By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Anak Muda Terjerat Pinjol Akibat Gaya Hidup Konsumtif, Ini Peringatan Para Ahli
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Anak Muda Terjerat Pinjol Akibat Gaya Hidup Konsumtif, Ini Peringatan Para Ahli

LifeStyle

Anak Muda Terjerat Pinjol Akibat Gaya Hidup Konsumtif, Ini Peringatan Para Ahli

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
4 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena banyaknya anak muda yang terjerat pinjaman online (pinjol) dinilai lebih disebabkan oleh gaya hidup konsumtif daripada kebutuhan mendesak. Hal ini diungkapkan ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Rachma Gafmi, dalam dialog pagi Pro1 RRI Surabaya, Rabu (2/7).

Contents
Pentingnya Literasi Keuangan Sejak DiniOJK Sudah Punya Aturan, Tapi Butuh KesadaranData: Anak Muda Mendominasi Pinjol dan Kredit Macet

Menurut Prof. Rachma, kemudahan akses layanan pinjol kerap dimanfaatkan generasi muda untuk memenuhi gaya hidup seperti belanja daring, nongkrong, hingga liburan, tanpa memperhitungkan kemampuan membayar.

“Mereka belum punya kesadaran finansial yang cukup. Akhirnya, pinjaman dijadikan solusi instan yang justru menjerat. Gaya hidup hedonis yang mereka anut menuntut pemenuhan keinginan sesaat, padahal ini merugikan,” jelasnya.

Pentingnya Literasi Keuangan Sejak Dini

Prof. Rachma menekankan, literasi keuangan menjadi kunci utama untuk mengatasi persoalan ini. Pemahaman yang baik soal keuangan akan membantu generasi muda mengenali risiko dan konsekuensi jangka panjang dari utang, terutama pinjol yang umumnya berbunga tinggi.

“Pendidikan finansial harus dimulai sejak dini, tidak hanya di sekolah tetapi juga di keluarga. Peran orang tua besar dalam menanamkan pola pikir keuangan yang sehat,” tegasnya.

Ia menyebut, pendidikan finansial sederhana bisa dimulai dengan mengajarkan cara menabung, membuat prioritas kebutuhan, hingga mengenalkan risiko utang sejak anak masih usia sekolah. Menurutnya, banyak keluarga masih enggan membicarakan soal keuangan dengan anak-anak, sehingga mereka tumbuh dengan minim pemahaman.

Selain itu, ia juga mendorong adanya pembatasan usia dalam akses layanan pinjol. Menurutnya, aturan seperti usia minimal 21 tahun atau syarat memiliki penghasilan tetap penting diterapkan agar anak muda tidak terjebak.

“Kita tidak anti teknologi finansial. Tapi penting memastikan penggunaannya bijak, terutama oleh generasi muda yang sedang dalam masa pembentukan karakter,” tambahnya.


OJK Sudah Punya Aturan, Tapi Butuh Kesadaran

Anak Muda

Senada dengan Prof. Rachma, anggota Komisi XI DPR RI Prof. Eric Hermawan mengatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejauh ini sudah memiliki aturan pembatasan usia bagi peminjam pinjol.

Baca Juga :

Komisi III DPR Setuju Calvin Verdonk dan Jens Raves jadi Pemain Timnas Indonesia
Tiga Kunci Pengasuhan Bermakna: Melihat, Mendengar, dan Mencintai Anak dengan Sepenuh Hati

“Aturannya sudah ada. Namun tetap perlu kehati-hatian dalam praktiknya, terutama oleh anak muda,” ujarnya.

Prof. Eric mencontohkan, layanan pinjol memang bermanfaat jika digunakan untuk kebutuhan penting seperti pendidikan atau modal usaha. Bahkan, beberapa kampus kini mengizinkan mahasiswa menggunakan pinjol untuk biaya kuliah.

“Tapi harus jelas dan benar tujuannya. Kalau tidak mampu memenuhi kewajiban membayar, lebih baik tidak usah mengakses pinjol,” tegasnya.

Ia menambahkan, regulasi OJK sudah cukup jelas dan harus dipatuhi. Hal itu juga yang harus selalu diingat oleh anak muda agar tidak terjebak pinjol.

“Generasi muda diharapkan lebih bijak dan tidak memaksakan diri demi kebutuhan yang tidak mendesak,” katanya.

Prof. Eric juga mengingatkan, pinjol sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai dana darurat atau modal produktif, bukan untuk memenuhi keinginan yang bersifat konsumtif. Ia menyarankan generasi muda lebih mengutamakan menabung atau mencari alternatif pembiayaan yang lebih ringan.

Data: Anak Muda Mendominasi Pinjol dan Kredit Macet

Data OJK hingga Juli 2023 mencatat, kelompok usia 19–34 tahun menjadi peminjam terbesar pinjol dengan nilai Rp26,9 triliun atau 57 persen dari total pinjaman nasional. Ironisnya, kelompok ini juga mencatat kredit macet tertinggi, mencapai Rp763,7 miliar atau 44,14 persen dari total tunggakan pinjol nasional.

Fakta ini menunjukkan, generasi muda sangat rentan terhadap penyalahgunaan layanan keuangan digital. Karena itu, Prof. Rachma dan Prof. Eric sepakat bahwa kombinasi literasi keuangan, regulasi, dan kedewasaan dalam bersikap penting untuk melindungi generasi muda dari jerat pinjol.

Pakar juga mengingatkan bahwa kebiasaan berutang sejak muda berisiko menciptakan pola hidup yang tidak sehat secara finansial di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk belajar mengelola uang secara bijak, membuat anggaran, dan selalu mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum berutang.***

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:Anak MudaGaya hidupPinjaman OnlinePinjolPinjol Anak Muda
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Dunia Kerja Berubah, Jurusan Kuliah Apa yang Paling Dicari Anak Muda Saat Ini?
Next Article HPV Jadi Ancaman Kesehatan Anak Muda, Kenali Risiko dan Cara Mencegahnya
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index