Inversi Bagi Muhamad Muhsin (25), pagi pada masa lalu bukanlah awal dari sebuah produktivitas, melainkan lanjutan dari malam yang panjang tanpa kepastian waktu istirahat.
Ia mengaku bahwa dirinya dahulu terbiasa menjalani pola hidup yang kurang teratur, dengan kebiasaan begadang yang kerap membuatnya bangun siang dan menjalani aktivitas harian secara tidak menentu. Sebagai seorang pengemudi ojek, ritme pekerjaannya sering kali bergantung pada kondisi dan permintaan penumpang, sehingga waktu istirahat dan aktivitasnya tidak memiliki pola yang konsisten.
“Iya, dulu sering begitu. Bangun siang, kerja tidak tentu, kadang sampai tidak tidur,” kenangnya sambil menggambarkan masa-masa sebelum perubahan besar dalam kehidupannya terjadi.
Namun, perjalanan hidup Muhsin mengalami perubahan yang cukup signifikan sejak ia bergabung sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini tidak hanya memberikan kesempatan kerja, tetapi juga menjadi ruang pembinaan yang secara tidak langsung membentuk pola hidup yang lebih sehat, teratur, dan produktif bagi para relawan yang terlibat di dalamnya.
Sejak bergabung dengan SPPG, Muhsin mulai mengenal ritme kehidupan yang berbeda dari sebelumnya. Ia mulai terbiasa bangun lebih pagi, menjalani aktivitas dengan jadwal yang lebih terstruktur, serta memiliki tanggung jawab kerja yang lebih jelas. Perubahan ini menurutnya tidak hanya berdampak pada aspek pekerjaan, tetapi juga pada kualitas hidup secara keseluruhan.
“Sekarang yang tadinya saya begadang jadi bisa bangun pagi, bisa melakukan aktivitas di pagi hari. Aktivitas jadi lebih teratur,” ujarnya dengan nada syukur atas perubahan yang dialaminya.
Perubahan pola hidup tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses adaptasi yang cukup bertahap. Lingkungan kerja di SPPG menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi dalam membentuk kebiasaan baru tersebut.
Muhsin merasakan bahwa ia tidak hanya ditempatkan sebagai tenaga relawan, tetapi juga dibimbing untuk menjalani kehidupan yang lebih disiplin, termasuk dalam aspek kedisiplinan waktu dan tanggung jawab pribadi.
Selain itu, ia juga merasakan adanya pembinaan nilai-nilai spiritual di lingkungan kerja. Menurutnya, rekan kerja, kepala SPPG, hingga asisten lapangan secara konsisten memberikan pengingat untuk menjaga ibadah dan tidak meninggalkan kewajiban salat. Hal ini menjadi bagian dari pembentukan karakter yang tidak hanya berfokus pada aspek profesional, tetapi juga pada penguatan nilai moral dan spiritual.
“Dulu saya sering meninggalkan ibadah. Di sini selalu diingatkan, baik dari mitra, kepala SPPG, maupun asisten lapangan. Selalu diingatkan untuk tidak meninggalkan salat. Alhamdulillah sekarang bisa saya jalani secara istiqomah,” tuturnya dengan penuh rasa syukur.
Bagi Muhsin, pengalaman ini menjadi titik balik yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya. Ia tidak lagi sekadar menjalani pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan harian, tetapi juga mulai menemukan arah hidup yang lebih jelas dan terstruktur. Hari-harinya kini diisi dengan aktivitas yang lebih produktif, dengan tujuan yang lebih terarah dan kesadaran yang lebih matang terhadap tanggung jawab pribadi.
Lingkungan kerja yang penuh kebersamaan juga memberikan dampak positif terhadap proses perubahan dirinya. Ia merasakan suasana kerja yang harmonis, saling mendukung, serta tidak diwarnai oleh konflik yang berarti. Kebersamaan tersebut menciptakan rasa nyaman dan semangat kerja yang lebih baik di antara para relawan.
“Kerjasamanya tinggi. Tidak ada yang saling bermusuhan, semua saling merangkul,” ungkapnya menggambarkan suasana kerja di SPPG yang ia rasakan sehari-hari.
Perubahan yang dialami Muhsin tidak hanya berdampak pada dirinya secara pribadi, tetapi juga dirasakan oleh keluarga di rumah. Ia kini dipandang sebagai sosok yang lebih bertanggung jawab, lebih dewasa dalam mengambil keputusan, serta memiliki arah hidup yang lebih jelas dibandingkan sebelumnya.
Perubahan perilaku dan kedisiplinan tersebut memberikan dampak positif terhadap hubungan sosial dan keluarga yang lebih harmonis. Lebih lanjut, Muhsin juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat ia akan memasuki fase baru dalam kehidupannya, yaitu melangsungkan pernikahan.
Hal ini menjadi salah satu pencapaian penting dalam hidupnya, yang semakin memperkuat keyakinannya bahwa perubahan yang ia alami saat ini merupakan bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.
Bagi Muhsin, perjalanan ini bukan hanya sekadar perubahan rutinitas harian, tetapi merupakan transformasi menyeluruh dalam cara pandang dan gaya hidup. Dari kehidupan yang dahulu berjalan tanpa arah yang jelas, kini ia melangkah dengan tujuan yang lebih pasti, lebih terencana, dan lebih bertanggung jawab.
Setiap pagi yang kini ia sambut lebih awal bukan lagi sekadar awal hari, melainkan simbol harapan baru yang terus ia bangun secara perlahan. Pengalaman di SPPG telah menjadi ruang pembelajaran kehidupan yang tidak hanya memberikan pekerjaan, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, dan arah hidup yang lebih bermakna.
Dengan perubahan tersebut, Muhsin menjadi salah satu contoh nyata bagaimana sebuah program sosial seperti Makan Bergizi Gratis melalui SPPG tidak hanya berdampak pada aspek pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial yang lebih luas, termasuk dalam pembentukan karakter dan peningkatan kualitas hidup para relawan yang terlibat di dalamnya.