Inversi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terus menunjukkan dampak positif yang nyata, tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi keluarga mereka.
Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh para orang tua dan wali murid, termasuk Parida (57 tahun), nenek dari salah satu siswa di TK An Nur yang berlokasi di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Cucu Parida, Kila Ayuli, yang saat ini berusia hampir enam tahun dan duduk di kelas Taman Kanak-Kanak A (TKA), telah menjadi penerima manfaat program MBG sejak awal masa sekolahnya.
Kehadiran program ini memberikan rasa tenang bagi keluarga karena kebutuhan asupan makanan anak selama berada di sekolah dapat terpenuhi dengan baik.
Menurut Parida, program MBG sangat membantu dalam memastikan bahwa cucunya tetap mendapatkan makanan yang cukup selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Ia mengungkapkan bahwa keberadaan program tersebut meringankan kekhawatiran terkait pemenuhan gizi anak, terutama di tengah aktivitas belajar yang padat. “Dengan adanya MBG, saya merasa sangat terbantu. Anak tetap mendapatkan makanan selama di sekolah,” ujarnya saat ditemui di Bogor pada Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa selama bulan Ramadan, mekanisme pemberian makanan dalam program MBG mengalami penyesuaian. Menu yang disediakan cenderung berupa makanan kering, seperti roti dan susu, yang lebih praktis untuk dikonsumsi di luar jam sekolah.
Meskipun demikian, Parida menilai bahwa penyesuaian tersebut tetap memberikan manfaat yang signifikan bagi keluarga. Makanan yang diterima dapat disimpan dan dikonsumsi saat berbuka puasa atau setelah anak pulang ke rumah.
“Menu yang diberikan berupa makanan kering, seperti roti dan susu. Menurut saya, hal itu tetap baik dan bermanfaat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Parida mengungkapkan bahwa program MBG juga membantu mengatasi situasi ketika anak tidak menghabiskan bekal yang dibawa dari rumah. Dengan adanya makanan tambahan dari sekolah, anak tetap memperoleh asupan yang cukup, sehingga kebutuhan energinya tetap terpenuhi.
Ia menambahkan bahwa dalam beberapa kesempatan, anaknya membawa bekal dari rumah, namun tidak selalu dikonsumsi di sekolah. Dalam kondisi tersebut, keberadaan MBG menjadi solusi yang efektif.
“Terkadang saya membawakan makanan dari rumah, tetapi tidak dimakan. Namun, di sekolah anak tetap mendapatkan makanan dari MBG, sehingga kebutuhan makannya tetap terpenuhi,” jelasnya.
Dari sisi preferensi makanan, Parida juga melihat adanya antusiasme yang tinggi dari anak-anak terhadap menu yang disediakan dalam program MBG. Cucunya, misalnya, sangat menyukai buah-buahan tertentu yang menjadi bagian dari paket makanan, seperti anggur dan lengkeng.
Hal ini menunjukkan bahwa variasi menu yang disajikan dalam program MBG mampu menarik minat anak-anak sekaligus memperkenalkan mereka pada berbagai jenis makanan bergizi.
Selain itu, kebiasaan makan bersama di lingkungan sekolah juga memberikan dampak positif terhadap perilaku makan anak. Parida mengamati bahwa cucunya lebih mudah menerima dan mencoba makanan baru ketika makan bersama teman-temannya dibandingkan saat berada di rumah.
“Kalau makan bersama teman-temannya di sekolah, biasanya anak menjadi lebih mau mencoba makanan, termasuk sayuran,” ungkapnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan makan anak. Interaksi dengan teman sebaya dapat mendorong anak untuk lebih terbuka terhadap variasi makanan yang sebelumnya kurang diminati.
Meskipun program MBG telah memberikan banyak manfaat, Parida tetap menyampaikan harapan agar ke depan menu yang disediakan dapat terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak-anak. Ia berharap adanya variasi menu yang sederhana, tetapi tetap memenuhi standar gizi yang baik.
“Harapannya, program MBG dapat terus berjalan dan menunya semakin beragam, seperti susu, telur, roti, atau nasi dengan lauk ayam,” ujarnya.
Program MBG sendiri merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi yang optimal sejak usia dini. Dengan memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan yang sehat dan seimbang, program ini diharapkan dapat mendukung tumbuh kembang fisik maupun kognitif mereka.
Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, hingga keluarga, menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Sinergi yang baik antar-pemangku kepentingan akan memastikan bahwa manfaat program dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.
Di lingkungan sekolah, program MBG tidak hanya berfungsi sebagai penyedia makanan, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi anak-anak mengenai pentingnya pola makan sehat. Melalui pengalaman langsung, anak-anak dapat belajar mengenali berbagai jenis makanan bergizi serta memahami manfaatnya bagi tubuh.
Secara keseluruhan, program MBG telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mendukung kesejahteraan anak-anak usia sekolah dan keluarganya. Kehadiran program ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang tua dalam memastikan anak-anak mereka mendapatkan asupan yang cukup setiap hari.
Dengan berbagai manfaat yang telah dirasakan, diharapkan program MBG dapat terus dikembangkan dan diperluas jangkauannya, sehingga semakin banyak anak Indonesia yang dapat merasakan dampak positifnya. Melalui upaya bersama, generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan.