INVERSI.ID – Di Indonesia, makanan Jepang sudah jadi bagian dari gaya hidup anak muda. Mulai dari sushi, donburi, sampai aneka jenis mie Jepang yang bikin banyak orang ketagihan. Dari sekian banyak hidangan, ada tiga nama yang paling sering muncul di kepala ketika ngomongin mie Jepang: ramen, udon, dan soba. Meski sama-sama berbentuk mie dan biasanya disajikan dengan kuah atau topping khas Jepang, ternyata ketiganya punya karakter yang berbeda banget, baik dari bahan baku, tekstur, sampai rasa yang dihasilkan.
Bagi pecinta kuliner Jepang, tiga jenis mie ini mungkin sudah familiar. Tapi di balik populernya ramen, udon, dan soba, banyak anak muda yang mungkin belum tahu kalau proses pembuatannya berbeda jauh, terutama dari jenis tepung yang digunakan. Perbedaan ini memengaruhi tekstur, rasa, hingga pengalaman makan yang kamu dapatkan di mangkuk terakhir.
Chef dari restoran ramen Jepang ZUNDO-YA, Masano Takeda, menjelaskan bahwa kunci utama pembeda ada pada kandungan gluten di tepung masing-masing mie. Gluten sendiri adalah protein alami yang ada pada gandum, barley, dan rye, yang memberi elastisitas pada adonan. Dari sinilah asal mula tekstur kenyal khas mie Jepang.
“Udon, Soba, dan Ramen, perbedaannya adalah bahan-bahannya. Ramen lebih mudah dibuat karena gluten. Jadi ketika kita membuat mie udon, kita harus membuatnya lebih kuat, jadi teksturnya berbeda. Tapi kalau Ramen, kita tidak harus membuatnya terlalu gluten,” kata Masano ketika ditemui media di acara pembukaan restoran ZUNDO-YA di Jakarta, Kamis.
Dari penjelasan itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa ramen biasanya dibuat dari tepung dengan kandungan gluten yang lebih tinggi sehingga proses pembuatannya cenderung lebih mudah. Sementara itu, udon perlu diolah lebih kuat karena kandungan glutennya harus menghasilkan tekstur yang tebal dan kenyal. Di sisi lain, soba dibuat dari tepung soba yang bebas gluten sehingga hasilnya lebih lembut dan punya aroma khas yang membedakannya dari kedua mie lain.
Perbedaan dari Topping Sampai Teknik Masak
Selain dari struktur mie, elemen penting lain yang bikin ramen, udon, dan soba terasa berbeda adalah topping-nya. Salah satu topping favorit pecinta ramen tentu saja chashu, yaitu daging yang dimasak perlahan hingga super lembut.
Masano menjelaskan bahwa untuk menghasilkan chashu yang juicy dan empuk, teknik slow cooking wajib dilakukan. Untuk potongan paha ayam, misalnya, proses memasaknya memerlukan sekitar tiga jam pada suhu rendah agar teksturnya tetap utuh dan tidak gampang hancur.
“Jadi kita bisa mempertahankan chashu yang soft, juicy dan tender, kalau pakai api yang besar durasi memasak memang lebih cepat tapi teksturnya bisa hancur,” katanya.
Topping seperti chashu bukan hanya pelengkap, tapi elemen penting yang bisa menentukan kualitas semangkuk ramen. Banyak restoran ramen kelas atas yang tidak main-main dalam memproses daging karena mereka percaya bahwa semangkuk ramen itu adalah karya lengkap, bukan sekadar mie dengan kuah.
Tapi bicara ramen tidak akan lengkap tanpa membahas kuah kaldu. Menurut Masano, kuah kaldu adalah “pemain utama” dari sajian mie Jepang, baik itu ramen, udon, ataupun soba. Khusus untuk ramen, kuah di restoran Jepang biasanya punya rasa yang lebih asin dan lebih kuat dibandingkan ramen yang dijual di Indonesia. Ini bukan hal yang aneh, karena banyak restoran Jepang yang buka cabang di Indonesia memang menyesuaikan rasa dengan selera lokal yang tidak terlalu suka rasa asin ekstrem.
Sementara itu, CEO ZUNDO-YA Shinsuka Umaba menambahkan bahwa perbedaan rasa juga datang dari bahan utama kuah kaldunya. Kalau di Jepang kuah ramen mayoritas dibuat dari daging babi, di Indonesia diganti dengan tulang ayam agar sesuai kebutuhan konsumen.
“Jadi yang spesifik perbedaan antara ramen yang disajikan di Jepang dengan yang di Indonesia itu adalah terletak pada jenis binatangnya saja sudah berbeda. Nah, dari situlah kaldu yang dijadikan asal dari ramennya tentunya rasanya akan berbeda,” kata Umaba.
Umaba juga memaparkan bahwa rahasia rasa otentik kuah ramen tidak terletak pada daging, melainkan pada tulang yang direbus lama hingga mengeluarkan sari kaldu. Inilah alasan kenapa ramen sangat sulit dibuat di rumah. Kamu butuh tulang dalam jumlah besar dan waktu masak berjam-jam agar kuahnya mencapai kekayaan rasa yang sama seperti di restoran.
Ramen, Udon, atau Soba: Mana yang Cocok untuk Kamu?
Setiap jenis mie Jepang punya penggemarnya masing-masing. Anak muda yang suka cita rasa intens biasanya lebih memilih ramen karena kuahnya yang creamy dan kaya lemak, apalagi jika dibuat dalam gaya tonkotsu. Buat yang suka mie super tebal dan kenyal, udon adalah pilihan paling pas. Teksturnya yang lembut dan ukurannya yang besar memberi sensasi makan yang lebih chewy dan fun.
Sementara soba cocok banget buat kamu yang ingin pilihan lebih ringan, segar, dan cenderung sehat. Mie soba yang terbuat dari tepung buckwheat punya aroma khas yang earthy dan biasanya disajikan dingin pada musim panas di Jepang. Gaya penyajiannya cukup unik karena soba bisa dinikmati dengan kuah celup yang asin dan gurih, memberi pengalaman makan yang beda dari mie Jepang lainnya.
Tidak hanya soal rasa, pengalaman makan di restoran autentik Jepang juga jadi faktor penting. Masano dan Umaba menegaskan bahwa ZUNDO-YA berusaha membawa rasa otentik khas Jepang ke Indonesia tanpa mengorbankan preferensi lokal. Mereka menghadirkan ramen dengan kuah yang lembut, ringan, tapi tetap punya karakter khas Jepang. Buat kamu yang penasaran, ZUNDO-YA sudah bisa dinikmati di Gandaria City, Jakarta.
Pada akhirnya, ramen, udon, dan soba bukan hanya soal mie yang berbeda, tapi representasi budaya Jepang yang sangat menghargai detail. Mulai dari tepung, cara meracik adonan, proses memasak topping, hingga teknik mengolah kuah yang sabar dan telaten. Semua proses itu menunjukkan filosofi khas Jepang: ketelitian dan konsistensi adalah kunci.
Buat anak muda pencinta kuliner, memahami perbedaan ini bikin pengalaman makan jadi lebih seru. Kamu bisa lebih menghargai apa yang ada di mangkukmu, bukan hanya makan karena lapar. Setiap mie punya cerita, punya teknik, punya karakter, dan tentu punya penggemarnya masing-masing. Entah kamu tim ramen dengan kuah pekat, tim udon yang chewy, atau tim soba yang segar, semuanya punya tempat di hati pecinta kuliner Jepang.