JAKARTA — Kecelakaan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur kembali membuka satu pertanyaan lama yang belum pernah benar-benar tuntas di sektor transportasi Indonesia: seberapa besar faktor manusia masih menjadi titik terlemah sistem keselamatan publik?
Di tengah kemajuan teknologi persinyalan dan modernisasi perkeretaapian, tragedi yang menewaskan dan melukai puluhan penumpang itu justru memperlihatkan bahwa kesalahan koordinasi, keterlambatan respons, hingga pengambilan keputusan manusia tetap bisa berujung fatal.
Polisi kini telah meningkatkan kasus tersebut ke tahap pidana dan menetapkan tersangka dalam insiden yang mengguncang publik itu. Investigasi juga terus berjalan dengan memeriksa puluhan saksi, mulai dari petugas operasional hingga pihak terkait di lapangan.
“Sudah ada (tersangka)” kata Kasubditlaka Ditgakkum Korlantas Polri Kombes Mariochristy P.S. Siregar usai rapat dengan Komisi V di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (21/5).
Namun ia enggan mengungkap siapa tersangka dalam peristiwa itu. Ia hanya bilang tersangka dijerat Pasal 310 Ayat 1 UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Mario mengatakan barang bukti dalam kasus tersebut juga telah disita, yakni taksi yang tertabrak KRL.
“Barang buktinya taksinya yang pasti ada tersangkanya. Polisi tetap memberkas perkara ini. proses udah sidik, udah kelar, tinggal waktu aja nanti kapan mulai disidangkan,” ujar dia.
Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap temuan awal yang memicu sorotan besar. KA Argo Bromo Anggrek disebut masih menerima sinyal hijau meski di jalur yang sama terdapat KRL yang berhenti akibat gangguan operasional sebelumnya. Dugaan gangguan persinyalan dan komunikasi antarsistem kini menjadi fokus utama penyelidikan.
Dalam paparannya, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono menjelaskan, tabrakan antara KA 5181 Commuter Line dengan kendaraan roda empat di perlintasan sebidang JPL Bekasi Timur jalur hilir terjadi pada pukul 20.48.29 WIB. Beberapa menit setelah kejadian tersebut, tepatnya pukul 20.50.43 WIB, KA Argo Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar beraspek hijau.
“KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau atau berwarna hijau,” ujar Soerjanto dalam rapat kerja tersebut.
Ia menegaskan seluruh aspek teknis dan operasional sedang diperiksa secara independen untuk memastikan penyebab kecelakaan teridentifikasi objektif.
Namun di luar aspek teknis, banyak pihak menilai tragedi Bekasi Timur adalah pengingat keras bahwa modernisasi transportasi tidak cukup hanya membeli teknologi.
Sistem secanggih apa pun tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya.
Di media sosial, berbagai kesaksian penumpang dan pengamat transportasi justru mengarah pada kemungkinan keterlambatan komunikasi antarpetugas, respons darurat yang tidak sinkron, hingga pengambilan keputusan dalam hitungan menit yang menentukan hidup dan mati penumpang.
Faktor manusia dalam transportasi sebenarnya bukan cerita baru di Indonesia. Dari tabrakan kereta, kecelakaan pesawat, hingga insiden kapal laut, investigasi berulang kali menemukan pola yang mirip: kelelahan operator, miskomunikasi, prosedur yang tidak dijalankan sempurna, atau pengawasan yang longgar.
Di sisi lain, publik mulai mempertanyakan apakah budaya keselamatan di transportasi umum Indonesia benar-benar sudah menjadi prioritas utama, atau sekadar slogan setelah tragedi terjadi.
Ketua Komisi V DPR RI Lasarus bahkan sempat mempertanyakan lambatnya proses investigasi KNKT dalam rapat bersama pemerintah.
“Kenapa lama banget investigasi ini,” kata Lasarus dalam rapat Komisi V DPR.
Bagi banyak korban dan keluarga penumpang, jawaban teknis saja mungkin tidak akan cukup.
Karena setiap tragedi transportasi selalu meninggalkan pertanyaan yang sama: mengapa pelajaran lama terus gagal mencegah korban baru?
Dan Bekasi Timur kini menjadi pengingat paling pahit bahwa di balik rel modern, lampu sinyal digital, dan sistem otomatis, keselamatan publik tetap sangat bergantung pada satu hal yang paling rapuh — manusia.