INVERSI.ID – Ahmad Fatur Rohman anak seorang petani yang tengah menjadi sorotan atas prestasinya. Tidak semua anak di Indonesia memiliki kemewahan berupa akses pendidikan yang mudah. Bahkan, menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), terdapat lebih dari 4 juta anak Indonesia yang putus sekolah.
Faktor ekonomi dan budaya masih menjadi alasan utama. Banyak anak dari keluarga kurang mampu harus bekerja sejak dini, mengorbankan pendidikan demi membantu orang tua seperti yang dialami Fatur panggilan akrabnya.
Namun di tengah kenyataan pahit tersebut, sang anak petani itu kini tercatat sebagai mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), menepis stigma dan keterbatasan dengan semangat dan prestasi. Lahir dari keluarga petani sederhana di Desa Karanganyar, Probolinggo, Jawa Timur, Fatur membuktikan bahwa mimpi tinggi bisa dicapai meski berasal dari pelosok.
Dididik Ibu Sejak Kecil, Belajar Tanpa TK
Ahmad berasal dari keluarga yang hidup dengan kesederhanaan. Ayahnya adalah petani lulusan SD yang mengolah lahan kecil, bahkan hasil panennya tidak dijual, melainkan disimpan sebagai persediaan makanan tahunan. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga lulusan MTs (setingkat SMP) yang memiliki minat tinggi dalam membaca, namun tak bisa melanjutkan sekolah karena kuatnya stigma kultural: perempuan cukup di rumah saja.
Meski demikian, sang ibu berperan besar dalam membentuk karakter dan kecerdasan Fatur. Sejak kecil, Fatur tidak mengenyam pendidikan taman kanak-kanak seperti anak-anak lain. Ia langsung masuk SD karena sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung berkat bimbingan ibunya.
“Ibu suka baca buku apa saja. Kalau lagi jalan dan lihat spanduk, langsung dibaca bareng. Dari situ aku jadi terbiasa belajar,” kenang Fatur.
Lingkungan sekitar sering kali meremehkan pentingnya sekolah. Bagi mereka, sekolah hanya formalitas. Setelah lulus, anak-anak tetap akan jadi petani seperti orang tuanya. Namun, orang tua Fatur berpandangan berbeda. Mereka tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan dan keterbatasan.
Menembus SMA Taruna Nusantara Lewat OSN
Sejak SD, Fatur sudah menunjukkan minat dan prestasi di bidang akademik, khususnya ilmu pengetahuan alam (IPA). Ia aktif mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan berbagai lomba serupa, dengan bimbingan dari gurunya. Di SMP, ia berhasil meraih medali perak OSN bidang IPA.
Perjalanan pendidikannya tidak selalu mudah. Fatur harus menempuh perjalanan setengah jam dari desa ke kota setiap hari demi bersekolah di SMP negeri terbaik di Probolinggo. Ayahnya yang mengantarkan setiap pagi, sambil sekalian mencari rumput untuk pakan ternak.
Dari prestasi di OSN, terbukalah peluang untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara, sekolah berasrama yang dikenal mencetak generasi unggul. Berbekal sertifikat OSN dan ketekunan, Fatur berhasil lolos seleksi dan mendapat beasiswa penuh.
“Waktu itu ada alumni yang menyebarkan info soal pendaftaran. Aku coba daftar jalur OSN dan Alhamdulillah keterima,” ujarnya.
Lolos ITB, Jadi Pengurus Asrama dan Pengajar OSN
Semangat Fatur tak berhenti di bangku SMA. Ia terus mempertahankan prestasi akademik hingga akhirnya berhasil masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Ia mengambil jurusan Teknik Elektro dan kini sudah menginjak semester 4.
Untuk meringankan beban orang tuanya, Fatur mengajukan Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) serta Beasiswa Teladan dari Tanoto Foundation. Ia juga mengambil peran sebagai pengurus asrama ITB, sehingga mendapat fasilitas tempat tinggal gratis.
“Waktu tahun pertama masih bayar. Tapi di tahun kedua dan ketiga aku daftar jadi pengurus asrama, akhirnya bisa gratis,” katanya.
Tak hanya itu, Fatur juga mengajar bimbingan OSN Fisika untuk siswa SMA. Dari aktivitas tersebut, ia mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup di perantauan.
Kini, Fatur sedang mempersiapkan diri untuk mengambil program fast track agar bisa langsung melanjutkan S2 hanya dalam satu tahun tambahan. Ia juga bercita-cita untuk kuliah S3 di luar negeri dengan beasiswa penuh.
“Orang tua aku sangat mendukung. Mau lanjut S2 atau S3 pun, mereka tidak keberatan. Justru mereka bilang lanjutin saja selama bisa,” ujar Fatur.
Pulang dan Membuka Akses Pendidikan
Meski kelak ingin menempuh studi hingga jenjang tertinggi, Fatur tak melupakan asal-usulnya. Ia ingin kembali ke kampung halamannya di Probolinggo dan memberikan kontribusi nyata untuk anak-anak desa agar bisa mendapatkan pendidikan lebih baik.
“Problem utama di daerahku itu soal finansial. Mayoritas petani, jadi sekolah itu jadi beban. Aku ingin bantu mereka agar bisa tetap sekolah tinggi,” ungkapnya.
Pengalamannya selama mengikuti berbagai pelatihan dan organisasi di kampus membuat Fatur menyadari bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, tapi tentang memberi manfaat. Ia ingin menjadi sosok yang mampu membawa perubahan bagi lingkungannya.
“Pemimpin itu bukan yang punya jabatan tinggi, tapi yang bisa ngasih dampak dari apa yang dia bisa,” tutupnya.***