INVERSI.ID – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan menyoroti pentingnya evaluasi sistem transportasi publik dengan pendekatan berperspektif gender pasca-insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam.
Anggota Komnas Perempuan, Yuni Asrianti, menegaskan bahwa aspek keselamatan transportasi publik harus dirancang untuk melindungi seluruh pengguna, terutama perempuan dan kelompok rentan yang kerap bergantung pada transportasi umum untuk aktivitas sehari-hari.
“Pentingnya evaluasi berperspektif gender untuk memastikan bahwa standar keselamatan, prosedur darurat, dan desain kebijakan transportasi benar-benar melindungi semua penggunanya dari risiko kecelakaan dan secara khusus perempuan dan kelompok rentan, juga dari kekerasan berbasis gender di ruang publik,” kata Anggota Komnas Perempuan Yuni Asrianti di Jakarta, Rabu (29/4).
Menurut Yuni, masih terdapat banyak kelemahan pada infrastruktur dan sistem keselamatan perkeretaapian yang dinilai belum memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat.
Ia menilai keterbatasan teknologi perlintasan kereta dan penggunaan sistem manual di sejumlah titik menjadi indikator masih lemahnya perhatian terhadap aspek keselamatan publik.
“Infrastruktur dan teknologi perlintasan kereta masih terbatas, termasuk sistem manual di banyak titik menunjukkan penundaan terjadi dalam kurun waktu lama yang mengindikasikan kelalaian serius dalam penyediaan infrastruktur keselamatan yang memadai, setara dan inklusif bagi semua warga, termasuk bagi perempuan pekerja yang bergantung pada transportasi publik untuk mobilitas harian mereka,” kata Yuni Asrianti.
Komnas Perempuan juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi kecelakaan yang menewaskan 15 perempuan dalam insiden tersebut.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan kereta api, yang melibatkan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line lintas Cikarang di Stasiun Bekasi Timur. Pikiran dan solidaritas kami bersama para korban, keluarga, dan seluruh pihak yang terdampak,” katanya.
Insiden kecelakaan di Bekasi Timur kini menjadi perhatian publik dan memunculkan desakan agar evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap sistem keselamatan transportasi publik, termasuk penerapan kebijakan yang lebih inklusif bagi perempuan dan kelompok rentan.