Halo bro and sis, ada info baru nih dari daerah Jakarta, 10 Mei 2025 pagi buta di Terminal 3 Soekarno‑Hatta, sekelompok siswa berseragam biru dongker sibuk check‑in.
Mereka adalah tim riset SMP Regina Pacis Jakarta: Kezia Talitha, Bintang Rizky, Vanessa Lim, dan Daffa Prasetya. Tujuan mereka: International Creativity & Innovation Awards (ICIA) 2025 di Hanoi, Vietnam.
Proyek mereka, Smart Hydroponic Locker, tercetus gara‑gara harga salad kantin yang melambung. “Kita mikir, kenapa gak nanam sayur sendiri di loker?” cerita Kezia, ketua tim.
Dengan sensor IoT simpel, locker itu bisa atur pH, cahaya LED, dan air otomatis bahkan kirim notifikasi panen via aplikasi.
Perjalanan Dimulai di Tanggal Keramat
Trofi pemenang sebenarnya sudah diumumkan 2 Mei lalu (mereka juara kategori Junior Green Tech), tapi seremoni fisik plus pameran internasional digelar 10–14 Mei.
Makanya, sekolah sengaja “melepas” tim tepat 10 Mei agar momen pamitnya bertepatan dengan Hari Besar mereka. Upacara pelepasan di aula sekolah berlangsung haru.
Kepala Sekolah, Sister Clara, menempel pin bendera kecil Indonesia di blazer tiap anggota tim sambil bilang, “Bawa nilai integritas dan kekompakan Regina Pacis ke dunia.”
Modal Crowdfunding hingga Banjir Dukungan Alumni
Menariknya, 60 % dana keberangkatan mereka berasal dari crowdfunding jualan stiker, totebag bergambar locker hidroponik, dan konser mini akustik di kafe sekitar sekolah. Sisanya disokong alumni angkatan 2010 yang kini bekerja di startup agritech.
“Gue liat prototipe mereka, langsung teringat masa bikin proyek sains cuma pakai kardus mie instan,” tulis seorang alumni di grup WA saat transfer donasi.
Dukungan moral juga datang via video call dari mentor riset Universitas Indonesia yang ikut memberi masukan soal kalibrasi sensor.
Lebih dari Sekadar Medali
Sebelum boarding, guru pembina Pak Sigit sempat nojok ke pojok gate dan nyodorin catatan tangan berisi tiga misi: “Share ilmu, bangun jaringan global, catat insight untuk adik kelas.” Ia menegaskan, “Bawa pulang cerita bukan hanya piala.”
Kezia menambahkan, “Kalau menang, locker bakal diproduksi massal bareng UMKM logam Jakarta.” Target lebih jauh? Kolaborasi dengan dinas pendidikan buat pilot project di 10 SMP negeri sebagai kebun vertikal mini.
Di atas escalator menuju imigrasi, Daffa sempat melambaikan totebag bertuliskan “Invent, Inspire, Impact.” Ia teriak, “SMP juga bisa!” Suara itu menggaung, mengingatkan kita bahwa kreatifitas memang nggak menunggu ijazah.