JAKARTA – Upaya pemerintah mempercepat peningkatan produksi minyak nasional mulai menunjukkan hasil yang semakin nyata. Salah satu buktinya datang dari keberhasilan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang mencatatkan lonjakan produksi luar biasa dari sumur pengembangan PEBO#30 di Lapangan Pematang Bow, Duri, Riau.
Sumur baru tersebut berhasil menghasilkan produksi awal sebesar 835 barel minyak per hari (BOPD), atau lebih dari delapan kali lipat dibanding target awal yang hanya sekitar 100 BOPD. Capaian ini menjadi sinyal positif bagi upaya penguatan produksi migas nasional di tengah tantangan penurunan alami yang terjadi di berbagai lapangan minyak tua.
Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan hasil konkret dari berbagai langkah percepatan dan optimalisasi sektor hulu migas yang terus didorong pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dalam beberapa kesempatan, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya percepatan pemboran sumur baru, peningkatan kegiatan workover, dan optimalisasi potensi lapangan eksisting guna menjaga ketahanan energi nasional.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa performa sumur PEBO#30 jauh melampaui ekspektasi awal. “Sumur PEBO#30 telah selesai dibor dan mulai berproduksi pada 2 Juni 2026 dengan capaian produksi 835 BOPD. Hasil ini jauh di atas target yang direncanakan,” ujar Djoko, Sabtu (6/6) di Jakarta.
Pencapaian tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi industri hulu migas nasional. Di tengah upaya menjaga stabilitas produksi nasional, tambahan produksi dari sumur baru dengan performa tinggi menjadi faktor penting untuk mengimbangi laju penurunan produksi alami yang terjadi di sejumlah lapangan migas besar.
Secara teknis, sumur PEBO#30 dibor menggunakan rig BDSI-60 dan berhasil diselesaikan dalam waktu relatif cepat, yakni hanya 26 hari. Pengeboran dilakukan menggunakan metode directional drilling atau pengeboran miring dengan target lapisan reservoir MN5200 dan MN5300 pada kedalaman sekitar 5.270 hingga 5.373 kaki measured depth (MD).
Tidak hanya menghasilkan volume produksi yang tinggi, kualitas produksi dari sumur tersebut juga tergolong sangat baik. Berdasarkan hasil pengujian awal, sumur PEBO#30 mencatatkan water cut 0 persen, yang berarti minyak yang diproduksikan masih sangat dominan tanpa campuran air.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas reservoir yang masih sangat produktif dan memberikan peluang besar bagi peningkatan produksi pada periode berikutnya.
Djoko menilai keberhasilan PEBO#30 dapat menjadi momentum penting bagi berbagai program pengeboran dan pengembangan sumur yang saat ini terus dijalankan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Kami berharap pemboran dan kegiatan workover selanjutnya juga mampu menghasilkan produksi yang melebihi target sehingga dapat membantu menahan laju penurunan produksi dari lapangan-lapangan besar yang secara alami terus mengalami penurunan,” katanya.
Menurut Djoko, tambahan produksi dari sumur-sumur baru merupakan salah satu strategi paling efektif untuk menjaga keberlanjutan pasokan minyak nasional. Hal ini menjadi semakin penting mengingat beberapa lapangan utama saat ini mengalami penurunan produksi alami yang mencapai puluhan ribu barel per hari.
Keberhasilan PEBO#30 juga memperlihatkan bahwa potensi migas di wilayah kerja PHR masih sangat menjanjikan. Dengan strategi pengeboran yang tepat, dukungan teknologi yang sesuai karakteristik reservoir, serta percepatan pengembangan lapangan, peluang peningkatan produksi nasional masih terbuka lebar.