By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Buah Bekas Kelelawar Berisiko Tularkan Virus Nipah ke Anak
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Buah Bekas Kelelawar Berisiko Tularkan Virus Nipah ke Anak

Kesehatan

Buah Bekas Kelelawar Berisiko Tularkan Virus Nipah ke Anak

Jack
By
Jack
5 months ago
Share
3 Min Read
tangkapan layar ketua IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso memberikan paparan pada seminar daring. (foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A mengimbau para orang tua untuk lebih waspada terhadap kebiasaan anak-anak yang mengonsumsi buah yang sudah digigit atau dimakan oleh kelelawar. Kebiasaan tersebut dinilai berisiko karena dapat menjadi media penularan virus Nipah.

Contents
Waspada Penularan Virus ZoonosisBelum Ada Vaksin dan Pengobatan SpesifikPHBS Jadi Kunci Pencegahan

“Banyak juga kebiasaan kita, anak-anak memungut buah-buah yang bekas dimakan kelelawar, karena malas manjat, buah yang bekas kelelawar kadang-kadang juga dimakan, kalau kelelawarnya mengandung virus nipah, maka ini bisa menularkan ke anak-anak kita,” kata Piprim dalam webinar yang diikuti, Kamis.

Waspada Penularan Virus Zoonosis

Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis atau infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia. Hewan yang diketahui berpotensi menularkan virus ini antara lain kelelawar, babi, serta sejumlah hewan ternak lainnya.

Tingkat kematian akibat virus Nipah tergolong tinggi, mencapai sekitar 75 persen. Artinya, tiga dari empat orang yang terinfeksi berisiko meninggal dunia, sehingga kewaspadaan terhadap sumber penularan menjadi sangat penting.

Karena sifatnya yang zoonotik, Piprim menekankan perlunya meningkatkan kehati-hatian terhadap keberadaan hewan liar di sekitar lingkungan tempat tinggal, termasuk hewan ternak. Ia juga menilai penting adanya kerja sama antara orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk segera melaporkan jika ditemukan kematian mendadak pada hewan liar atau ternak.

Belum Ada Vaksin dan Pengobatan Spesifik

Piprim menyampaikan bahwa hingga saat ini virus Nipah belum memiliki vaksin maupun pengobatan khusus. Gejala awal infeksi virus ini pun kerap menyerupai penyakit virus pada umumnya, seperti demam dan nyeri tubuh, sehingga sering kali tidak langsung terdeteksi.

Jika tidak segera ditangani, infeksi virus Nipah dapat berkembang menjadi radang otak dan menyerang sistem pertahanan tubuh, yang berujung pada kondisi serius.

Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting. Orang tua diimbau untuk mengenali gejala sejak awal dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda mencurigakan.

PHBS Jadi Kunci Pencegahan

Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan kembali menggiatkan kebiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah ini dinilai menjadi kunci utama dalam menekan risiko penularan berbagai penyakit infeksi, termasuk virus Nipah.

Baca Juga :

Debat Panas Ganjar dan Prabowo soal Internet Gratis vs Otak Lambat
Martina Ayu Siapkan Langkah Strategis Usai Terima Bonus SEA Games 2025 Senilai Rp3,4 Miliar

“Jadi ini memang salah satu penyakit yang cukup serius, dan belum ada obat maupun vaksinnya. Oleh karena itu, PHBS menjadi salah satu kunci utama, perilaku hidup bersih dan sehat,” kata Piprim.

Selain menerapkan PHBS, Piprim juga mengingatkan masyarakat untuk tetap bersikap tenang dalam menyikapi informasi terkait virus Nipah. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan berlebihan, agar keluarga dan anak-anak tetap terlindungi.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:Kesehatan AnakVirus Nipah
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Penyalahgunaan Gas N2O Berisiko Rusak Saraf dan Picu Adiksi
Next Article Zoho dan Filosofi Kantor Manusiawi di Tengah Industri Teknologi
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Royalti Jumbo dari Timah, Bangka Belitung Kebagian Rp 425 Miliar Atas Kontribusi Untuk Negara

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index