INVERSI.ID – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyoroti rendahnya angka kelanjutan pendidikan di provinsinya. Ia mengungkapkan hanya 22 persen lulusan sekolah menengah atas (SMA) di Lampung yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Hal itu disampaikan Mirza saat menghadiri peresmian Emer Islamic Boarding School (EIBOS) di Natar, Lampung Selatan, Sabtu (26/4/2025).
“Dari sekitar 200.000 lulusan SMP setiap tahun, hanya 130.000 yang melanjutkan ke jenjang SMA. Sementara itu, hanya 22 persen lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi,” kata Mirza.
Ia menjelaskan, rendahnya angka kelanjutan pendidikan ini berdampak langsung pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lampung, yang saat ini masih tergolong rendah.
“Indeks Pembangunan Manusia kita masih sangat kecil. Terendah di Sumatera dan peringkat 20 secara nasional. Salah satu faktor yang mendegradasi IPM adalah sektor pendidikan,” ujarnya.
Bonus Demografi dan Tantangan SDM Lampung
Mirza menambahkan, Lampung saat ini memiliki populasi usia produktif sebesar 68 persen. Menurutnya, Lampung hampir memasuki masa bonus demografi, yang bisa menjadi peluang besar jika kualitas sumber daya manusianya (SDM) ditingkatkan.
“Kalau punya kualitas SDM yang bagus, daerah akan cepat berkembang. Tapi sebaliknya, kalau SDM-nya buruk, kemajuan akan terhambat,” kata Mirza.
Ia menekankan pentingnya menyelamatkan generasi muda Lampung mulai sekarang, bukan menunda hingga lima atau sepuluh tahun ke depan.
“Kalau kita tidak serius memperbaiki pendidikan hari ini, saya tidak tahu lima atau sepuluh tahun lagi seperti apa nasibnya,” ujarnya.
Optimisme Lampung untuk Masa Depan
Meski menghadapi tantangan di bidang pendidikan, Mirza tetap optimistis bahwa Lampung memiliki potensi besar untuk maju. Provinsi ini dikenal sebagai penghasil utama berbagai sumber pangan nasional.
“Kita gula nomor satu, jagung nomor tiga, beras nomor tiga. Hampir semua sumber pangan ada di sini, dan produksinya akan terus meningkat 10 hingga 20 tahun ke depan. Lampung akan maju,” katanya.
Namun, Mirza mengingatkan, kemajuan itu harus dipimpin oleh generasi muda Lampung sendiri.
“Yang perlu dicatat, apakah Lampung nanti akan maju karena orang Lampung sendiri atau orang dari luar Lampung? Kalau bukan dari orang Lampung, ke mana generasi muda kita sekarang?” ucapnya.
Ia menegaskan, lima tahun ke depan adalah masa krusial untuk memperkuat SDM Lampung seiring dengan fase pertama menuju Indonesia Emas 2045.
“Sekaranglah saatnya memperbaiki generasi muda Lampung, bukan tahun depan, bukan lima tahun lagi,” tutupnya.***