JAKARTA — Krisis global akibat perang dan terganggunya rantai pasok internasional mulai memaksa banyak negara kembali melirik alam sebagai sumber ketahanan hidup. Uni Eropa (UE) bahkan mulai mengandalkan kotoran sapi sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman krisis pupuk global yang dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah.
Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, negara-negara modern sekalipun mulai kembali kepada pendekatan agraris dan sumber daya alami demi menjaga ketahanan pangan.
Menurut laporan Politico, Uni Eropa memilih strategi jangka panjang berbasis pupuk kandang dibanding mengambil langkah cepat seperti mencabut tarif impor pupuk dari Rusia dan Belarusia.
Krisis ini dipicu terganggunya jalur perdagangan global akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang memengaruhi distribusi melalui Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut menangani sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia dan seperlima perdagangan gas alam cair (LNG), bahan utama produksi pupuk nitrat.
Situasi itu membuat dunia mulai menghadapi ancaman kekurangan nutrisi tanaman dan potensi guncangan pangan global.
Di tengah ancaman tersebut, Komisi Eropa justru mendorong pemanfaatan sumber daya alami seperti kotoran sapi untuk memperkuat ketahanan pupuk jangka panjang.
Namun, tidak semua pihak di Eropa yakin strategi tersebut cukup kuat untuk menghadapi ancaman krisis global yang semakin besar.
“Pupuk kandang dapat menjadi kontribusi, tetapi tidak akan pernah dapat menggantikan pupuk berbasis urea, pupuk berbasis nitrogen,” ujar anggota Parlemen Eropa asal Italia dan anggota Komite AGRI, Herbert Dorfmann.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana negara-negara maju mulai kembali menyadari pentingnya kedekatan dengan alam dan budaya pertanian tradisional sebagai fondasi bertahan di tengah krisis dunia.
Bagi Indonesia, situasi tersebut dinilai menjadi pelajaran penting. Sebagai negara agraris dengan kekayaan lahan pertanian, peternakan, dan budaya desa yang masih kuat, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk membangun ketahanan pangan dan energi berbasis sumber daya lokal.
Ketika Eropa mulai melirik pupuk kandang untuk menjaga produksi pangan, Indonesia justru dinilai tidak boleh meninggalkan akar budaya agraris yang selama ini menjadi kekuatan utama bangsa.
Budaya gotong royong petani, sistem pertanian terpadu, hingga pemanfaatan limbah ternak dan organik sebenarnya telah lama hidup di masyarakat Indonesia sebelum era ketergantungan tinggi terhadap pupuk kimia dan impor pangan.
Krisis global saat ini memperlihatkan bahwa modernisasi tanpa ketahanan lokal dapat menjadi titik lemah ketika perang dan geopolitik mengguncang rantai pasok dunia.