INVERSI.ID – Tired girl makeup kini menjadi fenomena unik di kalangan anak muda, terutama Generasi Z, yang mulai jenuh dengan standar kecantikan konvensional. Lazimnya, wanita ingin selalu terlihat cantik, segar, dan bebas dari tanda-tanda lelah. Media sosial selama ini dipenuhi tren riasan seperti Clean Girl Makeup, Igari Makeup, hingga No Makeup Makeup Look yang menekankan kesan flawless. Namun berbeda dari tren-tren tersebut, tired girl makeup justru merayakan “ketidaksempurnaan” dengan menjadikan wajah lelah sebagai pusat gaya.
Popularitas tired girl makeup tidak lepas dari keinginan Gen Z untuk melawan ekspektasi bahwa perempuan harus selalu tampak segar dan sempurna. Dalam budaya kecantikan lama, kantung mata, wajah pucat, dan raut lelah dianggap tanda kurang merawat diri. Kini, tanda-tanda itu justru dipeluk sebagai bagian dari ekspresi diri. Alih-alih ditutupi, tired girl makeup mengajak penggunanya untuk menonjolkan apa yang biasanya dianggap “cacat” oleh standar mainstream.
Lebih jauh, tired girl makeup juga terinspirasi dari karakter ikonik Wednesday Addams yang diperankan Jenna Ortega. Wednesday dikenal dengan tampilan pucat, ekspresi dingin, dan aura misterius—ikon estetika yang kini disulap menjadi tren global. Dari karakter inilah, tired girl makeup menemukan pijakan sebagai gaya baru yang lebih santai, realistis, sekaligus membumi.
Asal-usul dan Perbedaan dengan Tren Lain
Meski sepintas mirip dengan riasan goth atau grunge, tired girl makeup punya karakteristik berbeda. Makeup goth lahir dari subkultur musik dengan nuansa gelap, sedangkan grunge populer di era 1990-an dengan estetika acak-acakan khas band alternatif. Sementara itu, tren aegyo-sal dari Korea Selatan justru menonjolkan lemak di bawah mata untuk kesan imut.
Tired girl makeup mengambil elemen-elemen tersebut, tetapi dengan esensi berbeda: wajah yang sengaja dibuat tampak lelah, pucat, dan tidak “dipoles” berlebihan. Hasilnya adalah look yang sederhana namun sarat makna: melawan obsesi pada kesempurnaan.
Inspirasi dari Jenna Ortega sebagai Wednesday Addams
Kesuksesan serial Wednesday di Netflix berperan besar dalam melambungkan tren ini. Tara McDonald, perias wajah sekaligus penata rambut di musim pertama Wednesday, pernah menyebut bahwa inti riasan Wednesday adalah menonjolkan fitur alami Ortega dengan sedikit sentuhan gelap di bawah mata. Foundation pucat ditambah eyeshadow tipis cukup untuk menghasilkan kesan “tidak peduli dengan penampilan”.
Di musim kedua, perias Nirvana Jalalvand menegaskan bahwa gaya riasan Wednesday merepresentasikan karakter yang sibuk memecahkan kasus, bukan sibuk berdandan.
“Wednesday tidak punya waktu untuk mengejar kesempurnaan. Itu sebabnya riasannya minim, tapi tetap punya ciri khas,” ungkapnya.
Interpretasi inilah yang membuat tired girl makeup menarik: ia bukan hanya tren kosmetik, melainkan juga bentuk storytelling tentang karakter, kepribadian, dan sikap terhadap dunia.
Simbol Perlawanan terhadap Perfeksionisme
Kebangkitan tired girl makeup juga bisa dilihat sebagai respons terhadap budaya media sosial yang kerap menuntut kesempurnaan. Era “clean girl aesthetic” sempat mendominasi, di mana kulit harus mulus, riasan harus tipis namun flawless, dan gaya hidup terlihat serba teratur. Namun, semakin banyak anak muda mulai merasa lelah dengan standar tersebut.
Kini, foto buram, photo dumps, dan gaya berantakan justru dianggap lebih autentik. Tired girl makeup hadir sebagai kelanjutan dari tren ini menawarkan ruang untuk mengekspresikan kelemahan, kelelahan, dan sisi manusiawi yang jarang ditampilkan.
Cara Praktis Membuat Tired Girl Makeup
Salah satu alasan tren ini cepat populer adalah karena eksekusinya sederhana. McDonald menjelaskan, “Hampir semua orang bisa melakukan look ini. Kamu tidak perlu jadi makeup artist, tidak butuh tangan yang stabil, bahkan tidak perlu brush khusus.”
Beberapa langkah dasar tired girl makeup antara lain:
- Gunakan foundation atau concealer lebih pucat dari warna kulit alami untuk memberi efek wajah kusam.
- Tambahkan eyeshadow gelap tipis di bawah mata untuk menonjolkan kantung mata.
- Aplikasikan sedikit blush di pipi untuk memberi kesan lelah namun tetap ada sentuhan warna.
- Biarkan alis dan bibir tetap natural tanpa koreksi berlebihan.
Hasilnya adalah tampilan yang seolah mengatakan: “Saya tidak berusaha terlihat sempurna, dan itu tidak masalah.”
Generasi Z dikenal lebih terbuka soal kesehatan mental dan penerimaan diri. Dalam konteks ini, tired girl makeup lebih dari sekadar gaya visual—ia adalah pernyataan sosial. Tren ini menormalisasi kelelahan sebagai bagian dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus ditutupi.
Remaja dan mahasiswa yang sering bergelut dengan tugas, aktivitas padat, atau kerja sambilan bisa merasa relate dengan estetika ini. Riasan tired girl menjadi medium untuk mengekspresikan kenyataan hidup sehari-hari, tanpa harus berpura-pura segar sepanjang waktu.
Masa Depan Tired Girl Makeup
Apakah tren ini akan bertahan lama? Banyak pengamat menyebut bahwa tired girl makeup mungkin tidak memiliki akar budaya sekuat goth atau grunge. Namun, selama masih ada kejenuhan terhadap standar kecantikan sempurna, tren ini akan tetap relevan.
Di era internet, tren kecantikan memang cepat berganti. Tetapi tired girl makeup memberi pelajaran penting: kecantikan tidak harus identik dengan keceriaan atau kesempurnaan. Justru dengan menampilkan sisi rapuh, seseorang bisa terlihat lebih jujur dan autentik.
Tired girl makeup lahir sebagai respons generasi muda terhadap tekanan perfeksionisme dalam budaya kecantikan. Terinspirasi dari karakter Wednesday Addams, tren ini menonjolkan wajah pucat, kantung mata, dan ekspresi lelah sebagai bentuk ekspresi diri yang autentik.
Lebih dari sekadar tren kosmetik, tired girl makeup adalah simbol perlawanan terhadap standar kecantikan yang menuntut kesempurnaan. Ia membuka ruang bagi anak muda untuk merayakan apa adanya, termasuk sisi rapuh dan lelah yang biasanya ditutupi.
Pada akhirnya, tired girl makeup bukan sekadar gaya sementara, melainkan refleksi dari semangat Generasi Z yang ingin jujur terhadap diri sendiri, apa adanya, dan tanpa filter berlebihan.