By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Akuntabilitas MBG! Guru Besar IPB Evaluasi Tata Kelola demi Cegah Kebocoran Anggaran Nasional
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Akuntabilitas MBG! Guru Besar IPB Evaluasi Tata Kelola demi Cegah Kebocoran Anggaran Nasional

MBG

Akuntabilitas MBG! Guru Besar IPB Evaluasi Tata Kelola demi Cegah Kebocoran Anggaran Nasional

Adrian
By
Adrian
2 months ago
Share
7 Min Read
Foto : Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber : bgn.go.id)
Foto : Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) (Sumber : bgn.go.id)
SHARE

Inversi Implementasi Kebijakan Strategis Nasional berupa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diorkestrasi oleh Badan Gizi Nasional di bawah payung Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025 kini memasuki fase krusial.

Contents
Analisis Inklusi Fiskal: Menyoroti Ketimpangan Distribusi ManfaatCelah Regulasi Perpres 115/2025 dan Risiko Moral HazardUrgensi Reformasi Model Tata Kelola: Menuju Desentralisasi Berbasis KomunitasTransparansi Kemitraan dan Digitalisasi Pelaporan

Kendati dirancang sebagai instrumen akselerasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menuju visi Indonesia Emas 2045, efisiensi program ini di tingkat lapangan dinilai masih menghadapi tantangan sistematik yang cukup fundamental.

Jika tidak segera diiringi dengan reformasi tata kelola (governance) yang ketat, program ini dikhawatirkan akan memicu beban fiskal yang besar tanpa menghasilkan nilai kemanfaatan yang optimal (value for money).

Kritik solutif tersebut dipaparkan secara komprehensif oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof. Bambang Juanda.

Dalam agenda akademis Strategic Discussion Series 1 bertajuk “Tata Kelola Makan Bergizi Gratis Agar Kebijakan Fiskal Optimal” yang diselenggarakan oleh FEM IPB University di Bogor, ia menegaskan bahwa indikator keberhasilan program MBG tidak boleh hanya bersandar pada parameter kecepatan perluasan cakupan wilayah (scaling-up) atau besarnya nominal realisasi penyerapan anggaran semata.

“Program MBG ini memiliki peran yang sangat strategis dalam memperkuat fondasi makroekonomi guna menopang target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Namun, prasyarat mutlak yang tidak boleh diabaikan adalah penegakan tata kelola yang tepat, transparan, dan akuntabel.”

“Tanpa adanya perbaikan tata kelola yang radikal, program ini berisiko menjadi skema belanja negara yang tidak efisien,” urai Prof. Bambang Juanda di hadapan para akademisi dan pembuat kebijakan.

Analisis Inklusi Fiskal: Menyoroti Ketimpangan Distribusi Manfaat

Berdasarkan hasil analisis data empiris yang dipaparkan dalam diskusi strategis tersebut, Prof. Bambang menyoroti adanya anomali serius terkait ketepatan sasaran (targeting accuracy) distribusi manfaat dari anggaran MBG.

Data menunjukkan terjadinya erosi keadilan sosial di mana kelompok masyarakat kelas sosio-ekonomi atas justru menyerap porsi anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat miskin yang menjadi target prioritas intervensi gizi.

Baca Juga :

Prabowo Subianto Perkuat Kepastian Hukum Investasi Proyek Hilirisasi Nasional
Profil dan Biodata Kartika Dewi, Adik Ipar Harvey Moeis Disebut Mirip Artis Korea
Klaster Demografi dan EkonomiPersentase Penyerapan Manfaat Anggaran MBG
Kelompok Masyarakat Kelas Atas62,9%
Kelompok Masyarakat Kelas Bawah10,2%
Desil Terkaya (Masyarakat Sangat Mampu)46,5%
Desil Termiskin (Masyarakat Sangat Membutuhkan)1,1%

Ketimpangan alokasi fiskal ini diperparah oleh adanya konsentrasi geografis (geographical bias) yang sangat timpang. Berdasarkan sebaran data wilayah, implementasi program MBG sejauh ini masih didominasi dan berpusat di Pulau Jawa dengan persentase mencapai 58,9 persen.

Dari total serapan tersebut, wilayah perkotaan (urban area) mendominasi sebesar 80,4 persen, sedangkan wilayah perdesaan (rural area) hanya mendapatkan porsi marginal sebesar 19,6 persen. Kondisi ini menunjukkan belum berjalannya asas pemerataan pembangunan yang berkeadilan antardaerah di Indonesia.

Celah Regulasi Perpres 115/2025 dan Risiko Moral Hazard

Selain problem salah sasaran (exclusion and inclusion errors), Prof. Bambang Juanda juga mengidentifikasi adanya celah hukum (loophole) di dalam Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025.

Ketiadaan klausul pengawasan yang rigid dan berlapis di dalam regulasi tersebut berpotensi memicu berbagai ekses negatif di tingkat operasional, mulai dari ancaman kelalaian higienitas yang menyebabkan kasus keracunan makanan publik, hingga lemahnya sistem pengawasan logistik.

Ia memperingatkan pemerintah bahwa ambisi percepatan implementasi program tanpa disertai pembangunan instrumen pengawasan yang kuat akan membuka peluang terjadinya praktik perburuan rente (rent-seeking behavior), penggelembungan nilai belanja (mark-up), serta inefisiensi pengadaan barang yang bermutu rendah.

“Percepatan eksekusi program di lapangan tanpa dilengkapi dengan pagar akuntabilitas yang kokoh dan instrumen audit yang jelas hanya akan membuka ruang bagi terjadinya kebocoran anggaran negara. Pemerintah harus memastikan adanya kepatuhan terhadap standar mutu hukum sebelum melakukan perluasan program secara masif,” tegasnya.

Urgensi Reformasi Model Tata Kelola: Menuju Desentralisasi Berbasis Komunitas

Guna mengatasi kelemahan model operasional saat ini yang dinilai terlalu tersentralisasi (top-down approaching), Prof. Bambang menawarkan sebuah alternatif solutif berupa Model Tata Kelola Berbasis Sekolah dan Komunitas.

Pendekatan desentralisasi ini bertujuan untuk mendekatkan unit produksi makanan (delivery system) langsung ke lingkaran penerima manfaat terkecil. Melalui model kemitraan ini, fungsi operasional dan pengawasan harian didelegasikan secara aktif kepada ekosistem lokal yang terdiri dari:

  • Pihak Institusi Pendidikan: Sekolah dan Komite Sekolah bertindak sebagai pengawas mutu harian.
  • Masyarakat Domestik: Orang tua murid dilibatkan dalam memantau higienitas sanitasi penyajian.
  • Pemerintah Daerah dan UMKM: Pelaku usaha mikro, koperasi, petani lokal, dan nelayan diintegrasikan sebagai penyuplai utama bahan baku pangan mentah.

Dalam arsitektur model ini, pemerintah pusat tidak lagi bertindak sebagai operator teknis yang kaku, melainkan bertransformasi menjadi regulator makro yang fokus pada penetapan standar gizi nasional, formulasi regulasi keselamatan pangan, serta penegakan mekanisme audit keuangan independen.

Langkah ini diyakini mampu memicu efek multiplikatif (multiplier effect) yang signifikan bagi penguatan ekonomi kerakyatan di daerah.

Transparansi Kemitraan dan Digitalisasi Pelaporan

Lebih lanjut, IPB University merekomendasikan dilakukannya pengetatan prasyarat dalam proses seleksi mitra penyedia layanan gizi (catering vendor).

Pemilihan mitra strategis wajib didasarkan pada rekam jejak (track record) profesional, kepemilikan sertifikasi keamanan pangan, serta kapasitas logistik yang mumpuni. Proses seleksi tersebut harus dibuka secara transparan kepada publik guna meminimalisasi praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Sebagai instrumen pendukung akuntabilitas modern, pemanfaatan ekosistem pelaporan berbasis teknologi digital (digital-based reporting system) yang terintegrasi menjadi hal yang bersifat wajib.

Sistem aplikasi digital ini harus dapat diakses secara inklusif oleh komite sekolah, komunitas orang tua, dan masyarakat luas untuk melaporkan setiap deviasi kualitas hidangan, keterlambatan distribusi, maupun indikasi penyimpangan anggaran secara real-time.

Dengan implementasi pembaruan tata kelola yang komprehensif ini, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan dapat bertransformasi menjadi kebijakan perlindungan sosial yang bersih, berkeadilan, memiliki daya ungkit ekonomi lokal yang tinggi, serta mampu melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat dan cerdas secara berkelanjutan.

You Might Also Like

Audiensi Mahasiswa di DPR, Dasco Sambungkan Langsung Aspirasi ke Bahlil dan Kepala BGN
Tolak Penunggangan Politik, BEM Bersatu Ungkap Dugaan Aktor di Balik Aksi Anti-MBG
Fokus pada Ibu Hamil dan Balita, BGN Pangkas 8 Juta Penerima Makan Bergizi Gratis
BGN Siapkan Evaluasi Besar-besaran MBG, Insentif Dapur Akan Dirombak
BGN Larang Pegawainya Miliki Dapur MBG, Agustina: Hindari Konflik Kepentingan
TAGGED:Anggaran NasionalEvaluasiGuru BesarGuru Besar IPBIPBKebocoranMBG
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Foto : Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan Silma 2 di Kabupaten Bogor (Sumber : bgn.go.id) Layanan Gizi Nasional! Sosio-Ekonomi & Antusiasme Publik di SPPG Jogjogan Silma 2
Next Article Foto : Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) (Sumber : bgn.go.id) APPMBGI Nilai Dapur Produksi Gizi Unhas sebagai Model Ideal Nasional
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiMBG

Baru Sepekan Bicara Bongkar Gurita MBG, Orang Kepercayaan Sony Langsung Jadi Tersangka

2 weeks ago
EkonomiTerkini

Fakta Mengejutkan! MBG Hidupkan UMKM, Tapi Dirusak Korupsi Pejabat

2 weeks ago
Foto : Kepala BGN, Nanik S. Deyang (Sumber : https://bgn.go.id/)
MBG

BGN Tegaskan Isu Penghentian MBG Adalah Hoaks!

3 weeks ago
Foto : Yuli, guru di kelas 6 sekolah dasar (Sumber : https://bgn.go.id/)
MBG

Sinergi SD Pangudi Luhur Kalirejo Pasok MBG

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index