INVERSI.ID – Gunung Semeru kembali erupsi pada Rabu kemarin, membuat banyak orang khawatir soal kondisi para pendaki yang saat itu tengah berada di jalur TNBTS, terutama yang sedang berkemah di kawasan Ranu Kumbolo. Namun di tengah kekhawatiran yang beredar luas di media sosial, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memastikan seluruh pendaki dalam kondisi aman dan sudah bergerak turun menuju Ranupani.
Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, melalui sebuah siaran video, mengonfirmasi bahwa total pendaki yang berada di Ranu Kumbolo berjumlah 129 orang, bukan 178 orang seperti laporan sebelumnya. Bila dihitung secara keseluruhan dengan tambahan petugas, porter, saver, dan Pendamping Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST), jumlahnya mencapai 187 orang.
“Pendakinya 129 orang, kalau total semuanya 187 orang itu termasuk dengan saver, petugas TNBTS, porter, dan Pendamping Pendakian Gunung Semeru Terdaftar (PPGST). Saat ini mereka sedang perjalanan menuju Ranupani,” kata Rudijanta.
Kabar ini tentu melegakan, karena sejak erupsi terjadi, publik langsung ramai membahas apakah para pendaki berada dalam jalur bahaya atau tidak. Dalam pernyataannya, Rudijanta menegaskan bahwa seluruh pendaki berada di zona yang aman karena material erupsi bergerak ke arah selatan hingga tenggara, sedangkan posisi Ranu Kumbolo berada di utara.
“Sedangkan posisi Ranu Kumbolo berada di sisi utara,” ucapnya.
Penjelasan ini menghapus banyak rumor yang sempat beredar bahwa pendaki terjebak atau terpapar abu vulkanik secara langsung. Kondisi geografis Ranu Kumbolo memang cukup jauh dari sektor aliran lahar atau guguran material Semeru, sehingga relatif aman selama proses evakuasi berlangsung.
Selain memastikan keselamatan pendaki, TNBTS kembali mengimbau masyarakat untuk patuh terhadap zona bahaya yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Imbauan ini menjadi penting karena Semeru adalah gunung aktif dengan karakter erupsi yang bisa berubah dalam waktu singkat.
Dalam kesempatan terpisah, Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menyampaikan bahwa tim dari Basarnas sudah bersiaga di Ranupani untuk menyambut rombongan pendaki yang sedang melakukan perjalanan turun. Proses evakuasi berlangsung dengan aman, tertib, dan dikoordinasikan oleh berbagai pihak.
“Evakuasi terkendali dan dikoordinasi oleh petugas (TNBTS) bersama rekan-rekan dari saver, aman semuanya,” kata Endrip.
Ia menambahkan bahwa perjalanan dari Ranu Kumbolo menuju Ranupani membutuhkan waktu antara 2,5 sampai 4 jam. Bahkan dalam kondisi normal, jarak ini memang biasanya ditempuh dalam rentang waktu tersebut, tergantung kondisi fisik pendaki dan cuaca.
“Itu perjalanan normal,” ujarnya.
Proses evakuasi yang berjalan lancar ini bisa terjadi karena komunikasi yang intens antara petugas, relawan, dan berbagai pihak yang berada di lapangan. Tidak hanya memprioritaskan keselamatan pendaki, TNBTS juga langsung mengambil keputusan penting: menutup jalur pendakian Semeru untuk sementara waktu.
Keputusan tersebut tertuang dalam surat pemberitahuan yang diterbitkan Balai Besar TNBTS bernomor PG.17/T.8/TU/HMS.01.08/B/11/2025 tentang Penutupan Pendakian Gunung Semeru. Dalam surat tersebut, dijelaskan bahwa penutupan jalur dilakukan sebagai respons atas kondisi Semeru yang sedang erupsi dan potensi bahaya yang mungkin mengancam pendaki.
Tidak hanya itu, keputusan penutupan jalur juga mempertimbangkan rekomendasi radius bahaya dari PVMBG. Rekomendasi tersebut menetapkan zona berbahaya dalam radius delapan kilometer dari puncak Semeru dan sektoral 20 kilometer ke arah selatan-tenggara. Dengan kondisi semacam ini, pendakian jelas tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, baik dari sisi keselamatan maupun aspek teknis pengawasan.
TNBTS menegaskan bahwa penutupan jalur Semeru sifatnya sementara hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Hal ini bukan hanya soal mencegah risiko, tetapi memastikan tidak ada aktivitas pendakian yang bisa membuat tim penyelamat harus bekerja ekstra ketika kondisi vulkanik tidak stabil.
Penutupan pendakian ini memang berdampak pada banyak pendaki yang sudah merencanakan perjalanan mereka jauh-jauh hari. Namun langkah ini dianggap perlu agar tidak ada insiden besar yang membahayakan nyawa banyak orang. Semeru dikenal sebagai gunung dengan aktivitas vulkanik tinggi sehingga keputusan-keputusan seperti ini adalah bagian penting dalam mitigasi risiko.
Dengan adanya penutupan jalur, para pendaki yang sudah memesan slot kemungkinan besar harus menunda perjalanan mereka. Namun di sisi lain, banyak pendaki memahami bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga keselamatan mereka. Aktivitas pendakian Semeru memang selalu memiliki risiko, sehingga setiap perubahan aktivitas vulkanik harus direspons cepat.
Kabar bahwa seluruh pendaki di Ranu Kumbolo sudah dievakuasi dengan aman menjadi salah satu berita penting di tengah situasi erupsi. Apalagi, Semeru sebelumnya sempat beberapa kali mengalami erupsi signifikan yang menyebabkan aliran lava dan awan panas meluncur ke wilayah selatan. Meski kali ini aktivitasnya mengarah ke zona yang relatif aman dari jalur pendakian, petugas tetap menetapkan standar keselamatan tertinggi.
Ranu Kumbolo sendiri adalah salah satu spot pendakian favorit di Semeru karena keindahan danaunya yang legendaris. Banyak pendaki memilih bermalam di lokasi ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Kalimati atau Arcopodo. Karena lokasinya yang populer, jumlah pendaki di area ini sering kali cukup besar dalam satu waktu, termasuk pada hari terjadinya erupsi.
Untungnya, respons cepat TNBTS, para saver, PPGST, porter, dan Basarnas membuat proses pengamanan dan evakuasi berjalan tanpa hambatan. Koordinasi tim sangat penting dalam situasi seperti ini, terutama agar pendaki tidak panik dan tetap bergerak sesuai instruksi.
Meski pendakian Semeru ditutup, para pendaki dan pegiat outdoor diimbau terus memantau informasi resmi dari TNBTS dan PVMBG. Untuk sementara waktu, kegiatan pendakian harus ditunda hingga pihak berwenang memastikan kondisi Semeru stabil kembali. Keselamatan menjadi prioritas utama, dan keputusan ini menjadi bagian dari langkah mitigasi erupsi gunung api yang wajib dihormati.