INVERSI.ID – Kegiatan study tour bukan sekadar jalan-jalan. Direktur Utama PT Bhiva (TMII), Intan Kartika, menegaskan bahwa program seperti ini memiliki peran besar dalam mengembangkan kecerdasan siswa, tak hanya dari sisi akademik tetapi juga dalam membentuk karakter dan kemandirian.
“Menurut kami, anak-anak memang perlu belajar di ruang kelas, tetapi mereka juga harus diberi pengalaman belajar di luar kelas. Ini penting untuk mengajarkan mereka kemandirian dan pengendalian diri,” ujar Intan dalam acara Ngoprek yang digelar di Jakarta, Rabu (14/5).
Menurut Intan, study tour menjadi sarana pembelajaran yang efektif karena siswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga langsung melihat dan merasakan pengalaman nyata.
Ia menekankan bahwa penentuan destinasi harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Salah satu contoh ideal adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), yang dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang keberagaman budaya Indonesia tanpa harus bepergian jauh ke daerah asal budaya tersebut.
“Kalau mau belajar tentang Bali, tak perlu ke Bali. Cukup datang ke TMII dan kunjungi Anjungan Bali. Anak-anak bisa belajar tentang adat istiadat dan budaya lokal dengan cara yang menyenangkan,” jelasnya.
Belajar Budaya Langsung di TMII
Di TMII, siswa dapat mengeksplorasi berbagai anjungan daerah seperti Sumatera Barat, Kalimantan, hingga Papua. Selain itu, mereka bisa belajar keterampilan secara langsung, seperti membatik di Museum Batik, yang menyediakan fasilitas edukasi tentang sejarah dan proses pembuatan batik dari berbagai daerah.
Intan menilai bahwa belajar di luar ruang kelas seperti ini membuat siswa lebih mudah menyerap pelajaran karena mereka langsung mengalaminya.
“Kami ingin anak-anak melihat dunia yang lebih luas dan tidak hanya terbatas pada buku atau papan tulis. Mereka perlu mengalami langsung apa yang mereka pelajari,” tambahnya.
Perlu Regulasi dan Panduan yang Jelas
Menanggapi polemik terkait study tour akhir-akhir ini, Intan mengusulkan agar pemerintah bersama pemangku kepentingan lainnya merumuskan standar regulasi yang jelas, khususnya terkait aspek keselamatan, kenyamanan, biaya, dan materi edukasi.
“Kami percaya jika ada panduan atau kebijakan yang mengatur field trip, seperti standar transportasi, rasio pendamping, dan kurasi materi, maka kegiatan study tour akan lebih terarah dan tetap menyenangkan,” tegasnya.
Dengan adanya standarisasi dan regulasi, kegiatan ini tidak akan lagi dianggap sekadar liburan bebas, melainkan tetap berfokus pada tujuan edukatif yang memperkaya pengetahuan siswa.
Study tour, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi media pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan membangun karakter siswa. TMII sebagai salah satu destinasi edukatif unggulan menawarkan pengalaman belajar budaya Indonesia secara langsung dan praktis. Dengan dukungan regulasi yang jelas, kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin yang berdampak positif untuk pendidikan nasional.***