Minat baca anak muda tentang kedirgantaraan dinilai masih perlu ditumbuhkan agar generasi penerus memahami pentingnya ruang udara sebagai salah satu sumber daya strategis nasional. Penegasan ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat menghadiri pameran buku karya Chappy Hakim di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Senin lalu.
Menurut Atip, kedirgantaraan bukan sekadar topik teknis, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek politik, ekonomi, hukum, hingga pendidikan. “Pameran ini untuk mengingatkan kembali bahwa salah satu sumber daya nasional yang sangat penting adalah ruang udara. Kita memiliki kedaulatan penuh dan eksklusif di ruang udara. Artinya, kita harus mampu mengoptimalkan dan mempertahankannya demi kepentingan nasional,” ujarnya.
Ia menekankan, pengetahuan kedirgantaraan harus diperkenalkan sejak dini, khususnya kepada anak-anak dan remaja, melalui bahan bacaan yang menarik. Hal ini, menurutnya, akan membantu membentuk generasi yang tidak hanya paham tentang kedaulatan udara, tetapi juga memiliki rasa bangga terhadap identitas bangsa.
Pentingnya Bahan Bacaan Menarik untuk Meningkatkan Minat Baca Anak Muda
Minat baca anak muda akan meningkat jika mereka mendapatkan bahan bacaan yang sesuai minatnya. Atip mencontohkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang telah mengembangkan “space education” selama puluhan tahun. Pendidikan kedirgantaraan di sana berhasil memupuk rasa bangga nasional sekaligus melahirkan generasi yang siap bersaing di industri dirgantara global.
“Di Indonesia, jika kita ingin menumbuhkan minat baca yang kuat, khususnya di bidang kedirgantaraan, maka kita harus menyediakan buku-buku yang membahasnya secara menarik. Tidak hanya aspek teknis, tetapi juga kaitannya dengan budaya, sejarah, dan inovasi,” tutur Atip.
Pameran buku karya Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI AU, menurutnya menjadi salah satu langkah konkret untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Dengan koleksi buku yang beragam, pembaca muda dapat mengeksplorasi dunia dirgantara dari berbagai sudut pandang.
Data Minat Baca di Indonesia dan Tantangannya
Rendahnya minat baca anak muda di Indonesia diungkapkan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Aminudin Aziz. Berdasarkan data yang ia sampaikan, budaya baca masyarakat Indonesia jika diukur dari jumlah jam hanya mencapai 129 jam per tahun, setara lima setengah hari. Rata-rata jumlah buku yang dibaca pun hanya 5,91 buku per tahun.
“Hambatan terbesar adalah minimnya buku yang sesuai dengan minat pembaca. Padahal, saat bacaan yang disediakan benar-benar menarik, minat membaca bisa melonjak drastis. Ada anak-anak di tingkat sekolah dasar yang sanggup menghabiskan 10 buku dalam sehari ketika temanya sesuai minat mereka,” jelas Aminudin.
Ia menambahkan, pameran seperti ini menjadi kesempatan berharga bagi generasi muda untuk mengenal literatur kedirgantaraan lebih dekat. Buku-buku karya Chappy Hakim kini tersedia di Perpustakaan Nasional, baik dalam bentuk fisik maupun digital, sehingga aksesnya lebih luas.
Acara pameran menampilkan lebih dari 50 buku bertema kedirgantaraan yang ditulis oleh Chappy Hakim. Koleksi ini meliputi topik sejarah penerbangan Indonesia, peran strategis TNI AU, hingga tantangan industri dirgantara global. Sebagian besar buku telah menjadi koleksi Perpustakaan Nasional dan beberapa di antaranya merupakan donasi langsung dari Chappy Hakim.
“Buku-buku ini bisa diakses oleh siapa saja, baik yang datang langsung ke Perpustakaan Nasional maupun yang membaca melalui platform digital kami,” kata Aminudin.
Pameran ini diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda mengenai pentingnya kedaulatan ruang udara, sekaligus menginspirasi mereka untuk terlibat dalam pengembangan kedirgantaraan Indonesia.
Membangun Budaya Baca di Era Digital
Upaya meningkatkan minat baca tidak bisa terlepas dari pemanfaatan teknologi. Platform digital dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan literasi kedirgantaraan, khususnya bagi anak muda yang akrab dengan gawai dan media sosial. Namun, Aminudin mengingatkan perlunya kurasi konten agar informasi yang tersebar benar-benar berkualitas.
Menurutnya, literasi digital dan literasi baca harus berjalan beriringan. Anak muda perlu diarahkan untuk tidak hanya mengonsumsi konten hiburan semata, tetapi juga pengetahuan yang bermanfaat bagi perkembangan wawasan dan keterampilan mereka.
Kedirgantaraan merupakan bidang strategis yang mencakup pertahanan, transportasi, komunikasi, dan ekonomi. Bagi Indonesia, yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, penguasaan teknologi dan pengetahuan dirgantara sangat penting untuk menghubungkan wilayah, mengamankan perbatasan, dan memperkuat daya saing global.
Anak muda yang memahami pentingnya kedirgantaraan akan lebih termotivasi untuk mengembangkan diri di bidang ini, baik melalui pendidikan formal, pelatihan, maupun penelitian. Hal ini pada gilirannya dapat membantu Indonesia mandiri dalam teknologi dirgantara dan mengurangi ketergantungan pada pihak luar.
Mendorong Partisipasi Generasi Muda
Wamendikdasmen Atip menekankan bahwa menumbuhkan minat baca anak muda di bidang kedirgantaraan bukan hanya soal literasi, tetapi juga tentang membangun kesadaran kebangsaan.
“Jika kita ingin mempertahankan kedaulatan ruang udara, kita membutuhkan generasi yang melek pengetahuan dan memiliki rasa bangga terhadap bangsanya,” tegasnya.
Ia berharap pameran buku seperti ini dapat rutin diselenggarakan di berbagai daerah, bekerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas literasi. Dengan begitu, literatur kedirgantaraan tidak hanya tersimpan di rak-rak perpustakaan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak muda.
Pameran buku kedirgantaraan karya Chappy Hakim di Perpustakaan Nasional RI menjadi momentum penting untuk mengingatkan publik, terutama generasi muda, bahwa ruang udara adalah aset strategis bangsa. Melalui bahan bacaan yang relevan dan menarik, diharapkan minat baca anak muda dapat meningkat, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kedaulatan dirgantara Indonesia.
Kombinasi antara literasi baca, literasi digital, dan pemahaman kedirgantaraan akan menjadi bekal penting bagi Indonesia untuk menjaga kedaulatan sekaligus memajukan industri dirgantaranya.