Inversi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin dipandang sebagai salah satu kebijakan strategis pemerintah yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek masyarakat, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Kebijakan ini dinilai mampu menjadi instrumen penting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) sekaligus menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tengah dinamika global yang penuh tantangan.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai bahwa program MBG merupakan bentuk investasi jangka panjang yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya generasi muda.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa (28/4), ia menegaskan bahwa kebijakan seperti ini memang tidak dirancang untuk memberikan dampak instan, melainkan membutuhkan waktu agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
“Program makan gratis adalah langkah baru dan merupakan investasi jangka panjang. Hasilnya memang tidak langsung terlihat, karena membutuhkan waktu untuk menunjukkan dampak nyata,” ujar Shan.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks kebijakan ekonomi, hasil dari suatu program umumnya baru dapat terlihat dalam kurun waktu 12 hingga 15 bulan setelah implementasi. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran dan konsistensi dalam menjalankan kebijakan agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai secara berkelanjutan.
Di tengah tekanan global yang semakin kompleks, seperti kenaikan harga energi, konflik geopolitik, serta tantangan ketahanan pangan, Indonesia dinilai masih berada dalam posisi yang relatif stabil. Shan melihat bahwa kemampuan pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok menjadi salah satu faktor utama yang mendukung ketahanan ekonomi nasional.
“Saya melihat Indonesia cukup baik dalam menjaga pasokan kebutuhan pokok seperti beras, ayam, dan telur,” ungkapnya.
Menurutnya, keberhasilan dalam menjaga stabilitas pasokan pangan tidak hanya berdampak pada pengendalian inflasi, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam konteks ini, program MBG memiliki peran penting dalam memastikan akses masyarakat terhadap makanan bergizi, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak usia sekolah.
Program MBG dinilai tidak hanya berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar seperti makanan, listrik, dan air, masyarakat dapat lebih fokus pada aktivitas produktif, termasuk pendidikan dan pekerjaan.
“Ketika kebutuhan dasar seperti makanan, listrik, dan air terpenuhi, itu merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup. Hal tersebut juga akan berdampak pada produktivitas masyarakat secara keseluruhan,” jelas Shan.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa kebijakan MBG dapat memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional. Selain meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan, program ini juga berpotensi mendorong aktivitas ekonomi di sektor pangan, distribusi logistik, serta penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, keberadaan program ini juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam melakukan reformasi ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat dari berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif, termasuk stabilitas pertumbuhan ekonomi, pengendalian inflasi, serta meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.
Menurut Shan, faktor-faktor tersebut menjadi perhatian utama bagi para investor dalam mengambil keputusan investasi. Stabilitas kebijakan, konsistensi pemerintah dalam menjalankan program, serta kredibilitas institusi menjadi elemen penting yang menentukan daya tarik suatu negara di mata investor global.
“Investor melihat data dan indikator ekonomi secara menyeluruh. Dan berdasarkan data terbaru, tren yang terlihat saat ini menunjukkan arah yang positif,” tambahnya.
Ke depan, Shan menilai bahwa peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbuka lebar. Bahkan, apabila tensi konflik global mulai mereda dan stabilitas ekonomi dunia kembali terjaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi melampaui angka 6 persen.
Optimisme ini didukung oleh berbagai kebijakan strategis pemerintah, termasuk program MBG yang berfokus pada peningkatan kualitas SDM sebagai aset utama pembangunan nasional. Dengan SDM yang sehat, produktif, dan berkualitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing di tingkat global.
Program Makan Bergizi Gratis pada akhirnya tidak hanya dipandang sebagai kebijakan sosial semata, tetapi juga sebagai investasi strategis yang memiliki dampak jangka panjang bagi pembangunan ekonomi. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Dengan sinergi antara pemenuhan kebutuhan dasar, penguatan kualitas SDM, serta stabilitas ekonomi, program MBG diharapkan mampu menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing di masa depan.