Inversi. Inisiatif Yayasan Temen Tinemu Temenanan untuk mengupayakan pengakuan sertifikat olahraga rekreasi sebagai poin prestasi di sekolah merupakan langkah progresif. Upaya ini mendesak sistem pendidikan untuk merangkul spektrum keunggulan yang lebih luas, mengakui bahwa disiplin non-akademik sama pentingnya dalam membentuk karakter generasi muda.
Pendidikan ideal abad ke-21 tidak lagi dapat diukur semata-mata dari kecerdasan kognitif. Ia harus mencakup pengembangan holistik, termasuk kecerdasan emosional, sosial, dan kinestetik. Dalam konteks ini, olahraga rekreasi masyarakat, yang sering dianggap sebagai aktivitas pelengkap, memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kerja sama tim, dan disiplin di kalangan pelajar.
Pentingnya pengakuan institusional terhadap peran ini menjadi isu utama dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Yayasan Temen Tinemu Temenanan di Hotel Muria, Semarang, pada Senin (10/11/2025), yang bertajuk “Menanamkan Nasionalisme dengan Olahraga Rekreasi di Kalangan Pelajar dan Masyarakat Umum”.
Memperluas Spektrum Pengakuan Prestasi
Ketua Yayasan Temen Tinemu Temananan, Tri Winarti alias Mbak Wina, menyuarakan aspirasi agar pemerintah memberikan apresiasi yang lebih substantif kepada pelajar yang berpartisipasi dalam lomba olahraga rekreasi. Aspirasi ini berfokus pada satu hal krusial: sertifikat keikutsertaan harus diakui di sekolah dan dihitung sebagai poin prestasi olahraga.
“Saya berharap setelah ini, ketika ada perlombaan seperti ini, tidak hanya sekadar lomba yang menghasilkan piala, tetapi juga sertifikat yang benar-benar diakui pemerintah,” tutur Mbak Wina.
Harapan ini berangkat dari kesadaran bahwa dalam sistem pendidikan formal, nilai-nilai yang diakui harus memiliki basis dokumentasi yang sah. Dengan pengakuan resmi dari pemerintah, sertifikat perlombaan olahraga rekreasi masyarakat dapat digunakan sebagai nilai kependidikan di jenjang sekolah, membuka peluang bagi siswa untuk mendapatkan pengakuan atas bakat dan kerja keras mereka di luar kelas.
Yayasan Temen Tinemu Temenanan secara konsisten menyiapkan bibit unggul untuk diikutsertakan dalam ajang yang lebih tinggi, seperti Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) maupun Festival Olahraga Masyarakat Daerah (FORDA) yang diselenggarakan oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
“Ini sangat terkait dengan kerja sama mengenai pengakuan sertifikat perlombaannya. Sertifikat itu bisa dipakai di bidang pendidikan, karena para pesertanya adalah pelajar dan masyarakat umum,” ungkapnya, menegaskan sinergi antara aktivitas komunitas dan capaian pendidikan formal.
Dukungan Legislatif dan Dorongan Jenjang Berjenjang
Untuk mewujudkan aspirasi ini, pihak yayasan berharap Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim, dapat membantu mendorong aspirasi tersebut kepada dinas-dinas terkait.
Menanggapi permintaan tersebut, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim, menyampaikan dukungan penuh. Ia menekankan bahwa pemberian poin prestasi bagi pelajar adalah hal yang sangat penting, sejalan dengan penerapan sistem penilaian yang berjenjang oleh pemerintah.
Menurut Mualim, kunci pengakuan terletak pada legalitas dan jenjang kompetisi. Ia menyarankan agar kegiatan yang diselenggarakan yayasan tidak berhenti di level kota, tetapi diperluas hingga tingkat provinsi bahkan nasional.
“Nanti harus berjenjang, mungkin dimulai dari bibit tingkat kecamatan, kemudian kota, lalu provinsi. Sebelum pelaksanaan, perlu dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan agar ada pengakuan. Jadi semuanya sudah dipersiapkan,” tegas legislator dari Partai Gerindra tersebut.
Saran ini bersifat konstruktif, memberikan panduan taktis agar sertifikat yang diterbitkan memperoleh legitimasi yang lebih kuat di mata sistem pendidikan.
Apresiasi Yang Lebih Bermakna
Mualim menambahkan, ke depan pemerintah wajib memberikan bentuk apresiasi yang lebih bermakna kepada pelajar. Ia berpendapat bahwa apresiasi tidak selalu harus berupa uang, piala, atau sertifikat saja, tetapi yang terpenting adalah pengakuan dalam bentuk poin prestasi yang dapat digunakan dalam proses pendidikan.
“Misalnya saat mereka akan melanjutkan sekolah atau melamar pekerjaan, mereka sudah memiliki skill yang dibuktikan dengan sertifikat yang diakui. Di sekolah kan ini masuk dalam Sang Juara. Pengakuan seperti ini penting,” bebernya.
Pengakuan ini memiliki dampak jangka panjang. Sertifikat prestasi yang diakui secara berjenjang akan meningkatkan nilai tawar (daya saing) pelajar, baik untuk melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi (misalnya melalui jalur prestasi) maupun saat memasuki dunia kerja.
Inisiatif Yayasan Temen Tinemu Temenanan dan respons positif dari legislatif ini adalah langkah progresif menuju pemerataan definisi prestasi. Hal ini menginspirasi generasi muda untuk mengeksplorasi bakat non-akademik mereka dengan keyakinan bahwa setiap keringat dan kerja keras di luar kelas juga akan dihargai dan diakui oleh sistem, sekaligus memperkuat fondasi nasionalisme melalui semangat kebersamaan dalam olahraga rekreasi.