By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Penyalahgunaan Gas N2O Berisiko Rusak Saraf dan Picu Adiksi
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Penyalahgunaan Gas N2O Berisiko Rusak Saraf dan Picu Adiksi

Kesehatan

Penyalahgunaan Gas N2O Berisiko Rusak Saraf dan Picu Adiksi

Jack
By
Jack
5 months ago
Share
2 Min Read
Gas tertawa atau nitrous oxide (N2O). (foto: pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Dokter spesialis neurologi dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul Muhibbi., Sp.N., M.Si.Med, mengingatkan bahaya penyalahgunaan gas tertawa atau nitrous oxide (N2O) terhadap kesehatan, khususnya risiko kerusakan pada sistem saraf.

Dr. Sholihul menjelaskan bahwa secara ilmiah, penggunaan gas Nitrous Oxide yang dikenal dengan sebutan “Whip Pink” dapat memberikan dampak serius meski digunakan dalam waktu singkat. Efek jangka pendeknya berisiko menonaktifkan vitamin B12 dalam tubuh.

“Tanpa B12 yang aktif, lapisan pelindung saraf (Mielin) akan rusak, di samping itu terjadi juga kekacauan beberapa neurotransmiter (zat yang berperan sebagai mekanisme komunikasi sel saraf) serta menimbulkan hipoxia (kekurangan oksigen),” kata dokter Sholihul.

Ia menambahkan bahwa menghirup gas tersebut juga berpotensi menimbulkan ketergantungan. Secara medis, N2O diketahui memicu pelepasan dopamin pada jalur reward di otak, yang memunculkan sensasi kepuasan secara instan.

Namun, efek tersebut bersifat sangat singkat sehingga otak cenderung terus mencari dosis berikutnya. Pola ini secara perlahan dapat berkembang menjadi ketergantungan psikologis yang kuat atau adiksi.

“Meskipun efek “high”-nya hanya bertahan 1-2 menit, hal inilah yang memicu perilaku “Binging” atau penggunaan berulang kali dalam satu sesi,” tutur dia.

Lebih jauh, dr. Sholihul mengungkapkan bahwa penyalahgunaan gas N2O tidak hanya berdampak pada otak, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan pada sumsum tulang belakang dalam jangka panjang.

“Fenomena ini disebut Subacute Combined Degeneration (SCD),” imbuh dia.

Sebagai perbandingan, ia menjelaskan bahwa penggunaan N2O secara medis dilakukan dengan prosedur yang sangat ketat. Dalam praktik kedokteran, gas tersebut diberikan melalui mesin anestesi dan harus dicampur dengan oksigen.

Baca Juga :

Mengenal Penyakit Arbovirosis, Lengkap Gejala dan Penyebabnya
Sebut AI Dapat Tingkatkan Produktivitas Manusia, Microsoft: Indonesia Jadi Lebih Maju di 2045

Kadar oksigen yang digunakan bahkan lebih tinggi dibandingkan udara bebas, yakni di atas 30 persen, serta dilengkapi sistem pengaman yang akan menghentikan aliran gas jika kadar oksigen menurun. Selain itu, terdapat prosedur pembersihan atau wash-out dengan pemberian oksigen murni 100 persen yang hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis terlatih.

“Penggunaan zat yang bertujuan mendapatkan efek “rekreasional” psikotripika tanpa pengawasan tenaga profesional sangat berbahaya,“ ujar dia.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:Gas N2OPeringatan Dini
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Virus Nipah Belum Ada Vaksin, Dokter Anak Imbau Perkuat PHBS
Next Article Buah Bekas Kelelawar Berisiko Tularkan Virus Nipah ke Anak
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index