By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Alasan Generasi Z dan Milenial Hobi Mengoleksi Mainan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Alasan Generasi Z dan Milenial Hobi Mengoleksi Mainan

LifeStyle

Alasan Generasi Z dan Milenial Hobi Mengoleksi Mainan

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena kidult kini menjadi salah satu tren budaya yang menarik perhatian generasi muda, terutama milenial dan Gen Z. Fenomena ini menggambarkan orang dewasa yang menikmati hal-hal berbau masa kecil—dari mainan, boneka, kartun, hingga aktivitas nostalgia lainnya. Fenomena kidult muncul sebagai respons terhadap tekanan kehidupan dewasa, seperti pekerjaan menumpuk, tagihan yang tak ada habisnya, dan tanggung jawab yang datang silih berganti. Generasi muda kini menyadari bahwa, di balik kebebasan memilih hidup sebagai orang dewasa, ada rasa rindu terhadap masa kecil yang lebih sederhana.

Contents
Pasar Mainan Dewasa dan Kebangkitan NostalgiaAdult Money dan Ekspresi Diri Melalui Masa Kecil

Banyak orang dewasa sekarang justru sengaja mencari hiburan atau kesenangan dari masa lalu mereka. Fenomena kidult terlihat jelas dalam perilaku konsumen yang mengantre untuk membeli merchandise kolaborasi karakter populer, bahkan ketika mereka bukan target utama produk tersebut. Tas selempang dengan gantungan Labubu atau koleksi Harry Potter di Miniso kerap diborong oleh orang dewasa berusia 20 hingga 40 tahun. Fenomena kidult ini bukan sekadar tren sementara, tetapi menunjukkan pergeseran budaya di kalangan generasi dewasa muda yang ingin mempertahankan sebagian dari dunia anak-anak dalam kehidupan mereka.

Sejarah fenomena kidult sendiri sudah ada sejak lama. Istilah ini pertama kali muncul pada 1985 melalui artikel majalah Time, yang membahas dua hal: anak-anak yang bersikap dewasa dan orang dewasa yang kekanak-kanakan. Yang bertahan hingga kini adalah makna kedua. Fenomena kidult modern semakin diperkuat oleh media sosial, di mana tagar seperti #kidultlife dan #adultmoney menjadi tempat berbagi kesenangan kecil yang dulu dianggap milik anak-anak saja.


Pasar Mainan Dewasa dan Kebangkitan Nostalgia

Menurut perusahaan riset pasar Circana, orang dewasa berusia 18 tahun ke atas kini menjadi kelompok konsumen mainan dengan pertumbuhan tercepat. Dalam dua tahun terakhir, penjualan untuk segmen dewasa naik 5,5%, mengalahkan penjualan mainan anak-anak yang justru menurun sejak 2021. Fenomena kidult ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi industri mainan, di mana orang dewasa kini dianggap sebagai pasar utama, bukan lagi sekadar pembeli sekunder.

Ada beberapa faktor yang mendorong tren kidult. Pertama, nostalgia—rasa rindu terhadap masa kecil dan kenangan manis. Kedua, fandom—kecintaan terhadap karakter atau franchise tertentu. Ketiga, kebutuhan akan pelarian dari stres sehari-hari. Brand besar seperti LEGO, Mattel, Pokemon, hingga Marvel menyadari potensi ini dan gencar merilis koleksi eksklusif, merchandise edisi terbatas, serta kolaborasi dengan film atau serial populer. Fenomena kidult tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi langsung menggaet audiens dewasa.

Pandemi COVID-19 semakin mempercepat tren kidult. Dalam wawancara dengan BBC, Melissa Symonds dari Circana menjelaskan bahwa ketika dunia terhenti, orang dewasa mencari hiburan sederhana di rumah, seperti menyusun puzzle, bermain board game, atau membeli kembali boneka masa kecil. Aktivitas ini memberi kenyamanan psikologis dan menjadi terapi emosional bagi banyak orang. Fenomena kidult ini pun bertahan bahkan setelah pandemi berakhir, menunjukkan bahwa keinginan untuk kembali ke masa kecil tidak sekadar mode sesaat.


Adult Money dan Ekspresi Diri Melalui Masa Kecil

Fenomena kidult juga terkait erat dengan konsep “adult money”—kebebasan finansial orang dewasa untuk membeli hal-hal yang dulu tak terjangkau saat mereka kecil. Alih-alih membeli mobil mewah atau gadget terbaru, banyak orang memilih menghabiskan uang untuk mainan, figur koleksi, atau bantal karakter kesayangan. Pengeluaran ini bukan sekadar transaksi, tetapi bentuk pemenuhan emosi dan pencarian kenyamanan dalam kehidupan dewasa yang penuh tekanan.

Dunia mode pun tidak ketinggalan memanfaatkan fenomena kidult. Koleksi bertema karakter, seperti Disney atau Hello Kitty, kini muncul di runway internasional. Desainer seperti Kanika Goyal menghadirkan elemen kartun dalam busana mereka, menjembatani dunia anak-anak dan orang dewasa melalui estetika baru. Bahkan boneka kini tidak hanya menghiasi kamar anak-anak, tetapi juga panggung peragaan busana dan kursi kerja di kantor kreatif.

Selain itu, ruang sosial kidult pun berkembang pesat. Kafe bertema permainan papan, toko koleksi karakter, hingga komunitas pecinta anime kini menjadi tempat orang dewasa bersantai. Aktivitas seperti bermain Uno, Monopoli, atau Tamiya tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun koneksi sosial dan menghadirkan tawa di tengah rutinitas yang menegangkan. Fenomena kidult ini menegaskan bahwa nostalgia dapat menjadi cara dewasa muda menyeimbangkan hidup, bukan sekadar melarikan diri dari realita.

Baca Juga :

6 Larangan Jemaah Haji Selama Melaksanakan Ibadah di Tanah Suci, Termasuk Buat Video
Komisi VII DPR RI Harap Pemerintah Bersikap Tegas Dalam Divestasi Vale

Pada akhirnya, kidulting bukan menolak menjadi dewasa, tetapi menemukan kembali kegembiraan sederhana yang dahulu dimiliki saat kecil. Menjadi dewasa bukan berarti harus melepaskan semua kenangan dan kebahagiaan masa kecil. Fenomena kidult menunjukkan bahwa memeluk boneka, mengoleksi figur, atau sekadar menonton kartun bisa menjadi bentuk terapi emosional yang sah. Dengan demikian, dewasa dan anak-anak dalam diri seseorang bisa hidup berdampingan, menciptakan keseimbangan antara tanggung jawab dan kebahagiaan sederhana.

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:Hobimainan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Tren Fashion Generasi Z, Tampil Keren Tanpa Harus Mahal
Next Article Tidur Siang dan Kreativitas: Rahasia Ide Brilian Para Jenius
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index