INVERSI.ID – Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi., Sp.N., M.Si.Med, mengingatkan bahaya penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O) terhadap kesehatan, khususnya risiko kerusakan pada sistem saraf.
Dr. Sholihul menjelaskan bahwa secara ilmiah, penggunaan gas Nitrous Oxide yang dikenal dengan sebutan “Whip Pink” dapat memberikan dampak serius meski digunakan dalam waktu singkat. Efek jangka pendeknya berisiko menonaktifkan vitamin B12 dalam tubuh.
“Tanpa B12 yang aktif, lapisan pelindung saraf (Mielin) akan rusak, di samping itu terjadi juga kekacauan beberapa neurotransmiter (zat yang berperan sebagai mekanisme komunikasi sel saraf) serta menimbulkan hipoxia (kekurangan oksigen),” kata dokter Sholihul.
Ia menambahkan bahwa menghirup gas tersebut juga berpotensi menimbulkan ketergantungan. Secara medis, N2O diketahui memicu pelepasan dopamin pada jalur reward di otak, yang memunculkan sensasi kepuasan secara instan.
Namun, efek tersebut bersifat sangat singkat sehingga otak cenderung terus mencari dosis berikutnya. Pola ini secara perlahan dapat berkembang menjadi ketergantungan psikologis yang kuat atau adiksi.
“Meskipun efek “high”-nya hanya bertahan 1-2 menit, hal inilah yang memicu perilaku “Binging” atau penggunaan berulang kali dalam satu sesi,” tutur dia.
Lebih jauh, dr. Sholihul mengungkapkan bahwa penyalahgunaan gas N2O tidak hanya berdampak pada otak, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang belakang dalam jangka panjang.
“Fenomena ini disebut Subacute Combined Degeneration (SCD),” imbuh dia.
Sebagai perbandingan, ia menjelaskan bahwa penggunaan N2O secara medis dilakukan dengan prosedur yang sangat ketat. Dalam praktik kedokteran, gas tersebut diberikan melalui mesin anestesi dan harus dicampur dengan oksigen.
Kadar oksigen yang digunakan bahkan lebih tinggi dibandingkan udara bebas, yakni di atas 30 persen, serta dilengkapi sistem pengaman yang akan menghentikan aliran gas jika kadar oksigen menurun. Selain itu, terdapat prosedur pembersihan atau wash-out dengan pemberian oksigen murni 100 persen yang hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis terlatih.
“Penggunaan zat yang bertujuan mendapatkan efek “rekreasional” psikotripika tanpa pengawasan tenaga profesional sangat berbahaya,“ ujar dia.