Inversi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto terus menunjukkan dampak positif yang luas, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Salah satu contoh nyata manfaat program ini dirasakan oleh Rahmat (42), pemilik usaha roti yang berlokasi di Dusun Dukuh Sepat, Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo. Sejak dipercaya menjadi pemasok kebutuhan program MBG, usaha roti miliknya mengalami peningkatan produksi yang signifikan.
Rahmat mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dalam program MBG, ia hanya mampu memproduksi sekitar 1.000 roti per hari. Namun, setelah mendapatkan pesanan rutin dari program tersebut, kapasitas produksinya meningkat hingga mencapai sekitar 2.500 roti per hari. Lonjakan permintaan ini menjadi momentum penting bagi perkembangan usahanya.
“Setelah ada pesanan untuk program MBG, produksi kami meningkat cukup signifikan. Saat ini kami bisa memproduksi sekitar 2.500 roti setiap hari,” ujarnya.
Pesanan tersebut berasal dari dua dapur layanan gizi, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gempeng Bulu dan SPPG Kelurahan Bulu. Kedua fasilitas ini bertugas menyalurkan makanan bergizi kepada para penerima manfaat program MBG di wilayah setempat.
Untuk memenuhi standar program, Rahmat memproduksi roti berukuran kecil dengan harga berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per buah. Produk tersebut disesuaikan dengan ketentuan gizi yang telah ditetapkan oleh penyelenggara program, sehingga tidak hanya memenuhi aspek kuantitas, tetapi juga kualitas nutrisi.
Peningkatan produksi ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan usaha Rahmat, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitarnya. Saat ini, ia mempekerjakan lima orang karyawan, termasuk dirinya dan sang istri. Dari jumlah tersebut, tiga orang merupakan tenaga kerja baru yang direkrut untuk memenuhi kebutuhan produksi yang meningkat.
Menurut Rahmat, kehadiran program MBG secara tidak langsung membuka peluang pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi ibu rumah tangga di sekitar tempat usahanya. Mereka dilibatkan dalam proses produksi, sehingga dapat memperoleh tambahan penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga.
“Kami terpaksa menambah tenaga kerja karena tidak mungkin menangani pesanan sebanyak ini sendiri. Kami juga memberdayakan ibu-ibu di sekitar untuk ikut membantu produksi,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi keluarga, peningkatan produksi tersebut memberikan dampak yang sangat signifikan. Rahmat mengaku bahwa pendapatannya mengalami peningkatan yang cukup besar, sehingga mampu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga yang sebelumnya sulit terpenuhi. Selain itu, ia juga dapat lebih tenang dalam membiayai pendidikan ketiga anaknya.
“Dengan adanya pesanan dari program MBG, penghasilan kami bertambah. Kebutuhan sehari-hari yang sebelumnya belum terpenuhi, kini alhamdulillah bisa tercukupi,” ungkapnya.
Kisah Rahmat menjadi salah satu contoh konkret bagaimana program pemerintah dapat memberikan dampak langsung kepada pelaku UMKM di daerah. Program MBG tidak hanya berfungsi sebagai intervensi gizi bagi masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi lokal yang mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect).
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa program MBG telah membuka banyak peluang kerja baru melalui operasional dapur layanan gizi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ia menekankan bahwa keberadaan dapur-dapur tersebut tidak hanya melayani kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.
“Dengan puluhan ribu dapur yang telah beroperasi, program ini mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Presiden dalam salah satu kesempatan.
Program MBG juga dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di tengah persaingan usaha yang semakin ketat. Dengan adanya kepastian permintaan, pelaku UMKM seperti Rahmat dapat menjaga stabilitas usaha sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
Rahmat pun berharap agar program MBG dapat terus berlanjut dan diperluas cakupannya. Ia menilai bahwa keberlanjutan program ini sangat penting bagi pelaku usaha kecil yang membutuhkan dukungan untuk berkembang.
“Kalau ada kesempatan bertemu dengan Bapak Presiden, saya ingin mengucapkan terima kasih. Program ini sangat membantu usaha kecil seperti kami untuk tetap bertahan dan berkembang,” ujarnya.
Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis telah menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung pembangunan nasional. Selain meningkatkan kualitas gizi masyarakat, program ini juga memberikan kontribusi nyata dalam menggerakkan sektor UMKM, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan dapat terus diperkuat, sehingga manfaat program MBG dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.