Inversi. Keberhasilan Husna Adzkia Nisa, siswi berusia tujuh tahun dari SDN Pakujajar CBM Kota Sukabumi, meraih Juara 5 Nasional dalam Lomba Cerdas Mengulas Buku, adalah sebuah studi kasus inspiratif tentang kekuatan literasi dini.
Prestasi ini menegaskan bahwa keunggulan akademik di era digital tidak dapat dipisahkan dari fondasi membaca yang kuat dan kemampuan berpikir kritis. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, literasi sering disebut sebagai “mata uang” dasar untuk segala bentuk kesuksesan.
Ia bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi. Kisah Husna Adzkia Nisa, siswi kelas II SDN Pakujajar CBM, menjadi bukti nyata akan keampuhan filosofi ini.
Husna berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional dengan meraih Juara 5 Lomba Cerdas Mengulas Buku yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikbudristek) di Jakarta, 9–11 November 2025.
Yang menarik, Husna menjadi salah satu finalis termuda dari lebih 250 peserta, menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk mencapai keunggulan intelektual.
Sekolah dan Keluarga: Kolaborasi Mencetak Generasi Literat
Kepala SDN Pakujajar CBM, Sugianto, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian siswanya tersebut. Ia menegaskan bahwa mencetak siswa berprestasi di level nasional adalah sebuah proses yang kompleks, yang menuntut kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua di rumah.
Sekolah Husna sendiri telah menerapkan budaya literasi secara terstruktur:
- Jadwal Rutin: Kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
- Akses Sumber: Jadwal kunjungan rutin ke perpustakaan.
- Aktivitas Ekstrakurikuler: Beragam kegiatan yang secara eksplisit mendorong prestasi siswa.
Sugianto menambahkan bahwa Husna adalah sosok siswi yang aktif, berani, dan memiliki kemampuan luar biasa, tidak hanya dalam literasi, tetapi juga dalam hafalan Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan bahwa literasi dan spiritualitas dapat tumbuh harmonis, menghasilkan pelajar yang cerdas dan berakhlak baik.
Peran Sentral Orang Tua: Role Model Budaya Baca
Di balik prestasi Husna terdapat peran sentral ibundanya, Imas Ismatillah. Imas menceritakan bahwa keikutsertaan Husna dalam lomba bermula dari kesadaran bahwa putrinya memang gemar membaca.
“Kami coba ikut (lomba) karena Husna memang gemar membaca,” ujar Imas. Kisah Husna, yang telah mengenal buku sejak usia dua tahun dan menjadi anggota perpustakaan kota sejak usia lima tahun, menunjukkan bahwa budaya literasi harus ditanamkan sejak dini dan konsisten.
Anak memilih meminjam buku setiap minggu dan lebih suka membaca ketimbang bermain gawai, sebuah anomali positif di era dominasi layar digital.
Imas juga mengungkapkan salah satu strategi kritis lomba: Husna memilih buku digital yang jarang dipilih peserta lain buku tentang “Waspada terhadap Penculikan”. Proses lomba ini menuntut kematangan intelektual yang luar biasa:
“Mengulas buku itu tidak sekadar mendongeng, tapi juga harus mampu berpikir kritis memahami isi buku, kelebihan, dan kekurangannya,” tambah Imas. Hal ini menggarisbawahi bahwa ajang ini bukan sekadar tes memori, melainkan uji kemampuan analisis dan evaluasi dua komponen utama berpikir kritis.
Wali kelas Husna, Aida Ambarawati, membenarkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran ibu Husna sebagai role model yang menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Prestasi Husna kini menjadi inspirasi kolektif bagi teman-teman sekelas dan seluruh pelajar SDN Pakujajar CBM.
Dengan usia yang masih sangat muda, perjalanan Husna Adzkia Nisa masih panjang. Kisahnya menjadi pengingat bagi seluruh institusi pendidikan dan keluarga di Indonesia: investasi pada budaya literasi dan pembentukan karakter kritis adalah kunci paling fundamental untuk mencetak generasi yang mampu bersaing dan unggul di kancah nasional maupun global.