INVERSI.ID – Mantan anggota JKT48, Nabilah Ayu, menyerukan agar generasi muda Indonesia, khususnya Gen Z, tidak tinggal diam terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza. Ia menegaskan, anak muda Indonesia memiliki peran besar dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk menunjukkan dukungan bagi rakyat Palestina yang masih menghadapi genosida dan kekerasan berkepanjangan.
Seruan tersebut disampaikan Nabilah setelah menghadiri acara Konsolidasi Nasional Civil Society Indonesia Terkait Palestina yang digelar di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Jakarta, pada Selasa (7/10/2025). Acara itu mempertemukan berbagai organisasi masyarakat sipil, relawan, dan tokoh muda untuk memperkuat dukungan kemanusiaan bagi Palestina.
Nabilah Ayu dan Relawan Nusantara: Membawa Semangat Indonesia ke Yordania
Dalam keterangannya kepada media, Nabilah menceritakan pengalamannya saat menyalurkan bantuan bersama Ustadz Erick Yusuf dan sejumlah relawan Nusantara ke pengungsi Palestina yang berada di Yordania.
“Alhamdulillah, kemarin saya bersama Ustadz Erick Yusuf dan relawan Nusantara sempat menyalurkan bantuan untuk saudara-saudara Palestina yang berada di Yordania,” ujar Nabilah.
Ia menuturkan bahwa perjalanan tersebut bukan sekadar misi kemanusiaan biasa. Kehadiran mereka di lokasi menjadi simbol nyata bahwa masyarakat Indonesia, dari berbagai latar belakang, tetap konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina.
“Mereka sangat bersyukur ketika kami hadir langsung di sana. Bukan hanya bantuan yang kami bawa, tetapi kehadiran kami juga membuat mereka sangat bahagia,” ungkapnya.
Kisah ini menunjukkan bahwa solidaritas lintas batas masih hidup di hati masyarakat Indonesia. Di tengah situasi global yang penuh konflik, semangat gotong royong dan empati menjadi jembatan kemanusiaan yang tidak mengenal agama, bangsa, maupun warna kulit.
Gen Z Harus Turun Tangan: “Jangan Diam Saja!”
Sebagai figur publik muda yang kini aktif di berbagai kegiatan sosial, Nabilah Ayu menekankan pentingnya peran generasi muda Indonesia, terutama Gen Z, dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan global.
“Sudah saatnya kita semua, khususnya teman-teman Gen Z, bersuara dan memberikan dukungan untuk bangsa Palestina atas genosida yang telah terjadi. Jangan diam saja,” tegasnya.
Menurut Nabilah, generasi muda saat ini memiliki keunggulan besar: akses informasi dan jaringan sosial yang luas. Melalui media sosial, anak muda bisa menyebarkan kesadaran, menggalang donasi, hingga mendorong gerakan solidaritas internasional.
“Sekarang bukan zamannya lagi diam. Dengan satu unggahan, satu video, atau satu aksi nyata, teman-teman bisa berkontribusi untuk kemanusiaan. Gunakan media sosial bukan hanya untuk hiburan, tapi juga untuk membawa pesan kebaikan,” ujarnya.
Dari Dunia Hiburan ke Aksi Sosial
Nabilah Ayu, yang dikenal publik lewat kariernya di dunia hiburan sebagai salah satu anggota generasi pertama JKT48, kini menunjukkan sisi lain dirinya yang lebih matang dan peduli terhadap isu sosial. Ia aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan dan edukasi sosial yang melibatkan komunitas muda.
Transformasi Nabilah menjadi sosok aktivis muda tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia mengaku banyak belajar dari pengalaman lapangan saat berinteraksi langsung dengan korban konflik dan relawan kemanusiaan.
“Ketika kita melihat langsung kondisi mereka, kita akan sadar bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan. Tidak harus dengan uang, tapi juga waktu, tenaga, dan doa,” kata Nabilah.
Pesan ini selaras dengan semangat banyak anak muda Indonesia yang kini semakin aktif di berbagai gerakan sosial berbasis digital — mulai dari kampanye donasi daring, konten edukatif tentang Palestina, hingga partisipasi di aksi damai lintas kampus.
Solidaritas Indonesia untuk Palestina Tak Pernah Padam
Sejak lama, masyarakat Indonesia dikenal memiliki empati mendalam terhadap perjuangan rakyat Palestina. Dukungan itu tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai komunitas, lembaga zakat, pesantren, hingga sekolah-sekolah.
Menurut data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), pengumpulan donasi kemanusiaan untuk Palestina pada tahun 2024 meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar donasi tersebut datang dari kalangan muda dan komunitas digital.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Gen Z Indonesia tidak apatis terhadap isu global, meski sering dianggap lebih sibuk dengan dunia digital. Justru melalui teknologi, mereka mampu menciptakan gelombang solidaritas baru yang lintas negara dan lintas platform. Nabilah berharap tren positif ini bisa terus berlanjut.
“Saya percaya, anak muda Indonesia itu punya hati yang besar. Asal diberi arah dan contoh, mereka pasti mau bergerak,” ujarnya optimistis.
Kemanusiaan Sebagai Identitas Generasi Baru
Dalam pandangan Nabilah, isu Palestina bukan semata-mata persoalan politik, melainkan panggilan nurani kemanusiaan. Ia menilai bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan kekerasan dan ketidakadilan terus terjadi.
“Insya Allah, bukan besar kecilnya bantuan yang penting, tetapi ketulusan hati teman-teman akan sampai juga kepada saudara-saudara Palestina,” ucapnya dengan penuh harap.
Nabilah juga menegaskan bahwa kepedulian terhadap Palestina bisa dimulai dari langkah kecil. Misalnya, mengikuti kegiatan penggalangan dana, membuat konten edukatif tentang kemanusiaan, atau sekadar menyebarkan informasi yang benar dan kredibel mengenai situasi di Gaza.
“Yang penting kita jangan diam. Setiap aksi kecil bisa berdampak besar kalau dilakukan bersama-sama,” tambahnya.
Harapan untuk Masa Depan Gen Z Indonesia
Seruan Nabilah Ayu mencerminkan semangat baru di kalangan anak muda Indonesia semangat untuk menjadi bagian dari solusi global. Dalam dunia yang semakin terhubung, isu kemanusiaan tidak lagi bisa dipisahkan dari identitas generasi masa kini.
Gen Z, yang dikenal sebagai generasi digital, kreatif, dan kritis, memiliki potensi besar untuk mengubah wajah gerakan sosial di Indonesia. Dengan dukungan figur publik seperti Nabilah Ayu, semangat solidaritas ini bisa menjadi arus utama dalam budaya anak muda.
“Kalau bukan kita yang muda yang peduli, siapa lagi? Jangan tunggu jadi kaya atau terkenal untuk bisa bantu orang lain,” tutup Nabilah.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tidak membutuhkan panggung besar, melainkan keberanian untuk bertindak, sekecil apa pun bentuknya.