INVERSI.ID – Fenomena baru tengah berkembang di kalangan anak muda China, mereka memilih untuk “pensiun dini” dari dunia kerja. Bukan karena usia, tapi karena tekanan mental dan kejenuhan akan rutinitas kerja yang melelahkan. Istilah ini merujuk pada keputusan sebagian anak muda untuk meninggalkan pekerjaan mereka demi beristirahat dan menyegarkan kembali kondisi mental.
Salah satu sosok yang menjadi bagian dari tren ini adalah Wang Dong, pria berusia 29 tahun. Ia memutuskan hengkang dari pekerjaannya di industri perhotelan dan kini tinggal di sebuah wisma di kawasan pedesaan Dali, Provinsi Yunnan. Di sana, ia menghabiskan hari-harinya dengan kegiatan menenangkan seperti berlatih membuat teh tradisional, mengunjungi kuil, atau sekadar berjalan santai bersama teman-teman barunya.
“Setiap orang punya dinamika hidup masing-masing. Bagi saya, penting untuk menikmati momen yang sedang dijalani,” ujar Wang, dikutip dari The Straits Times.
“Pengalaman yang saya dapatkan saat ini tidak bisa diukur dengan materi,” tambahnya.
Panti Jompo untuk Anak Muda Jadi Tren Baru
Fenomena ini turut memunculkan tren unik lain, munculnya “panti jompo” khusus anak muda. Berbeda dari istilah yang biasa dikaitkan dengan lansia, panti jompo ini justru dirancang sebagai tempat istirahat sejenak dari hiruk-pikuk kota dan tekanan pekerjaan. Lokasinya umumnya berada di kota kecil atau pedesaan yang tenang.
Panti jompo modern ini menawarkan pengalaman relaksasi selama beberapa minggu hingga bulan. Para pengunjung, yang umumnya berusia 20-an hingga awal 30-an, diajak terlibat dalam kegiatan bersama seperti berkemah, memasak, hingga diskusi santai yang memperkaya wawasan.
“Saya hanya menerima orang-orang yang menyenangkan dan terbuka untuk berdiskusi, supaya interaksi di sini tetap hidup dan berkesan,” kata Yan Bingyi, pendiri salah satu panti jompo di Dali.
Ia yang kini berusia 37 tahun juga sering memasak untuk para tamu dan mengatur kegiatan kelompok secara rutin.
Jawaban atas Kelelahan Kolektif Anak Muda
Di balik tren ini, tersimpan pesan yang lebih dalam, kelelahan mental menjadi masalah nyata bagi generasi muda China. Tekanan dari budaya kerja yang kompetitif, minimnya waktu istirahat, hingga pengaruh ekonomi pasca pandemi yang menyebabkan tingkat pengangguran pemuda perkotaan menyentuh angka lebih dari 15%, turut mendorong tren ini berkembang.
Yan mengungkapkan, tempat seperti panti jompo ini seharusnya bukan dianggap sebagai lambang kemalasan. Justru, ia percaya bahwa ruang jeda ini membantu anak muda untuk pulih dan kembali menghadapi tantangan hidup dengan perspektif yang lebih sehat.
“Saya berharap, setelah menghabiskan waktu di sini, mereka bisa kembali ke rutinitas hidup dengan kondisi mental yang lebih stabil, tanpa harus tertekan oleh tuntutan kota,” jelas Yan.
Fenomena ini memberi sinyal bahwa generasi muda mulai mengubah cara pandang terhadap hidup dan karier. Mereka tak lagi sekadar mengejar jabatan atau gaji tinggi, melainkan juga memprioritaskan keseimbangan hidup dan kesehatan mental.***