JAKARTA. Lupakan sejenak drama Korea atau sinetron di televisi. Panggung hiburan utama Indonesia selama 24 jam terakhir adalah Instagram, dengan pemeran utamanya dua menteri Kabinet Merah Putih.
Dalam sebuah pertunjukan yang langka dan sangat terbuka, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Kelautan & Perikanan Sakti Wahyu Trenggono terlibat dalam perang data dan sindiran, mengubah platform media sosial menjadi arena debat anggaran negara yang menegangkan sekaligus menggelitik.
Semua berawal dari panggung formal. Dalam sebuah acara di Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Selasa (10/2), Menkeu Purbaya dengan percaya diri mempertanyakan mengapa industri galangan kapal dalam negeri belum juga menerima pesanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Padahal, menurutnya, anggaran untuk itu sudah digelontorkan.
“Kan aneh nggak masuk akal, uangnya sudah gua keluarin. Ordernya nggak ada. Ini apa-apaan,” semprot Purbaya di hadapan para pengusaha, menyiratkan adanya masalah di pihak KKP.
Alih-alih memberikan klarifikasi melalui jalur birokrasi yang sunyi, Menteri Trenggono memilih jalur cepat yang penuh sorotan, Instagram. Beberapa jam kemudian, melalui akun pribadinya @swtrenggono, ia melancarkan serangan balik yang tajam dan langsung menusuk ke jantung argumen Purbaya.
“Yth Menteri Keuangan, supaya Anda paham dan cerdas, bahwa dana untuk pembangunan kapal tersebut bersumber dari pinjaman luar negeri dari pemerintah UK,” tulis Trenggono, seraya meminta Purbaya untuk mengecek kembali data anak buahnya di Kemenkeu.
Ini adalah momen ‘skakmat’. Trenggono tidak hanya membantah, tetapi juga mengoreksi pemahaman Menkeu di depan jutaan mata netizen. Sontak, jagat maya pun bergemuruh. Tagar #KabinetRetak dan #PurbayaTrenggono menjadi trending. Netizen yang selama ini hanya menjadi penonton kebijakan, kini bertransformasi menjadi juri dan komentator. Meme bertebaran, membandingkan debat menteri ini dengan pertengkaran remaja di media sosial.
Keriuhan ini dengan cepat memicu “alarm” di kalangan politisi. Ketua DPP PKB, Daniel Johan, menyebut insiden ini sebagai cerminan kurangnya soliditas dan koordinasi di dalam kabinet. “Sesama menteri kok saling mendebat secara terbuka begitu, kelihatan nggak kompak yang dipertontonkan di hadapan rakyat,” ujarnya.
Namun, seperti sinetron yang bagus, drama ini memiliki akhir yang cepat dan tak terduga. Kurang dari 24 jam setelah ‘perang’ dimulai, drama berakhir dengan manis. Puncaknya adalah pengakuan dari Menkeu Purbaya, “Mungkin saya datanya salah,” yang dikutip dalam sebuah berita online.
Menteri Trenggono, yang berada di atas angin, memilih untuk tidak jumawa. Ia mengunggah foto kebersamaannya dengan Purbaya, sembari menulis caption penutup yang elegan dan berkelas, seolah menjadi sutradara yang mengakhiri pertunjukan.”That’s all Folks. Back to work ya,” tulis Trenggono, sebuah ‘mic drop’ yang mengakhiri drama 24 jam tersebut.
Meski drama telah usai dan kedua menteri kembali bekerja, pertanyaan yang lebih besar kini menggantung di benak publik. Jika miskoordinasi data anggaran kapal saja harus diselesaikan melalui “perang konten” di Instagram, bagaimana dengan koordinasi untuk isu-isu lain yang lebih krusial dan tidak terlihat oleh publik?
Insiden ini, betapapun menghiburnya, menjadi pengingat serius tentang soliditas dan profesionalisme di jantung pemerintahan