INVERSI.ID – Program publik tahunan Movie at the Museum atau Panto Film Pang Museum kembali hadir dengan nuansa baru yang segar. Berbeda dari biasanya, kegiatan yang umumnya diadakan di Ruang Ekspresi Budaya Museum Bala Datu Ranga (MBDR) kini digelar di Warung Angkringan Ruang Budaya Tomanto, Studio Komunitas Sumbawa Cinema Society (SCS), Minggu (27/7) malam.
Kegiatan Movie at the Museum tahun ini menghadirkan kolaborasi antara Museum Bala Datu Ranga, Museum Bahari Jakarta, dan SCS Sumbawa. Selain menayangkan film-film pendek bertema lingkungan dan budaya bahari, acara ini juga sekaligus menjadi ajang sosialisasi kompetisi film pendek nasional Bahari on Screen (BoS) dengan tema Climate Action atau aksi iklim.
“Dalam edisi kali ini, kami ingin menghadirkan pengalaman yang berbeda sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda Sumbawa untuk belajar dari karya-karya film pelajar terbaik se-Indonesia. Sekaligus, kami memperkenalkan kompetisi film pendek nasional (Movie at the Museum) yang berfokus pada laut, lingkungan, dan perubahan iklim,” jelas Yuli Andari Merdikaningtyas, M.A., Kepala Museum Bala Datu Ranga.
Siswa Sumbawa Menyimak Film dan Diskusi Lingkungan
Acara Movie at the Museum dihadiri para siswa SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Sumbawa. Setiap sekolah mengirimkan maksimal 10 siswa dan satu guru pendamping. Mereka menyaksikan pemutaran film pendek “Menari Seirama Ombak” karya SCS Sumbawa, yang menjadi pembuka malam pemutaran film.
Setelah itu, tiga film pemenang Bahari on Screen 2024 turut ditayangkan, yaitu:
- Cangkang
- Surat Sayang untuk Mutiara
- Kamal, Tara, dan Laut yang Berlalu
Tidak hanya menonton, peserta juga diajak berdiskusi interaktif. Panitia Movie at the Museum menyisipkan sesi tanya jawab seputar tema lingkungan dan proses kreatif pembuatan film, disertai kuis berhadiah yang membuat suasana semakin hidup.
Yuli menegaskan bahwa kegiatan Movie at the Museum ini bukan hanya hiburan, melainkan juga media pembelajaran kreatif.
“Kami ingin para siswa tidak hanya menonton, tapi juga memahami pesan di balik film, serta terinspirasi untuk membuat karya yang menyuarakan kepedulian mereka terhadap lingkungan,” ujarnya.
Bahari on Screen, Panggung Kreatif Generasi Muda
Bahari on Screen (BoS) adalah program kolaborasi antara Museum Bahari dan Indonesian Hidden Heritage Creative Hub (IHHCH) yang bertujuan mendorong generasi muda Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan kepedulian mereka terhadap laut dan perubahan iklim melalui film pendek.
Program ini mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 13: Climate Action yang mendorong aksi nyata terhadap isu lingkungan. Aryo Bimo Notohadikoesoemo, Koordinator Program BoS, menegaskan pentingnya suara anak muda.
“Kami ingin memberi ruang bagi pelajar di seluruh Indonesia, termasuk di Sumbawa, untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap perubahan iklim. Film adalah medium yang kuat untuk membangun kesadaran publik,” jelasnya.
Kompetisi ini terbuka untuk seluruh pelajar SMA/SMK/MA sederajat di Indonesia, dengan ketentuan:
- Film orisinal, belum pernah dilombakan, dan diproduksi maksimal satu tahun sebelumnya
- Durasi film antara 3–5 menit (termasuk kredit)
- Memiliki surat pernyataan orisinalitas yang ditandatangani guru pendamping
- Tim boleh lintas sekolah dan lintas daerah
Pendaftaran karya dibuka mulai 12 Februari hingga 15 Oktober 2025, dengan total hadiah Rp 37 juta.
Kriteria penilaian meliputi:
- Keutuhan ide dan bentuk film
- Teknik pengambilan gambar dan sudut kamera
- Estetika visual dan audio
- Penyuntingan dan gaya bercerita
- Validitas informasi dan narasumber, terutama yang berkaitan dengan sejarah dan budaya bahari
SCS Sumbawa Siap Dampingi Calon Filmmaker Muda
Sebagai mitra lokal program BoS, Museum Bala Datu Ranga dan SCS Sumbawa siap memberikan pendampingan kepada pelajar yang ingin mengikuti kompetisi. Dukungan ini mencakup konsultasi ide cerita, panduan teknis produksi, hingga informasi lengkap mengenai persyaratan lomba.
“Kami akan selalu siap memberikan informasi mengenai syarat, kriteria, dan ketentuan Bahari on Screen, termasuk jika kalian butuh teman ngobrol atau konsultasi ide cerita,” ujar Yuli Andari.
Menurutnya, regenerasi pelaku film muda di daerah harus terus dijaga. Melalui film, siswa dapat menyuarakan pesan lingkungan, mengangkat isu budaya lokal, dan menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap bumi.
Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, program Movie at the Museum dan Bahari on Screen menjadi panggung nyata bagi siswa untuk berkreasi. Bukan hanya menonton, mereka kini bisa menjadi pencipta cerita yang membawa pesan perubahan.
Acara malam itu ditutup dengan refleksi singkat, di mana siswa diajak menuliskan ide cerita singkat bertema lingkungan yang mungkin akan mereka kembangkan menjadi film. Para guru pendamping pun berharap kegiatan seperti ini bisa digelar rutin agar siswa punya lebih banyak wadah untuk belajar dan berkarya.
Dengan langkah kecil dari ruang pemutaran film di Sumbawa, lahir harapan besar, generasi muda yang peduli lingkungan dan siap mengubah dunia lewat karya film.