Inversi Upaya penurunan angka stunting di Provinsi Papua Selatan menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan dari sebelumnya sekitar 30 persen menjadi 21 persen.
Capaian ini menjadi indikator penting bahwa berbagai program intervensi yang dilakukan pemerintah bersama pemangku kepentingan berjalan secara efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Penurunan angka stunting ini tidak terlepas dari peran aktif berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat, khususnya para orang tua. Kesadaran masyarakat untuk memantau tumbuh kembang anak melalui layanan kesehatan seperti posyandu dinilai semakin meningkat.
Partisipasi aktif orang tua dalam membawa anak untuk ditimbang dan diperiksa secara berkala menjadi salah satu kunci utama dalam mendeteksi serta mencegah stunting sejak dini. Kepala Dinas Kesehatan Papua Selatan, dr. Herlina, menjelaskan bahwa berbagai intervensi telah dilakukan secara maksimal di empat kabupaten yang berada dalam cakupan wilayah Papua Selatan.
Intervensi tersebut meliputi intervensi spesifik di bidang kesehatan, seperti pemenuhan gizi ibu dan anak, serta intervensi sensitif yang melibatkan lintas sektor, termasuk pendidikan, sanitasi, dan kesejahteraan sosial.
Menurut dr. Herlina, tren penurunan angka stunting ini juga didukung oleh meningkatnya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan layanan kesehatan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara parsial atau hanya pada satu tahap kehidupan anak saja.
Upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan, dimulai sejak masa pranikah, kehamilan, persalinan, hingga anak berusia dua tahun.
“Penanganan stunting harus dimulai sejak sebelum menikah, kemudian selama masa kehamilan, saat persalinan, hingga anak berusia dua tahun. Pada periode tersebut, pemenuhan gizi dan pemantauan kesehatan menjadi sangat krusial,” ujar dr. Herlina di Merauke, 4 Maret 2026.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya percepatan penurunan stunting. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk instansi pusat, lembaga terkait, serta masyarakat secara luas.
Sinergi yang baik antar-sektor diyakini mampu memperkuat efektivitas program dan mempercepat pencapaian target penurunan stunting. Salah satu program yang dinilai memberikan kontribusi positif adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Program ini bertujuan untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang, khususnya bagi mereka yang berada di lingkungan sekolah.
Menurut dr. Herlina, kehadiran program MBG menjadi peluang besar dalam mendukung upaya pemenuhan gizi anak. Ia menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut yang dinilai mampu membantu meningkatkan kualitas konsumsi makanan anak-anak, terutama di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses pangan bergizi.
“Kami sangat berterima kasih atas adanya program Makan Bergizi Gratis di sekolah-sekolah. Program ini sangat membantu dalam memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka,” ungkapnya.
Saat ini, pelaksanaan program MBG di Papua Selatan terus berjalan secara bertahap. Meskipun belum seluruh sekolah mendapatkan layanan tersebut, pemerintah memastikan bahwa proses perluasan cakupan program terus dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar seluruh wilayah, termasuk daerah terpencil, dapat merasakan manfaat dari program tersebut.
Selain memberikan manfaat langsung bagi kesehatan anak, program MBG juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat dan bergizi. Edukasi mengenai gizi seimbang menjadi bagian penting dalam upaya jangka panjang untuk mencegah stunting serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus mengintensifkan berbagai program pendukung lainnya, seperti penyuluhan kesehatan, pemberian suplemen gizi, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta perbaikan sanitasi lingkungan. Seluruh upaya ini dilakukan secara terintegrasi untuk memastikan penanganan stunting dapat berjalan secara komprehensif.
Keberhasilan menurunkan angka stunting di Papua Selatan menjadi bukti bahwa dengan komitmen yang kuat, kolaborasi yang solid, serta partisipasi aktif masyarakat, tantangan kesehatan masyarakat dapat diatasi secara bertahap. Capaian ini diharapkan dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.
Pemerintah optimistis bahwa dengan keberlanjutan program-program yang telah berjalan, termasuk MBG, angka stunting di Papua Selatan akan terus menurun. Harapannya, generasi mendatang dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, cerdas, dan produktif, sehingga mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.
Dengan demikian, upaya penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Melalui kerja sama yang erat dan berkesinambungan, visi untuk mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas dapat tercapai.