INVERSI.ID – Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) kini semakin serius main di ranah teknologi tinggi. Mereka bakal ikut KRTI 2025 dengan membawa drone otomasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Acara Kontes Robot Terbang Indonesia itu berlangsung pada 18–20 Oktober 2025 di Universitas Andalas (Unand) dan Lanud Sutan Syahrir Padang, Sumatera Barat.
“Kita mengirimkan 16 mahasiswa yang akan menampilkan otomasi drone berbasis AI dalam KRTI 2025, semoga hasilnya memuaskan,” ujar Dekan Fakultas Teknik USU, Prof Fahmi, dari Medan.
USU mendukung penuh—dari desain aerodinamis hingga sistem AI—agar drone tersebut punya performa optimal saat bertanding.
Wakil Rektor I USU, Prof Edy Ikhsan, juga menyampaikan bahwa mereka ikut di dua divisi kompetisi: Racing Plane dan Vertical Take-Off and Landing (VTOL). Menurutnya, keikutsertaan ini tidak hanya soal juara, tapi bagian dari kontribusi nyata mahasiswa terhadap teknologi kedirgantaraan dan robotika di Indonesia.
Lebih dari Sekadar Lomba: Apa Itu KRTI & Relevansinya
KRTI (Kontes Robot Terbang Indonesia) adalah ajang di mana mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi merancang, membangun, dan menerbangkan pesawat nirawak (UAV atau UAV/UAS) dengan inovasi teknis dan kreatifitas. Kompetisi semacam ini telah berlangsung sejak tahun 2013 (diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran & Kemahasiswaan) dan bermula dari ITB pada masa sebelumnya sebagai kontes indoor UAV. Seiring waktu, KRTI terus berkembang, memperluas kategori lomba dan memadukan unsur teknologi canggih seperti AI, efisiensi energi, dan daya tahan terbang.
Untuk 2025, final KRTI dilangsungkan di Lanud Sutan Syahrir Padang dengan Universitas Andalas sebagai tuan rumah.
Dalam edisi 2025, kompetisi mempertandingkan beberapa divisi, yaitu Racing Plane, Fixed Wing, VTOL, Technology Development, dan Long Endurance Low Altitude (LELA). Ada sekitar 87 tim dari 38 universitas yang lolos ke tahap nasional.
Kenapa KRTI Penting untuk Mahasiswa & Bangsa
- Peningkatan Skill Teknis & Riset Terapan
Lomba seperti ini memaksa mahasiswa bukan hanya paham teori, tapi juga bagaimana mengaplikasikannya: aerodinamika, mekanika penerbangan, algoritma AI, kontrol sistem, sensor, dan optimasi efisiensi energi. - Inovasi & Hilirisasi Teknologi
Tidak cukup hanya mencipta prototipe. Universitas Andalas mendorong agar inovasi robotika mahasiswa bisa “naik kelas” menuju industri. Mereka meminta Kemdiktisaintek agar jembatani agar hasil riset bisa tersambung ke dunia industri. Misalnya, penggunaan drone AI untuk pemetaan, pengawasan, mitigasi bencana, ataupun pertanian presisi. - Jejak Kolaboratif Antar Kampus & Pihak Eksternal
KRTI bukan hanya arena kompetisi. Mahasiswa dari berbagai kampus bertemu, bertukar ide, kolaborasi, networking—membangun ekosistem riset nasional. - Identitas & Kebanggaan Institusi
Bila mahasiswa USU (atau kampus manapun) sukses di KRTI, itu memperkuat reputasi kampus dalam bidang teknik, robotika, dan riset. Juga menunjukkan bahwa kampus peduli terhadap pengembangan teknologi masa depan.
Tantangan & Strategi Agar Drone AI USU Bisa Bersaing
- Kompleksitas Sistem AI & Kontrol
Drone otomatis dengan AI membutuhkan algoritma kendali yang solid, sensor akurat, integrasi sistem real-time, serta kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan tak terduga (angin, turbulensi, cuaca). - Keterbatasan Sumber Daya & Infrastruktur
Untuk uji lapangan, pengujian simulasi, debugging sistem, dan optimasi, butuh fasilitas lengkap, peralatan mahal, dan waktu kerja intensif. Mahasiswa sering harus menyeimbangkan antara tugas kuliah, riset, dan persiapan kompetisi. - Persaingan Ketat dan Standar Penilaian
Di KRTI 2025, ada banyak tim unggulan dari perguruan tinggi lain yang juga membawa inovasi tinggi. Penilaian meliputi kecepatan, ketepatan, kestabilan, daya tahan, serta efisiensi energi. - Hilirisasi / Implementasi Nyata
Meski prototipe berhasil, sering ada “jurang” antara lab dan dunia nyata—aplikasi yang terbatas, pembiayaan produksi skala, izin regulasi, dan kebutuhan standar keamanan.
Strategi Agar Bisa Tampil Maksimal
- Uji Simulasi & Iterasi Cepat
Dengan memakai simulasi komputer dan pengujian miniatur, mahasiswa bisa mempercepat siklus perbaikan—mengurangi risiko gagal besar saat di lapangan. - Fokus Divisi & Spesialisasi Tim
Karena USU ikut di dua divisi (Racing Plane & VTOL), tim bisa membagi anggota untuk fokus masing-masing aspek: aerodinamika, kendali AI, sistem elektronik, optimasi daya. - Kolaborasi & Mentor Industri
Melibatkan dosen, alumni, startup drone, atau lembaga riset agar mendapat insight industri dan bimbingan teknis. Jembatan seperti itu sangat penting agar inovasi tak berhenti di prototipe. - Simulasi Lapangan & Adaptasi Kondisi Lokal
Sebelum kompetisi, latihan di kondisi alam mirip tempat lomba (cuaca, elevasi, angin) agar sistem AI tidak “kaget”. Dronek bisa diuji di waktu malam, siang, dan kondisi cuaca ekstrem. - Publikasi & Dokumentasi
Selain fokus teknis, dokumentasi jurnal, artikel konferensi, media sosial penting. Ini membantu menarik perhatian sponsor, pemerintah, dan mitra industri.
Keikutsertaan USU dalam Kontes Robot Terbang Indonesia 2025 dengan membawa drone otomasi AI bukan sekadar ajang lomba. Itu adalah langkah strategis untuk memperkuat reputasi kampus dalam teknologi maju, membentuk lulusan yang siap bersaing global, dan memperkokoh kontribusi terhadap inovasi nasional.
Mahasiswa mendapat tantangan nyata: bagaimana mengubah ide menjadi karya yang bisa terbang, bertahan, dan laku di dunia nyata. Jika mereka sukses, bukan hanya piala yang diperoleh, tapi pengalaman, jaringan, dan peluang kolaborasi riset serta industri.