Halo Inversi! Yogyakarta vibes makin seru nih! Dunia pendidikan dan olahraga di Kota Gudeg ternyata bisa nyatu dengan cara yang kece. Salah satunya lewat program PSIM Goes to School yang kali ini mampir ke SMP Negeri 13 Yogyakarta.
Acara ini bukan sekadar kunjungan biasa, tapi jadi ajang buat nyuntik semangat baru ke generasi muda supaya makin cinta olahraga sekaligus termotivasi berprestasi.
Pemain PSIM Jadi Role Model Anak Sekolah
Empat pemain andalan PSIM Jogja Savio Sheva, Khairul Fikri, Ezequiel Vidal, dan Franco Ramos Mingo datang langsung buat sharing cerita perjuangan mereka di lapangan hijau.
Kehadiran mereka disambut super meriah sama ratusan siswa. Yang bikin vibes makin emosional, Savio Sheva ternyata alumni dari SMP Negeri 13 sendiri. Jadi makin relatable, kan?
Irza Triamanda, Media Officer PSIM, bilang kalau kegiatan ini tujuannya simpel tapi impactful: bikin anak-anak sekolah percaya diri kalau mereka juga bisa sukses kayak para pemain bola idola mereka. “Harapannya, akan lahir bibit-bibit atlet baru yang kelak bisa bela Yogyakarta, bahkan Indonesia,” ujarnya.
Kepala sekolah SMPN 13, Abdurrahman, ngasih apresiasi besar buat PSIM. Dia bilang sekolah ini emang punya tradisi kuat di bidang olahraga. Bayangin aja, mereka punya enam kelas olahraga dengan dua kelas di setiap jenjang. Rata-rata tiap kelas berisi 32 siswa yang emang fokus banget ke pengembangan bakat olahraga.
Prestasinya juga udah seabrek. Dari POPNAS, PERDA, hingga POPDA, anak-anak SMP 13 udah bawa pulang banyak medali. Bahkan tim futsal putri berhasil jadi juara 1, sementara futsal putra sapu juara 3. Ada juga prestasi di cabang renang, voli, sampai sepatu roda. Jadi, nggak heran kalau sekolah ini dipilih jadi salah satu destinasi PSIM Goes to School.
Cerita Seru dari Siswa
Bukan cuma guru atau pemain bola yang excited, tapi juga para siswa. Salah satunya, Malvano, atlet sepatu roda kelas 8. Dia ngaku seneng banget bisa ketemu langsung pemain PSIM.
“Meskipun saya atlet sepatu roda, tapi ketemu pemain-pemain PSIM bikin makin semangat. Rasanya keren banget denger perjuangan mereka. Saya jadi pengen lebih rajin latihan,” ujarnya dengan semangat.
Uniknya lagi, SMPN 13 Yogya punya sistem dukungan keren buat siswa atlet. Anak-anak yang aktif di olahraga kayak futsal, karate, panjat tebing, hingga takraw punya jadwal latihan pagi.
Setelah itu baru masuk kelas sekitar jam 8. Latihan ini bahkan dihitung sebagai jam olahraga formal, jadi siswa tetap bisa fokus akademik tanpa harus ninggalin passion olahraga mereka.
PSIM Jogja: Dekat dengan Akar Rumput
Program PSIM Goes to School ini udah jadi tradisi klub. Tiap musim, mereka rutin berkunjung ke sekolah-sekolah di Yogyakarta buat silaturahmi, ngasih motivasi, dan bikin anak-anak makin dekat dengan dunia sepak bola.
“Kami ingin anak-anak bisa melihat langsung perjuangan pemain bola, biar mereka percaya diri bahwa semua mimpi itu mungkin,” kata Irza lagi.
Dari acara ini jelas keliatan bahwa sepak bola bukan cuma soal pertandingan di stadion, tapi juga inspirasi buat anak muda. Kehadiran pemain PSIM jadi reminder kalau sukses itu hasil dari kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah.
Dan siapa tahu, beberapa tahun ke depan, siswa SMPN 13 Yogya yang hari ini berfoto bareng pemain PSIM, bisa beneran jadi bintang lapangan, bahkan membela timnas. Dari kelas olahraga ke lapangan internasional, kenapa nggak?