Halo brother and sister, ada kisah luar biasa dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang patut kita jadikan teladan nih!
Tunjung Kusuma Sakti dan Amreta Laras Pertiwi berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi sama sekali bukan halangan untuk mendapatkan pendidikan terbaik.
Keduanya sukses meraih beasiswa bergengsi dari Alkhirrijun Cendikia Raya (ACR). Ini adalah bukti nyata semangat juang yang luar biasa!
Tunjung Kusuma Sakti, mahasiswi kedokteran dari Fakultas Kedokteran Unair, merasa sangat bersyukur dan senang bisa menerima beasiswa ini.
Begitu juga dengan Amreta Laras Pertiwi, mahasiswi dari Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka, menandakan betapa berharganya kesempatan ini.
Keduanya menceritakan, awal mula mereka bisa menerima beasiswa ini karena mendapatkan informasi berharga dari salah satu guru mereka di SMA Negeri 1 Mejayan, Kabupaten Madiun.
“Jadi memang dari SMA, Bu Rus, guru kami mencari siswa yang berprestasi atau alumni-alumni yang memiliki masa depan, tapi kesulitan dalam ekonomi.”
“Saya langsung dihubungi oleh Bu Rus untuk ikut program Beasiswa ini dan saya langsung melengkapi persyaratan-persyaratan yang ada dan Alhamdulillah dapat beasiswa,” kata Tunjung saat diwawancarai pada Rabu, 8 Juli 2025. Ini menunjukkan peran guru yang sangat peduli pada masa depan murid-muridnya.
Perjuangan di Fakultas Kedokteran & KIP Kuliah: Beasiswa ACR Jadi Penopang!
Tunjung merasa sangat bersyukur dengan adanya beasiswa yang berhasil didapatkan ini. Karena sangat bermanfaat bagi dirinya, terlebih mahasiswi semester 6 ini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran. Kita tahu sendiri, biaya kuliah di kedokteran itu nggak main-main, brother and sister.
“Apalagi dari FK itu biaya untuk alat-alat medis, alat-alat praktik butuh banyak biaya,” jelasnya. Beasiswa ini tentu sangat meringankan beban Tunjung dan keluarganya dalam memenuhi kebutuhan pendidikannya yang memang besar. Ini memungkinkan Tunjung untuk fokus pada studinya tanpa harus terlalu memikirkan biaya yang menguras kantong.
Amreta menambahkan, proses wawancara sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa sangat ketat dan mencakup banyak hal. Mulai dari kondisi ekonomi, latar belakang calon penerima beasiswa, hingga kegiatan keseharian mereka di universitas.
Ini menunjukkan bahwa ACR benar-benar selektif dalam memilih penerima beasiswa, memastikan bahwa bantuan disalurkan kepada mereka yang paling membutuhkan dan memiliki potensi.
“Saat itu saya ditanya tentang kehidupan di Surabaya seperti apa. Aku juga menceritakan saat masuk ke Unair 2023 itu mandiri KIP Kuliah, jadi aku untuk biaya hidup semuanya mandiri, tidak dapat biaya hidup. Tapi dari segi pendidikan tercover pemerintah,” jelas Amreta.
Ini adalah cerita perjuangan yang bikin haru, di mana Amreta harus berjuang mandiri untuk biaya hidupnya meskipun biaya pendidikannya ditanggung pemerintah melalui KIP Kuliah. Beasiswa dari ACR ini tentu menjadi angin segar untuknya.
Setelah menceritakan latar belakangnya, Amreta juga mengaku jika tidak selalu mendapatkan kiriman uang saku dari orang tua. “Karena ayah bekerja sebagai tukang becak dan ibu sebagai ibu rumah tangga.
Jadinya kiriman uang bulanan tidak menentu. Selain itu saya juga ditanya latar belakang pendidikan, terkait IPS (Indeks Prestasi Sementara) dan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif),” jelasnya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ACR tidak hanya melihat kondisi ekonomi, tapi juga komitmen akademik dan semangat juang para pelamar.
Wawancara berikutnya, mengenai kegiatan apa yang diikuti di kampus. Amreta menjelaskan jika dirinya aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.
Ini juga jadi nilai plus, karena organisasi atau kegiatan di luar akademik menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki soft skills dan jiwa kepemimpinan.
ACR: Wujudkan Mimpi & Regenerasi Pemimpin Masa Depan!
Wakil Ketua ACR, Dindin Nor Ali, merasa tak menyangka bisa memberikan beasiswa di Universitas Airlangga. “Biasanya kami memberikan beasiswa ini di markas besar kami di Madiun. Sekarang Alhamdulillah di Airlangga,” katanya dengan bangga.
Hal tersebut menandakan bahwa jangkauan program beasiswa ACR semakin meluas, menjangkau talenta-talenta terbaik di berbagai universitas.
Menurut Didin, beasiswa yang diberikan kepada Tunjung dan Amreta ini diharapkan bisa membawa “nafas-nafas ACR” pada generasi-generasi berikutnya.
Maksudnya? Beasiswa ini tidak hanya membantu penerima saat ini, tetapi juga menginspirasi mereka untuk kelak turut berkontribusi dan membantu generasi selanjutnya.
Bagaimanapun juga, kata Didin, ACR membutuhkan regenerasi, estafet, kepemimpinan. Ini adalah visi jangka panjang ACR untuk mencetak pemimpin-pemimpin masa depan dari kalangan mahasiswa berprestasi.
Mereka berharap para penerima beasiswa kelak akan menjadi bagian dari agen perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
“Seperti kata Cak Iman. Ayo sebelum kami mati, bagaimana caranya dana ini sudah menembus Rp 1 triliun,” pungkasnya. Ini adalah target ambisius yang menunjukkan semangat besar ACR dalam mengumpulkan dana demi keberlangsungan program beasiswa mereka. Ini juga sebuah pesan bahwa mimpi besar bisa dicapai dengan kolaborasi dan kerja keras.
ACR sendiri telah memberikan beasiswa kepada mahasiswa-mahasiswi, siswa-siswi, untuk biaya pendidikan sebanyak 13 kali.
Ini adalah rekam jejak yang solid dan membuktikan komitmen ACR dalam mendukung pendidikan di Indonesia. Mereka telah menjadi jembatan bagi banyak siswa dan mahasiswa untuk menggapai cita-cita mereka.
Kisah Tunjung dan Amreta ini benar-benar membuktikan bahwa dengan ketekunan, semangat pantang menyerah, dan dukungan yang tepat, setiap mimpi bisa menjadi kenyataan.
Mereka adalah simbol harapan bagi banyak anak muda di Indonesia yang mungkin menghadapi tantangan serupa. Semoga keberhasilan mereka menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk ikut berkontribusi dalam memajukan pendidikan di tanah air.