JAKARTA – Isu keterbatasan cadangan minyak nasional yang selama ini hanya bertahan sekitar tiga pekan kini menjadi titik balik transformasi besar. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah akan membangun fasilitas storage minyak mentah raksasa di Sumatera guna mendorong ketahanan energi nasional hingga 90 hari.
Langkah ini bukan sekadar wacana. Investor sudah dikunci. Komitmen politik sudah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Dan proyek ini diposisikan sebagai fondasi baru kedaulatan energi Indonesia.
Saat ini, kapasitas penyimpanan minyak mentah Indonesia hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 23 hari. Angka ini jauh dari standar internasional yang umumnya berada di kisaran 90 hari cadangan strategis.
“Pembangunan ini wajib dilakukan. Pasalnya saat ini tempat penyimpanan minyak mentah Indonesia hanya mampu menyimpan minyak mentah untuk kebutuhan 23 hari,” ujar Bahlil di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Alih-alih dipandang sebagai kelemahan, keterbatasan ini kini dijadikan momentum reformasi infrastruktur energi yang telah stagnan puluhan tahun.
Pemerintah menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah skala besar di Sumatera. Lokasi ini dinilai strategis karena dekat jalur perdagangan internasional dan pusat distribusi energi nasional.
Fasilitas tu dibangun dengan target yang jelas. Mulai agar cadangan minyak mentah nasional meningkat hingga 3 bulan, atau 90 hari, standar ketahanan energi Indonesia sejajar negara maju, Risiko gejolak global bisa ditekan, dan terakhir
akan membuat APBN lebih terlindungi dari lonjakan harga mendadak
“Rencana pembangunan storage telah dilaporkan kepada Presiden. Investor juga sudah ada,” tegas Bahlil. Artinya, proyek ini telah masuk tahap konkret, bukan lagi diskusi konsep.
Transformasi storage nasional menjadi sangat relevan di tengah dinamika global—mulai dari konflik Timur Tengah, ancaman gangguan Selat Hormuz, hingga fluktuasi harga minyak dunia.
Selama ini, ketergantungan pada impor dengan kapasitas penyimpanan terbatas membuat Indonesia rentan terhadap shock eksternal. Dengan cadangan 90 hari diharapkan pemerintah punya ruang manuver lebih panjang, distribusi energi lebih stabil, harga domestik lebih terkendali, dan ketahanan industri serta logistik lebih kuat.
Jika terealisasi, lonjakan kapasitas dari 23 hari menjadi 90 hari akan menjadi lompatan paling signifikan dalam sejarah infrastruktur penyimpanan energi Indonesia. Di tengah kritik terhadap lemahnya cadangan energi masa lalu, pemerintah memilih menjawab dengan aksi nyata.
Storage raksasa di Sumatera bukan hanya proyek fisik—melainkan simbol bahwa Indonesia sedang mengejar ketertinggalan infrastruktur dan membangun sistem pertahanan energi yang lebih tahan krisis.