan cuma soal lomba, tapi jadi tiket emas buat akses pendidikan yang lebih baik. Ini bukti kalau prestasi itu bisa ngebuka banyak pintu!
Konsisten Berprestasi Hingga ke ITB: Bekerja Sambil Kuliah!
a. SNBP & Beasiswa Tanoto: Totalitas Meringankan Beban Orang Tua!
Brother and Sister, kiprah Fatur nggak berhenti di SMP! Dia kembali nge-gas dalam ajang OSN saat duduk di bangku SMA. Bagi Fatur, OSN itu bukan sekadar perlombaan, tapi jalan yang membukakan banyak kesempatan.
“Setelah mendaftar di SMA Taman Nusantara itu aku pakai sertifikat OSN, jadi aku ngerasa aku harus tetap OSN, siapa tahu nanti untuk dari SMA ke kuliahnya itu mempermudah lagi kayak yang sekarang gitu, siapa tahu privilege-nya ada lagi gitu,” ungkapnya.
Konsistensi yang dia bangun sejak dulu akhirnya mengantarkannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP)!
Di ITB, Fatur tetap berupaya buat meringankan beban orang tuanya. Dia ngajukan KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) dan mendaftarkan diri di Beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.
Ini bukti kalau Fatur ini mandiri dan bertanggung jawab banget! Dia nggak cuma ngejar impiannya sendiri, tapi juga mikirin gimana caranya nggak ngebebanin orang tua. Salut banget!
b. Jadi Penjaga Asrama & Pengajar OSN: Otak Encer, Mental Baja!
Nggak cuma ngandelin beasiswa, Bro and Sister! Fatur juga ngaku dirinya bekerja sebagai penjaga asrama ITB demi dapetin tempat tinggal gratis di tanah perantauan.
“Itu bisa gratis selama satu tahun gitu, jadi aku tahun pertama karena belum tahu gitu dan masih maba, daftar bayar pas itu. Terus tahun kedua kemarin aku jadi pengurus asrama itu jadi gratis, terus tahun ketiga daftar lagi dan Alhamdulillah keterima,” ucap Fatur.
Dan buat nyukupi biaya hidup lainnya, Fatur manfaatin uang saku KIP Kuliah dan juga bekerja sebagai pengajar bimbingan OSN Fisika untuk jenjang SMA. Gila, kan?! Ini anak punya otak encer, mental baja, dan semangat juang yang luar biasa!
Dia nggak malu buat bekerja keras, dan justru ngegunain skill-nya buat nge-hasilin uang tambahan. Ini adalah contoh nyata kemandirian yang patut dicontoh.
Visi Jauh ke Depan: S3 & Berdampak untuk Kampung Halaman!
a. Tekad Lanjut S3: Support Penuh dari Orang Tua!
Brother and Sister, meskipun udah berhasil nembus salah satu kampus terbaik di Indonesia, Fatur belum ingin berhenti! Dia punya tekad buat terus melanjutkan pendidikan hingga S3!
Saat ini, dia nargetin program fast track di ITB biar bisa langsung lanjut S2 cuma dengan tambahan satu tahun studi. Kalau memungkinkan, Fatur juga niat lanjut studi S3 di luar negeri dengan beasiswa.
Yang keren lagi, orang tuanya ngedukung penuh! “Orangtua aku tuh kayak bener-bener ngedukung aku kuliah gitu. Jadi misalkan nih, aku lulus S1 mau S2 lagi gak langsung kerja gitu kan.”
“Atau lulus S2 masih mau sekolah lagi gitu. Orangtua aku kayak gak apa-apa gitu, tetap dilanjutin aja,” ujar Fatur. Ini adalah dukungan tanpa syarat yang luar biasa.
b. Pulang Bawa Dampak: Berantas Stigma Pendidikan di Daerah!
Fatur punya goals yang lebih besar lagi: pulang membawa dampak positif buat daerahnya! “Dan problem utama di daerahku itu kan finansial juga karena mayoritas petani. Makanya, aku pengen kayak bisa membantulah mereka supaya bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi” jelas Fatur.
Dia nge-buktiin kalau pendidikan itu kunci buat ngubah nasib, sekaligus pengen menginspirasi generasi muda di desanya untuk bermimpi lebih besar dan membuka akses pendidikan bagi anak-anak di daerahnya. Ini adalah motivasi mulia yang bikin Fatur jadi sosok inspiratif sejati!
Tanoto Foundation: Mencetak Pemimpin Masa Depan!
a. Transformasi Kepercayaan Diri: Dari Fatur untuk Bangsa!
Brother and Sister, melalui pendampingan Tanoto Foundation, Fatur ngalami transformasi signifikan dalam kepercayaan dirinya. Aktivitas kayak pelatihan, pengabdian masyarakat, dan kolaborasi dengan Tanoto Scholars lainnya ngeluarin wawasannya dan nguatin kemampuan interaksinya serta problem solving.
Pengalaman ikut pelatihan dan organisasi turut membentuk perspektif Fatur tentang makna kepemimpinan. Dia belajar bahwa menjadi pemimpin nggak selalu megang jabatan besar, tapi tentang bagaimana memberikan karya terbaik versi dirinya.
Dia nyadar kalau kesuksesan nggak cuma tentang prestasi akademik, tapi bagaimana berinteraksi dan berbuat dampak pada sesama. Fatur kini juga lebih percaya diri buat ngejar mimpinya lanjut studi sampai S3 dan berkontribusi membuka akses pendidikan bagi anak-anak di daerahnya. Ini bukti kalau pendidikan karakter itu penting banget!
b. Beasiswa TELADAN 2025: Kesempatan Emas di Depan Mata!
Nah, buat kamu, Brother and Sister, yang mau jadi salah satu dari Tanoto Scholars, Tanoto Foundation kini resmi membuka pendaftaran program Beasiswa TELADAN 2025 hingga September 2025!
Program ini bukan sekadar dukungan finansial bagi mahasiswa, tapi merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk pemimpin masa depan yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.
Beasiswa TELADAN nyasar mahasiswa semester pertama dari perguruan tinggi mitra yang punya prestasi akademik unggul serta potensi kepemimpinan.
“Melalui TELADAN, kami ingin menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia yang memiliki daya saing tinggi, mampu memimpin dengan empati, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” ujar Head of Leadership Development Tanoto Foundation, Benny Yuwono.
Beasiswa ini ngasih dukungan menyeluruh, mulai dari biaya pendidikan, pengembangan kapasitas kepemimpinan, akses ke pelatihan soft skills, hingga jejaring nasional dan internasional.
Ini adalah kesempatan emas yang nggak boleh kamu lewatkan! Karena pendidikan adalah kunci buat ngelahirin generasi emas Indonesia! Yuk, terus semangat dan ngejar impianmu, Bro and Sis!