INVERSI.ID – Presiden Prabowo Subianto memperkuat sektor pendidikan nasional dengan menghadirkan program Sekolah Rakyat sebagai strategi memperluas akses pendidikan yang merata di seluruh Indonesia. Program ini menjadi tambahan dari berbagai kebijakan pendidikan yang telah berjalan sejak pemerintahan sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Teddy dalam keterangannya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat. Ia menegaskan bahwa tidak ada program strategis pendidikan dari era Presiden Ke-7 RI Joko Widodo yang dihentikan, termasuk Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tetap dilanjutkan hingga saat ini.
“Faktanya, tidak ada program strategis pendidikan dari periode sebelumnya yang tidak berjalan sekarang. Tidak ada program dari periode sebelumnya yang dihentikan. Semuanya berjalan. Semuanya berjalan, bahkan ditambah. Ada Kartu Indonesia Pintar berjalan. Bahkan Presiden Prabowo menambahkan ada sekolah rakyat,” kata Teddy.
Menurutnya, Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan formal. Sasaran program ini mencakup anak putus sekolah maupun mereka yang sama sekali belum pernah mengenyam bangku pendidikan.
“Anak-anak yang tidak bisa sekolah, putus sekolah, atau mungkin bahkan dia tidak pernah sekolah, disekolahkan di sekolah rakyat,” katanya.
Tak hanya menyediakan pendidikan tanpa biaya, program ini juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti asrama, pemenuhan kebutuhan gizi, hingga layanan kesehatan bagi para siswa. Skema tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih optimal bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, Sekolah Rakyat telah menjangkau sekitar 16.000 hingga 22.000 siswa yang tersebar di 166 sekolah di berbagai daerah.
“Tahun ini, akan dibangun lagi 100 sekolah,” katanya.
Selain Sekolah Rakyat, pemerintah juga menginisiasi pembangunan Sekolah Garuda yang terintegrasi dengan kampus-kampus baru. Program ini difokuskan untuk mencetak sumber daya manusia unggul, khususnya di bidang STEM atau Science, Technology, Engineering and Mathematics.
“Tidak ada program yang tidak dilanjutkan. Semua program berjalan dan bahkan ditambah,” ujar Teddy.
Langkah penambahan program pendidikan ini dinilai sebagai upaya mempercepat pemerataan kualitas pendidikan, sekaligus menyiapkan generasi muda Indonesia agar lebih kompetitif di era global dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.