INVERSI.ID – Laga uji coba antara Indonesia U-22 dan Mali U-22 di Stadion Pakansari, Bogor, hari Sabtu lalu, menyisakan banyak cerita. Meski skor akhir 0-3 membuat Garuda Muda pulang dengan kepala tertunduk, pelatih Mali U-22 Fousseni Diawara justru menyebut kemenangan itu juga dihiasi sedikit keberuntungan. Ia menilai gol cepat yang mereka dapat sejak menit kelima menjadi kunci seluruh jalannya pertandingan.
Gol pembuka lahir lewat sundulan Sekou Doucoure. Serangan dari situasi sepak pojok itu membuat para pemain Indonesia harus langsung bekerja keras sejak awal. Hal tersebut diakui langsung oleh Diawara dalam jumpa pers seusai laga.
“Kami sangat puas dengan pertandingan ini. Kami senang bisa mencetak gol sangat cepat. Itu membantu kami masuk ke permainan dan mendapatkan kepercayaan diri,” kata Diawara.
Bagi Mali, gol cepat itu ibarat pintu pembuka. Setelah unggul sejak menit 5, permainan mereka menjadi jauh lebih tenang dan terstruktur. Dengan ritme yang nyaman, Mali menambah gol melalui Wilson Samake di menit ke-34. Tidak berhenti di situ, menjelang laga berakhir, tepatnya pada menit 90+1, Moulaye Haidara kembali mempertegas dominasi tim tamu. Skor 0-3 menjadi penutup yang terasa pahit bagi Garuda Muda.
Diawara tidak hanya membahas skor, tetapi juga bagaimana instruksi yang diberikan kepada para pemainnya mampu dijalankan secara disiplin.
“Kami memberikan instruksi kepada para pemain, dan instruksi itu bisa mereka jalankan. Itu membuat kami bisa memainkan beberapa rangkaian permainan yang menarik,” ujarnya.
Pelatih yang lahir di Paris itu tampak puas dengan bagaimana anak asuhnya mengontrol pertandingan.
Namun yang menarik, meski timnya menang besar, Diawara tetap memberikan ruang apresiasi untuk permainan Indonesia. Ia melihat ada momen-momen di mana Garuda Muda mampu memberi ancaman serius. Bahkan ia memuji secara khusus performa kapten Indonesia malam itu, Ivar Jenner, yang baru kembali memperkuat tim nasional.
“Kami tahu tim ini akan terorganisasi dengan baik. Kami tahu mereka punya pemain dengan kedewasaan tertentu. Terutama nomor 5 (Ivar Jenner) sang kapten,” kata pelatih berusia 45 tahun itu.
Menurutnya, serangan Indonesia dari sektor sayap beberapa kali membuat timnya kerepotan.
“Mereka beberapa kali menyulitkan kami dari sisi sayap. Kami kesulitan mengelola ruang di belakang. Mereka menunjukkan bahwa mereka bisa berbahaya. Ini tim yang menarik dengan kekuatan yang jelas. Tapi kami bisa mengatasinya,” tambahnya.
Ucapan ini menunjukkan bahwa Garuda Muda masih memiliki potensi besar meski kalah cukup telak.
Performa Pemain Muda Mali dan Sorotan pada Sekou Kone
Di balik kemenangan tersebut, sorotan juga mengarah pada sosok pemain muda Mali yang bermain di level elite: Sekou Kone. Tampil di babak kedua pada menit ke-65, pemain Manchester United itu mendapat sorotan karena statusnya yang sudah tiga kali masuk skuad MU di Liga Inggris, termasuk saat menghadapi Tottenham Hotspur, Everton, dan Nottingham Forest musim lalu.
Diawara mengonfirmasi bahwa pada pertandingan kedua yang akan digelar Selasa (18/11), peluang Kone mendapatkan menit bermain lebih besar sangat terbuka.
“Ia kemungkinan akan mendapatkan waktu bermain di pertandingan berikutnya,” kata Diawara.
Sang pelatih tampaknya menaruh ekspektasi besar pada pemain mudanya itu.
Untuk Diawara, Kone bukan sekadar pemain yang sedang berkembang. Ia menilai kualitas sang pemain sangat menjanjikan. “Menjanjikan” dan “punya banyak kualitas” adalah dua kata yang ia tekankan ketika menyebutkan potensi Kone. Pelatih Mali U-22 itu percaya bahwa peluang Kone untuk tampil lebih eksplosif di laga berikutnya sangat besar, terlebih ia juga pernah menunjukkan level permainan luar biasa saat tampil di Piala Dunia U-17 2023 di Indonesia.
Kala itu, Kone berperan penting dalam membawa Mali meraih peringkat ketiga. Assist miliknya membantu Mali menumbangkan Argentina 3-0 pada laga perebutan tempat ketiga. Catatan ini tentu bukan hal kecil mengingat Argentina adalah salah satu tim muda kuat di dunia. Tak heran jika Kone kini diproyeksikan menjadi pemain penting dalam generasi baru sepak bola Mali.
“Sama seperti pemain lainnya dalam tim ini, dia masih punya perjalanan panjang. Dia berada di klub besar yang sangat populer di Indonesia,” puji Diawara.
Dengan usianya yang baru 19 tahun, jalan karier Kone masih sangat panjang. Meski begitu, kualitas teknis, visi bermain, dan pengalaman bertanding di level tinggi membuatnya menjadi salah satu pemain masa depan Mali yang paling ditunggu perkembangannya.
Pelatih Mali itu kembali menegaskan bahwa Kone berpotensi menunjukkan kembali performa yang pernah ia tunjukkan di Indonesia saat Piala Dunia U-17 lalu.
“Dia akan bisa menunjukkan kualitas yang sudah ia perlihatkan ketika tampil di Piala Dunia U-17 2023 di sini,” tambah Diawara.
Pelajaran dari Pakansari dan Bayangan Pertandingan Kedua
Pertandingan di Pakansari menjadi gambaran penting untuk kedua tim. Untuk Mali, kemenangan ini menjadi modal kuat untuk pertandingan berikutnya, sekaligus kesempatan mematangkan pemain-pemain muda berbakat yang mereka bawa. Bagi Indonesia, meski kalah, laga tersebut memberikan banyak catatan yang bisa dibenahi sebelum memasuki agenda kompetitif yang lebih serius.
Gol cepat, konsistensi dalam menjalankan instruksi, serta efektivitas penyelesaian menjadi faktor utama keunggulan Mali malam itu. Sementara Indonesia memperlihatkan tanda-tanda positif lewat permainan sayap dan beberapa aksi individu yang mampu memecah pertahanan lawan. Sorotan khusus pada Ivar Jenner menjadi bukti bahwa Indonesia punya pilar penting di lini tengah, meskipun hasil pertandingan belum berpihak.
Pertandingan kedua melawan Mali nanti diprediksi jadi ajang evaluasi sekaligus pembuktian. Bagi Mali, ini bisa menjadi saat yang tepat untuk memberikan menit bermain lebih banyak kepada Sekou Kone. Bagi Indonesia, ini kesempatan untuk menunjukkan perkembangan permainan setelah menelan kekalahan yang cukup berat.
Dengan waktu persiapan yang tidak panjang, laga kedua akan menjadi barometer apakah Garuda Muda bisa merespons kekalahan dengan baik. Setidaknya, mereka sudah tahu pola permainan Mali dan titik-titik mana yang bisa dimanfaatkan. Jika eksekusi mereka lebih baik, bukan tak mungkin hasil laga kedua bisa berbeda.