INVERSI.ID – Najwa Shihab memberi tips anak muda melek hukum agar generasi muda tidak buta terhadap aturan yang bisa memengaruhi hidup mereka di masa depan. Menurutnya, salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah membaca Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP). Hal ini disampaikan Najwa dalam forum Indonesia Summit 2025 pada sesi bertajuk Building Trust in Justice: Strategies for Consistent Law Enforcement in Indonesia’s 8th Decade yang digelar di The Tribrata Dharmawangsa, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Najwa Shihab memberi tips anak muda melek hukum bukan hanya sekadar teori, tetapi juga menyangkut tindakan nyata. Ia menekankan pentingnya rasa peduli, sikap kritis, dan keberanian generasi muda untuk memahami bagaimana hukum bekerja. Menurutnya, membaca RUU KUHAP dapat memberikan gambaran jelas tentang peta hukum di Indonesia, sebab cepat atau lambat setiap orang pasti akan bersentuhan dengan hukum.
Lebih lanjut, Najwa Shihab memberi tips anak muda melek hukum dengan cara menggunakan media sosial secara bijak untuk melakukan kontrol sosial. Najwa menilai medsos bukan sekadar ruang hiburan, melainkan juga alat strategis yang mampu memberi tekanan pada pejabat publik. Dari banyak kasus yang ada, tekanan publik lewat dunia digital terbukti memengaruhi jalannya penegakan hukum.
Media Sosial sebagai Kontrol Sosial Generasi Muda
Najwa Shihab mengajak generasi muda menjadikan media sosial sebagai saluran suara rakyat sekaligus sarana untuk mengawal penegakan hukum. Menurutnya, di era digital ini, publik memiliki kekuatan besar untuk menekan para pemegang kekuasaan agar lebih transparan dan akuntabel. Sudah banyak kasus hukum yang akhirnya mendapatkan sorotan luas dan berujung pada tindak lanjut setelah masyarakat bersuara melalui platform digital.
Namun, Najwa Shihab juga mengingatkan pentingnya integritas dalam menggunakan teknologi. Ia menyinggung fenomena generasi muda yang kerap menormalisasi perilaku tidak etis, seperti menyuap atau bahkan menggunakan teknologi secara berlebihan tanpa memikirkan dampaknya.
“Integritas itu bukan cuma soal pejabat publik, tapi juga soal diri kita. Kalau dari muda sudah membiasakan diri untuk menormalisasi hal-hal yang salah, ke depan akan sulit memperbaikinya,” ujarnya.
Pesan ini menjadi refleksi penting. Anak muda tidak cukup hanya kritis di media sosial, tetapi juga perlu menanamkan integritas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, media sosial bisa benar-benar menjadi sarana positif dalam membangun demokrasi, bukan sekadar ruang untuk mengeluh atau menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Wajah Ganda Penegakan Hukum di Indonesia
Najwa Shihab menyoroti kondisi hukum Indonesia yang ia sebut masih berwajah ganda. Dalam 10 bulan terakhir, ia melihat ada kontradiksi: di satu sisi aparat berani menyentuh kasus besar bernilai triliunan, di sisi lain masih ada keraguan dan tebang pilih dalam menegakkan hukum. Hal ini membuat publik bertanya-tanya tentang konsistensi penegakan hukum di Tanah Air.
Sebagai contoh, Najwa menyebut langkah Kejaksaan Agung yang sudah berani membongkar kasus megakorupsi bernilai ratusan triliun. Namun, kritik tetap muncul terkait akurasi nilai kerugian negara dan dugaan kriminalisasi dalam proses penanganannya. Begitu juga dengan KPK yang selama ini dikenal tajam melalui operasi tangkap tangan (OTT), tetapi belakangan kinerjanya dipertanyakan akibat sejumlah preseden buruk.
Najwa juga mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali menekankan pentingnya penegakan hukum dan memberi peringatan kepada aparat yang terbukti melindungi pelaku kejahatan. Namun, dalam praktiknya, masih ada ketidakselarasan antara pernyataan politik dan realita di lapangan. Fenomena “backing” aparat oleh oknum tertentu kerap kali tidak tersentuh hukum, sehingga publik semakin skeptis terhadap konsistensi sistem peradilan.
Harapan Baru untuk Generasi Muda
Lewat forum Indonesia Summit 2025, Najwa Shihab menegaskan bahwa pemahaman hukum tidak boleh hanya dimiliki segelintir elit, tetapi harus menyentuh semua kalangan, terutama anak muda. Generasi Millennial dan Gen Z yang hadir dalam acara itu didorong untuk menjadi bagian dari perubahan, bukan hanya pengamat. Dengan memahami hukum, anak muda akan lebih siap menghadapi dinamika sosial, politik, dan ekonomi di masa depan.
Najwa percaya bahwa masa depan penegakan hukum di Indonesia sangat bergantung pada kesadaran generasi mudanya. Jika anak muda peduli, kritis, berintegritas, dan mampu memanfaatkan media sosial dengan bijak, maka wajah hukum Indonesia bisa berubah menjadi lebih adil dan konsisten.
Indonesia Summit 2025 sendiri menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk berdialog dengan tokoh nasional, pemimpin, dan pemikir visioner. Dengan mengusung tema Thriving Beyond Turbulence, Celebrating 80 Years Independence, forum ini menggarisbawahi pentingnya peran anak muda dalam membangun masa depan Indonesia, termasuk dalam hal membenahi sistem hukum yang selama ini masih dianggap bermasalah.