JAKARTA – Bagi Presiden Prabowo Subianto, program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar kebijakan sosial pemerintah. Lebih dari itu, program ini menjadi taruhan besar bagi masa depan generasi Indonesia, bahkan bagi kepemimpinannya sendiri.
Dalam sebuah diskusi yang disiarkan melalui kanal YouTube, Prabowo Subianto @djojohadikusuma, Presiden secara terbuka menyampaikan bahwa keberhasilan program MBG akan menjadi ukuran nyata bagi komitmen negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
“Saya yakin saya berada di jalan yang benar. Uang kita ada. Saya pertaruhkan kepemimpinan saya 2029, kita lihat,” tegas Prabowo, dikutip Senin (23/3/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap all-in Presiden dalam menjalankan program yang menyasar kebutuhan paling mendasar bangsa: gizi anak-anak Indonesia.
Pemerintah memang mengakui bahwa implementasi MBG masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Hasil evaluasi menunjukkan lebih dari seribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah ditutup sebagai bagian dari proses pembenahan program. “Ada lebih dari seribu yang sudah kita tutup,” ujar Prabowo.
Namun langkah tersebut bukan berarti program melemah. Sebaliknya, pemerintah menegaskan bahwa penutupan itu merupakan bagian dari perbaikan sistem agar program berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Menurut Presiden, persoalan MBG tidak hanya menyangkut distribusi makanan, tetapi juga menyentuh perubahan perilaku masyarakat dalam menjalankan pola hidup sehat.
Edukasi mengenai kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan dinilai masih perlu diperkuat. “Bagaimana kita harus yakinkan mereka. Cuci tangan, kalau mau makan pakai tangan. Kita sudah bagi sendok-sendok plastik,” ujarnya.
Investasi Besar untuk SDM Indonesia
Di tengah berbagai kritik mengenai kebutuhan anggaran dan tekanan fiskal, Presiden menegaskan bahwa MBG tetap menjadi prioritas nasional. Program ini diyakini memiliki dampak jangka panjang yang sangat besar, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (human capital) Indonesia.
Prabowo bahkan menegaskan bahwa anggaran negara seharusnya berpihak pada kebutuhan paling dasar rakyat. “Saya akan bertahan. Sedapat mungkin. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah masih memiliki banyak ruang untuk melakukan efisiensi di sektor lain tanpa harus menghentikan program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. “Jangan ke arah ‘kalau krisis hentikan MBG’. Masih banyak cara lain yang bisa kita hemat,” ujarnya.
Komitmen Presiden terhadap MBG juga tidak lahir dari teori semata. Ia mengaku pernah menyaksikan langsung kondisi anak-anak di desa yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa program ini terus didorong meskipun menghadapi berbagai tantangan. “Saya lihat di desa-desa. Anak umur 11 tahun, badannya seperti anak 4 tahun,” ungkap Prabowo. Bagi Presiden, kondisi tersebut tidak boleh lagi terjadi di Indonesia yang memiliki sumber daya besar.
Dengan segala tantangan yang ada, Prabowo memilih untuk tetap maju dan menjadikan MBG sebagai fondasi pembangunan generasi masa depan. Program ini dipandang bukan sekadar kebijakan kesejahteraan, tetapi investasi strategis jangka Panjang yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan.
Keputusan Presiden mempertaruhkan reputasi kepemimpinannya pada keberhasilan MBG juga menjadi sinyal kuat bahwa program ini merupakan salah satu agenda utama pemerintah dalam membangun Indonesia yang lebih kuat.
Jika program ini berhasil, manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi Indonesia di masa depan. Dan bagi Prabowo, penilaian akhirnya akan datang dari rakyat. “Saya pertaruhkan kepemimpinan saya 2029, kita lihat,” tutupnya.