JAKARTA – Di tengah gejolak geopolitik global yang memicu ketidakpastian pasokan energi dan lonjakan harga di banyak negara, Indonesia justru mencatatkan capaian yang menarik perhatian dunia. Lembaga keuangan global JP Morgan menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara dalam indeks ketahanan energi global 2026, sebuah pengakuan yang menunjukkan bahwa berbagai kebijakan energi nasional mulai membuahkan hasil nyata.
Capaian tersebut dinilai tidak datang secara kebetulan. Di balik pengakuan internasional tersebut terdapat serangkaian langkah strategis yang dijalankan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memastikan Indonesia tetap aman menghadapi badai krisis energi global.
Jika dicermati, setidaknya terdapat enam pilar utama yang menjadi fondasi penguatan ketahanan energi nasional dalam beberapa tahun terakhir, yakni menjaga stabilitas harga energi, melakukan diversifikasi sumber pasokan melalui negosiasi internasional, mempercepat hilirisasi, meningkatkan produksi migas domestik, mengembangkan gas sebagai energi transisi, serta memperkuat kerja sama energi global.
Bahlil sendiri tidak menutup mata terhadap tantangan besar yang dihadapi Indonesia. Sebagai negara yang pernah menjadi eksportir minyak dan anggota OPEC, Indonesia kini harus menghadapi kenyataan sebagai importir energi dengan produksi minyak domestik sekitar 605.000 barel per hari, sementara kebutuhan nasional telah mencapai 1,6 juta barel per hari.
“Dalam kondisi ini kita harus putar otak bagaimana caranya harus mencapai kemandirian energi,” kata Bahlil pertengahan Mei lalu di Jakarta.
Pernyataan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai langkah konkret di lapangan. Salah satu capaian penting terjadi pada 2025 ketika produksi minyak nasional berhasil melampaui target APBN untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Keberhasilan ini dicapai melalui percepatan optimalisasi sumur-sumur tua yang selama bertahun-tahun tidak produktif meskipun masih memiliki cadangan minyak.
Pemerintah mendorong Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) memanfaatkan teknologi baru untuk meningkatkan produksi, sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumur secara legal.
Di sektor hulu migas, pendekatan tegas juga diterapkan terhadap proyek-proyek strategis yang bertahun-tahun mengalami stagnasi. Salah satu contohnya adalah Blok Abadi Masela, proyek gas raksasa yang sempat tertahan hampir tiga dekade.
“Kalau you (Inpex) tak jalanin 6 bulan, saya cabut, dan alhamdulillah sekarang sudah tender engineering, procurement, and construction (EPC)-nya,” jelas Bahlil.
Hasilnya mulai terlihat. Proyek senilai sekitar US$21 miliar tersebut kini telah memasuki tahap lelang konstruksi. Sementara di Kalimantan Timur, temuan baru di Blok Ganal diproyeksikan mulai memberikan kontribusi produksi signifikan pada 2029.
Pilar berikutnya adalah penguatan energi berbasis sumber daya domestik melalui program biodiesel. Kebijakan mandatori biodiesel yang dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun berhasil menciptakan tonggak sejarah baru pada 2026 ketika Indonesia mampu menghentikan impor solar.
Keberhasilan tersebut ditopang oleh implementasi campuran biodiesel sebesar 40 persen yang memanfaatkan minyak sawit dalam negeri sebagai substitusi energi impor. Pemerintah bahkan berencana meningkatkan komposisi tersebut menjadi 50 persen.
Tidak berhenti di sana, pemerintah kini menyiapkan langkah serupa untuk sektor bensin melalui pengembangan bioetanol. Setelah mempelajari keberhasilan Brasil, pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol sebesar 20 persen pada bensin mulai 2028.
“Kalau kita mandatori 20%, berarti kita kurangi impor bensin 8 juta kiloliter,” tegas Bahlil.
Di tengah banyak negara yang masih berjuang menghadapi dampak krisis energi global, Indonesia justru berhasil menjaga stabilitas pasokan dan daya saing harga energi. Pengakuan JP Morgan yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia menjadi indikator bahwa berbagai kebijakan tersebut telah memberikan hasil yang terukur.
Karena itu, tidak mengherankan apabila berbagai langkah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belakangan menjadi sorotan publik. Di balik berbagai perbincangan yang berkembang, terdapat capaian konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat, yakni terjaganya pasokan energi nasional dan semakin kuatnya fondasi menuju kemandirian energi Indonesia.